Amazon.com Widgets

March 27, 2008

Amnesia Kredit Perbankan

Oleh Agus Suman

Domain bisnis memang "bermain dengan risiko". Hal ini kembali dimainkan oleh dunia perbankan kita setelah kondisi perbankan tahun kemarin (2007) begitu bugar. Salah satu indikatornya adalah tumbuhnya kredit dengan tingkat pertumbuhan yang cukup menggembirakan.

Awal tahun ini, kucuran kredit lebih berpihak kepada korporasi. Bank-bank semakin getol mengguyurkan kredit kepada pihak korporasi. Tentu saja, itu sebuah kewajaran belaka jika jurang dalam berupa kredit macet tidak berada pada sektor ini.

Kinerja Kredit Perbankan

Jika dilihat dari tingkat pertumbuhannya, sejak 2002 kredit perbankan menunjukkan kecenderungan yang semakin baik. Saat itu kredit perbankan mencapai Rp 371,058 triliun. Lalu pada 2003, jumlah kredit yang berhasil diluncurkan mencapai Rp 440,505 triliun atau tumbuh 18,72 persen.

Lantas, pada 2004 dan 2005, keran kredit semakin deras, yakni berturut-turut mencapai Rp 559,468 triliun dan Rp 695,649 triliun. Dan pada 2006 terus melesat hingga mencapai Rp 792,298 triliun. Bahkan tahun lalu, 2007, kucuran kredit perbankan meroket sehingga mencapai Rp 1.002,01 triliun.

Tetapi jika dilacak lebih jauh, lahan yang dibasahi dengan kredit perbankan itu menunjukkan indikasi yang tidak terlalu menggembirakan. Sebab, peningkatan kredit tersebut hanya dinikmati sektor tertentu. Dalam hal ini, sektor industri menikmati kredit yang cukup tinggi, lalu disusul sektor komunikasi dan perdagangan, sementara sektor lain cipratan kredit yang didapat relatif kecil.

Seperti sektor pertanian yang pada 2004 ditetesi kredit Rp 31,030 triliun, lalu naik sedikit pada tahun berikutnya menjadi Rp Rp 35,451 triliun. Bandingkan dengan sektor industri yang pada 2004 digelontor dana kredit Rp 136,335 triliun, lalu merangkak pada tahun berikutnya menjadi Rp 169,860 triliun.

Jadi, sektor pertanian yang menyerap 40 persen tenaga kerja hanya mendapat bagian kredit sekitar 5,2 persen dari total kredit. Sebenarnya, ketimpangan kredit hanya pada sektor-sektor tertentu harus diakhiri karena hal itu akan menjadi bibit ketimpangan pertumbuhan dan kesejahteraan antarsektor.

Perhatian terhadap sektor pertanian dalam arti yang luas, melalui kredit, tentu mempunyai manfaat yang jauh lebih terasa. Sebab, jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor ini cukup tinggi. Dengan demikian, pertumbuhan sektor pertanian yang semakin baik akan mampu mengatasi dua masalah sekaligus, yakni pengangguran dan kemiskinan.

Kredit Macet

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, tampak indikasi kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) masih cukup tinggi. Memang tidak setinggi pada 2000 yang sempat mengganjal kinerja perbankan dengan NPL 20,1 persen. Tahun-tahun berikutnya terus mengalami penurunan, tahun 2003 sebesar 6,8 persen, tahun 2004 tinggal 4,5 persen, tahun 2005 meningkat menjadi 7,6 persen, tapi 2006 menurun lagi menjadi 6,07 persen, dan tahun 2007 tinggal 4,07 persen.

Celakanya, sebagian besar NPL mengendap pada bank pelat merah, yang jumlah keseluruhannya mencapai Rp 56,3 triliun, di mana 72 persen atau senilai Rp 40,6 triliun ngendon pada bank BUMN.

Terlepas dari penyajian serapan tenaga kerja yang tinggi pada sektor pertanian, macetnya kredit yang diakibatkan sektor ini pun tidak sebesar sektor lainnya. Data menghidangkan, kredit bermasalah terbesar terjadi pada sektor industri, yakni mencapai 60,1 persen dari seluruh total kredit bermasalah, atau sebesar 20 triliun. Sedangkan "dosa" NPL sektor pertanian menyumbang Rp 1,6 triliun atau 4,9 persen dari total kredit macet.

Keberpihakan Perbankan

Berbagai fakta yang terjadi ternyata tidak menjadikan perubahan terhadap komposisi penyaluran kredit. Pada awal 2008 ini, industri besar kembali menjadi anak emas kredit perbankan. Trauma kredit korporasi seakan lenyap dalam pertimbangan kredit perbankan. Bank BUMN dan bank swasta malah berlomba mengerek plafon dan pertumbuhan kredit pada perusahaan-perusahaan raksasa.

Belum genap seratus hari menapaki tahun ini, tetapi akta-akta kredit korporasi besar telah ditandatanggani pihak perbankan. BRI dan BNI menggelontorkan Rp 2,3 triliun untuk Grup Bakrie, Bank Mandiri dan BCA menggebyur dua korporasi telekomonikasi sekaligus dengan nilai masing-masing USD 950 juta dan Rp 5 triliun, yakni PT Exelcomindo Pratama TBK dan PT Indosat.

Dengan menggarap nasabah gemuk itu, memang keuntungan bank akan lebih terasa dibanding menggarap nasabah dari sektor lain, seperti pertanian.

Berbagai sandungan yang berpotensi mengganggu kinerja bank, yakni kredit macet yang banyak didonorkan oleh korporasi, seakan dilupakan dan menguap ketika berhadapan dengan kalkulasi laba yang akan diperoleh.

Demikian juga sebaliknya, "kekhilafan" kredit macet pada sektor pertanian seakan tidak pernah menggantikan potret pertanian sebagai sektor yang berisiko tinggi karena ketidakpastian produksi yang sering tunduk pada hama dan bencana alam.

Maka, keberpihakan perbankan terhadap sektor-sektor kecil dan lemah, seperti pertanian, masih saja di awang-awang.

Agus Suman PhD, dosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang, alumnus Universite Pierre Mendes France, Grenoble, Prancis

Sumber : Jawa Pos dotcom

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://g1s.org/blog/amnesia-kredit-perbankan-802/trackback/

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.