Amazon.com Widgets

March 24, 2008

Faktor Institusional Krisis Finansial

Oleh A Prasetyantoko

Sebenarnya apa yang kini sedang terjadi? Krisis energi hingga harga minyak tinggi, atau krisis finansial? Apa kaitannya dengan krisis pangan?

Jelasnya, resultante tiga krisis itu membuat kondisi fiskal pemerintah kedodoran, sementara kehidupan rakyat makin berat.

Harga minyak di pasar dunia terus menanjak, diperkirakan akan mencapai titik keseimbangan harga 120-130 dollar AS per barrel. Maka, revisi APBN mendesak dilakukan di tengah beban terlalu berat bagi pemerintah untuk tetap memberi subsidi.

Hal lain, pemerintah harus menutup defisit dalam jumlah besar. Dana dari mana? Penerbitan Surat Utang Negara (SUN), baik kepada investor di pasar global maupun domestik (ORI), tampaknya akan jadi pilihan.

Kelebihan likuiditas

Kita memerlukan klarifikasi penyebab utama seluruh gejolak di pasar finansial (terutama) yang bermuara pada kasus subprime mortgage maupun gejolak di pasar komoditas, terutama terkait melonjaknya harga minyak mentah di pasar dunia. Sebenarnya, sejak beberapa dekade terakhir, kita masuk ”Rezim Finansial”. Artinya, sektor keuangan tak lagi menjadi subordinasi sektor ekonomi, terutama sektor riil, tetapi sudah menjadi sektor yang justru mendominasi sektor-sektor lain.

Artikel Modigliani dan Miller di American Economic Review (1958) menjelaskan tidak adanya hubungan antara kebijakan keuangan dan kinerja perusahaan.

Baru-baru ini muncul diskusi tentang produk keuangan yang berbahaya (toxic derivative). Sejatinya, situasi ini menjadi sesuatu yang tak terelakkan akibat terlalu majunya inovasi produk keuangan di tingkat mikro (perusahaan). Inovasi produk finansial hanya satu pilar saja. Dua pilar lainnya, yaitu globalisasi tata finansial di tingkat dunia serta liberalisasi sektor finansial di tingkat nasional, menjadi konteks di mana produk derivatif itu terus beranak-pinak, termasuk turunannya yang berbahaya (toxic).

Gejolak yang terjadi belakangan ini sebenarnya berakar pada masalah kelebihan likuiditas di pasar finansial global. Bagi investor, bangkrutnya produk derivasi di pasar finansial AS mendorong dua hal. Pertama, mengalihkan investasi menuju pasar sedang berkembang yang rajin menerbitkan SUN. Kedua, masuk pasar komoditas. Gejala pertama telah diikuti melonjaknya indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia. Adapun gejala kedua muncul dalam gonjang-ganjing harga minyak di pasar dunia.

Kapan gejolak ini berakhir? Sampai terjadi situasi yang lebih pasti atas perkembangan perekonomian dunia, terutama pulihnya pasar AS. Padahal, ancaman resesi ekonomi global salah satunya juga didorong tingginya harga minyak. Di situ mekanisme ”lingkaran setan” bekerja.

Krisis finansial telah mendorong krisis energi. Pada tahap berikut, krisis energi diikuti krisis pangan. Mengapa harga pangan dunia melonjak? Karena jagung tak lagi dikonsumsi manusia untuk dimakan, tetapi oleh industri dalam bentuk biofuel. Kenaikan harga minyak mendongkrak harga komoditas energi alternatif.

Kondisi anggaran

Jika harga minyak di pasar dunia tetap pada kisaran 100 dollar AS per barrel, subsidi yang harus ditanggung APBN bisa mencapai Rp 250-300 triliun. Dalam situasi seperti ini, jalan keluar paling ideal adalah menerbitkan SUN. Argumen utamanya, investor global sedang mencari ”ladang” baru di negara berkembang setelah perekonomian AS mengalami ancaman resesi.

Akhir-akhir ini, perkembangan global tak terlalu banyak memberi pilihan bagi pengambil kebijakan. Perangkap rezim finansial tak lagi bisa dihindari. Masalah yang bersumber pada brutalnya sistem finansial global harus dipecahkan dengan menyuburkan instrumen finansial yang memberi peluang bagi investor mengambil keuntungan.

Sejatinya, masalah dasarnya adalah interkoneksi sektor finansial terhadap sektor riil. Kecenderungan global ini terlihat dalam dinamika ekonomi domestik. Sejak beberapa tahun, yang tumbuh hanya sektor jasa (non-traded), bukan sektor riil. Sementara itu, tiap peluncuran ORI, surat utang negara ritel, selalu dibanjiri peminat. Ini menunjukkan betapa macetnya sektor dunia usaha kita sehingga menanamkan uang masih lebih menguntungkan daripada membuka usaha.

Dalam situasi dunia yang tidak pasti, terutama bersumber sektor finansial, banyak tokoh yang ”dibangunkan” kembali. Pertama, Thorstein Veblen, pemikir institusionalis lama yang membuat dikotomi antara ”kapten finansial” dan pekerja di sektor industrial. Kedua, Keynes yang menjelaskan masalah ketidakpastian, spekulasi, dan kekacauan finansial yang bersumber pada sifat dasar pelaku ekonomi (animal spirit). Minsky juga sering disebut karena penjelasannya yang murung tentang masa depan sektor finansial melalui ”hipotesis instabilitas finansial”-nya.

Kebangkitan aliran institusionalis dan Keynesian tentu tak akan menjawab krisis finansial, energi, dan pangan yang terjadi secara simultan akhir-akhir ini. Diskusi pemikiran juga tak akan menyelamatkan anggaran pemerintah, apalagi menahan kenaikan harga pangan.

Namun, jangan-jangan kita perlu keluar dari aneka persoalan pragmatis itu dan melihat akar masalah dari perspektif yang mengawang-awang, hanya agar kita tak jatuh pada prakmatisme yang berputar-putar pada lingkaran setan persoalan.

A Prasetyantoko Lulusan Program Doktor Ilmu Ekonomi dari Ecole Normale Superieure-(LSH), Perancis

Sumber : KOMPAS Cetak

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://g1s.org/blog/faktor-institusional-krisis-finansial-799/trackback/

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.