Amazon.com Widgets

June 7, 2008

Belajar dari Masa Lalu

Setelah melalui perdebatan panjang dan melelahkan, pemerintah akhirnya mengisyaratkan bakal memprivatisasi saham PT Krakatau Steel (Persero) lewat pasar modal (go public). Padahal, sebelumnya, pemerintah bersikeras ingin melepas saham BUMN baja itu kepada partner strategis.

Menteri BUMN Sofyan Djalil dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris di sejumlah media berkali-kali menegaskan keinginannya mengambil opsi strategic sales. Namun, tiga hari lalu (4/6), Sofyan justru menantang manajemen Krakatau Steel untuk bisa melakukan penawaran umum (IPO) pada September 2008.

IPO bisa dilakukan secara bertahap seperti melepas 5 persen saham dulu jika pasar sedang buruk. Kalau pasar modal membaik, baru saham KS dilepas hingga 40 persen. IPO dinilai paling realistis karena rencana privatisasi KS sudah masuk ranah politik, meski secara ekonomi mitra strategis menguntungkan.

Nah, di sinilah persoalannya. Banyak pihak yang menengarai kebijakan itu adalah akal-akalan pemerintah. Yakni, sengaja melepas 5 persen saham lewat lantai bursa, selanjutnya yang 40 persen ditawarkan ke mitra strategis melalui pasar modal.

Jika dicermati lebih dalam, masing-masing metode memang memiliki plus-minus. Strategic sales dinilai lebih menguntungkan lantaran pendapatan negara bisa maksimal dan terjadi transfer teknologi. Selain itu, dampaknya ke produktivitas langsung terasa. Di antara semua calon investor yang mengajukan proposal, mayoritas komit menggenjot kapasitas produksi.

Kapasitas produksi KS saat ini sekitar 2,5 juta ton per tahun dan diproyeksikan menjadi 8-10 juta ton pada 2011. Sebuah peningkatan yang signifikan dalam tiga tahun. Sementara privatisasi lewat pasar modal dinilai lebih baik lantaran kepemilikan sahamnya merata serta resistansi di tingkat manajemen dan karyawan nyaris tak ada. Nilai plusnya lagi, pasar modal saat ini sedang dalam kondisi lesu darah. Listing-nya BUMN sekelas KS diharapkan menggairahkan pasar modal.

Terlepas dari metode apa yang digunakan, privatisasi Krakatau Steel memang mendesak dilakukan. Di tengah melonjaknya permintaan dan melambungnya harga baja dunia, KS justru terkesan ketinggalan kereta. Lebih dari 30 tahun berdiri, produktivitas KS stagnan di posisi 2,5 juta ton per tahun.

Jangankan bermain di tingkat global, memasok kebutuhan domestik saja yang rata-rata 5,5-6 juta ton per tahun masih keteteran. Padahal, produksi kompetitor di sejumlah negara sudah naik berkali-kali lipat dalam tempo lebih singkat. Manajemen KS terlihat tak mampu membuat terobosan, terutama dalam pengadaan bahan baku yang mayoritas masih impor.

Karena itu, sudah saatnya KS keluar dari zona nyaman dan segera berbenah bila tak ingin tergerus oleh persaingan. Datangnya sejumlah investor yang berniat membeli saham KS bisa menjadi momentum untuk melakukan perubahan luar dalam.

Kalaupun menggunakan strategic sales, selama pemerintah bisa membuat sale and purchase agreement (SPA) yang benar serta ketat, kekhawatiran terjadinya dominasi asing tidak akan terjadi. Pemerintah harus tegas menyatakan dalam SPA bahwa pihaknya tetap menjadi pemegang saham mayoritas.

Kita memang punya pengalaman buruk dengan privatisasi lewat strategic sales. Tapi, bukan berarti privatisasi melalui skema itu buruk dilakukan. Yang pasti, apa pun opsi yang diambil harus menguntungkan bagi Krakatau Steel dan bangsa Indonesia. (Jawa Pos Online)

Tag:
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://g1s.org/blog/belajar-dari-masa-lalu-872/trackback/

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.