January 17, 2008
Bisnis perangkat lunak dunia
Selama tujuh tahun terakhir kita menyaksikan bagaimana dunia bisnis dan dunia akademis telah bersama-sama menciptakan keteraturan dan sistem yang mengarah menjadi satu dengan munculnya Internet. Booming perkembangan teknologi perangkat lunak mendorong lahirnya generasi baru.
Sistem informasi yang inovatif telah bermunculan dan bermuara pada lautan informasi yang bisa diakses oleh siapa saja dengan cuma-cuma. Generasi ini adalah generasi yang bisa melihat nilai ekonomi dan nilai tambah yang dibuat untuk mengubah sistem manual menjadi dibantu oleh teknologi informasi yang semakin murah, efisien dan terhubung satu sama lain, sehingga batas batas jarak, waktu dan perbedaan tidak terlihat lagi, begitu tujuan adalah sama.
Itulah yang terjadi di India. Banyak yang skeptis bahwa India hanyalah tempat yang kaya dengan otak cemerlang yang bertugas mendukung industri software mapan dari negara maju, tetapi bukan memunculkan ide-ide baru. Di lain pihak benih-benih inovasi dan kewirausahaan juga muncul di sana.
Usaha ini bermula di Bangalore diakhir periode 70-an ketika, R. K. Baliga, Direktur Perusahaan Pengembangan Elektronika negara bagian Karnataka dengan sungguh-sungguh mengusahakan lahan murah tempat pengembangan industri teknologi informasi dan mengumpulkan ribuan sumber daya manusia yang cemerlang untuk menjadi bagian dari Software Technology Park yang disebut dengan electronic city, Bangalore.
Usahanya kini terlihat hasilnya dengan 335 hektare lahan menjadi satu tempat dimana lebih dari 250 perusahaan elektronika dan informasi multinasional dan lokal berproduksi, seperti Tata consulting group, Infosys, HCL, dan Wipro.
Waktu terus berjalan, teknologi Web 2.0 telah menjadikan hubungan dan layanan antara aplikasi semakin mudah, dan Internet muncul menjadi jaringan untuk membentuk sinergi dan kohesi, sekaligus sarana bagi terbentuknya perdagangan tanpa tapal batas.
Industri-industri teknologi informasi dan komunikasi kini tersebar diseluruh dunia. Dalam lima tahun terakhir peta pusat kekuatan teknologi informasi dan komunikasi dunia kini berpusat di Redmond- USA, Silicon Valley California - USA, Shenzen -China, dan Bangalore- India.
Airport yang sangat semrawut, lalulintas macet karena pembangunan kereta bawah tanah, jalan yang ribut penuh suara klakson, Bajaj sebagai kendaraan utama di dalam kota Bangalore, bukanlah cermin dari perubahan yang sedang terjadi di pinggiran kota Bangalore yang terbagi menjadi 2 kluster utama: Electronics City dan Whitefield (hasil ventura India-Singapura tahun 1991).
Tahun depan ketika jalan tol dari Bangalore selesai, airport baru yang cemerlang dan bersih mulai beroperasi, standar gaji India semakin meningkat, maka keteraturan akan semakin tercipta.
Sangat mengagumkan untuk melihat etos kerja, fasilitas, dan kemampuan untuk terus maju dari generasi muda di India. Seperti juga di China dan pekerja TI di negara lainnya, sebagian besar pekerja berusia antara 20-38 tahun. Fasilitas yang baik, baru dan futuristik, yang mungkin lebih baik dari pada fasilitas di Microsoft Research di Redmond, membuat para pekerja betah untuk berkarya, dan terkoneksi dengan seluruh dunia dengan sambungan Internet berkecepatan tinggi.
Dari seluruh dunia, jarak kita sekarang hanyalah maksimum 200 milidetik yang merupakan delay di Internet karena jarak.
Dari pusat konferensi E-Science Desember lalu yang membicarakan tentang kontribusi para ilmuwan komputasi grid dan aplikasinya di sebuah hotel di tengah kota Bangalore yang merupakan perpaduan India tradisional dan modern, suasana kerja sama internasional sangat terasa.
Para peneliti yang sudah banyak kenal satu sama lainnya, karena beberapa kali bertemu dalam konferensi yang diadakan di berbagai sudut dunia, sangat terasa suasana saling berbagi, saling menghormati, karena kontribusi pada ilmu pengetahuan dan pada masalah-masalah dunia yang membutuhkan solusi komputasi konkret.
E-Science, grid 2.0, dan web 2.0 dan berbagai jargon terbaru para ilmuwan komputer akan semata-mata bermanfaat jika umat manusia menjadi satu untuk menyadari bahwa kita sebumi bersama mengalami kenaikan temperatur bumi, perubahan iklim, komposisi atmosfer dan melelehnya es di kutub. Produktivitas, kinerja, konstruksi aplikasi, ketersediaan, biaya dan keamanan, adalah hal-hal penting yang perlu disediakan oleh teknologi informasi.
Visi berdirinya inisiatif komputasi grid pada awalnya adalah menyediakan grid sebagai layanan utilitas kelima bagi manusia dalam penyediaan sumber daya komputasi, setelah listrik, air, telepon, dan gas. Sumber daya komputasi, peralatan, bandwidth, diharapkan tersedia kapan saja ketika dibutuhkan yang bermuara pada percepatan transformasi masyarakat dan pembangunan masyarakat dunia.
Saatnya bangun
Sebuah inisiatif teknologi dapat dikatakan berhasil jika heroisme para ilmuwan untuk menghasilkan infrastruktur komputasi yang heroik dapat berganti dengan ilmuwan biasa yang mengerjakan tugasnya pada infrastruktur yang biasa, tetapi dapat memecahkan berbagai masalah umat manusia.
Jyotirmay Bishnu, seorang pegawai perusahaan software nomor 3 di India, Wipro, yang membawa saya berkeliling kampus Wipro di Electronic City, mengingatkan saya pada generasi muda Indonesia yang juga punya semangat dan punya harapan besar pada dunia yang semakin datar ini.
Kalau populasi kini bukan lagi beban, tetapi adalah kekuatan, kita seharusnya optimistis untuk bangun dan menjadi kekuatan besar keempat, setelah China, India, dan Amerika Serikat.
Tapal batas negara kini tidak ada lagi. Bandung dan Bundong di Korea (rumahnya Samsung Electronics) hanyalah nama, Bangalore dan Depok hanya terpisah oleh antusiasme dan etos kerja. Bekerja jarak jauh di tepi pantai Senggigi di Lombok yang indah tidak seberapa berbeda dengan duduk di kampus Microsoft di Redmond Seattle.
Dari mimpi, dari hari ke hari kita bergerak mengikuti perubahan dunia dan menyiapkan strategi untuk ikut berbagi, menjadi sejahtera dan menjadi bagian terhormat dari umat manusia.
Mungkin belum terlambat untuk menyusun balok-balok untuk membentuk Technopark Indonesia yang sudah lama diimpikan berisi generasi muda produktif dan optimistis yang menjadi warga dunia. Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional sudah memasukkannya dalam agenda, tetapi prioritas pelaksanaannya masih memerlukan kesepakatan bersama.
Usaha bersama yang tidak kenal lelah dengan semangat baru setiap kita membuka lembaran baru di setiap pagi, akan mengantarkan kita pada pencapaian visi untuk menjadi bangsa yang produktif dan bermartabat.
Oleh Riri Fitri Sari
Dosen di Departemen Elektro FTUI
Sumber: Bisnis Indonesia
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!










Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.