Amazon.com Widgets

September 6, 2008

Bursa dalam Bahaya

Pesta pora di lantai bursa usai sudah. Setelah mencatat kinerja luar biasa sepanjang 2007 dan awal 2008, secara masif, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus merosot tajam. Bahkan, dalam perdagangan sesi siang kemarin (5/9), IHSG sempat mencium level 1.999 poin atau yang terendah sejak Agustus 2007.

Untung, pada sesi penutupan, indeks kembali menguat dan bertengger di 2,022. Memang, BEI tidak sendiri. Hampir semua bursa efek regional dan global terperosok menyusul ketidakpastian ekonomi dunia. Indeks Nikkei Jepang anjlok 2,82 persen, Shanghai 2,41 persen, Hangseng Hongkong 3,12, dan Dow Jones AS terjerembap 2,99 persen. Tapi, bagaimanapun, tren penurunan BEI saat ini sudah mencemaskan.

Pada akhir 2007, IHSG sempat nangkring di level 2.800-an. Sementara itu, pada awal tahun, IHSG bertahan di 2.700-an. Dengan demikian, hingga September indeks saham telah longsor lebih dari 25 persen. Sungguh memprihatinkan bagi pasar modal yang pernah menyandang salah satu yang terbaik di Asia.

Jika dikaji lebih jauh, ada beberapa faktor yang menyebabkan jatuhnya pasar modal Indonesia. Pertama, terus menurunnya harga minyak mentah. Penurunan harga emas hitam itu menyebabkan harga komoditas seperti minyak sawit (CPO) dan batu bara turut melemah. Padahal, kedua sektor tersebut menjadi motor bursa dalam beberapa tahun terakhir.

Kedua, melambatnya pertumbuhan ekonomi global membuat permintaan barang tambang semakin turun, seperti nikel dan timah. Padahal, suplainya tidak berkurang yang akhirnya membuat stok di pasar dunia menumpuk. Akibatnya, harga saham sektor pertambangan yang menjadi bintang dalam beberapa tahun terakhir ikut terpuruk.

Begitu dominannya komoditas dan pertambangan menyebabkan indeks BEI tak mampu berbuat banyak ketika kinerja kedua sektor tersebut merosot. Apalagi, peran sektor telekomunikasi yang dulu selalu menjadi indeks mover kian kecil. Begitu pula, sektor perbankan yang diharapkan menjadi dewa penyelamat justru turut menjerumuskan indeks lantaran melejitnya bunga BI rate.

Mestinya, ketika ada sektor tertentu yang melambat, harus ada yang menjadi penyeimbang sehingga performa pasar modal tidak semakin tertekan. Kita bisa berharap, itu adalah sektor telekomunikasi, perbankan, manufaktur, atau consumers. Tapi, ternyata sektor-sektor itu belum bisa diharapkan.

Bagi perekonomian Indonesia yang baru berkembang, pasar modal memang sangat penting. Sebab, ketika iklim investasi belum kondusif bagi investor untuk menanamkan duitnya secara langsung, ada pilihan melalui investasi portofolio. Itu bisa dilakukan bila pasar modalnya kuat, kredibel, dan menjanjikan di masa mendatang.

Karena itu, tak ada pilihan lain bagi semua pihak harus turut aktif menyelamatkan pasar modal Indonesia. Untuk pemerintah, kemungkinan bisa mengeluarkan kebijakan yang mampu mengangkat kinerja perusahaan. Untuk emiten, mungkin melalui corporate action yang bertujuan menumbuhkan kepercayaan pasar.

Sementara untuk investor, ketika harga-harga saham berguguran seperti saat ini, itu adalah momen yang pas untuk berinvestasi. Dengan sinergi semua pihak, kejatuhan pasar modal lebih dalam bisa ditekan. [Jawa Pos]

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://g1s.org/blog/bursa-dalam-bahaya-938/trackback/

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.