Amazon.com Widgets

July 15, 2008

Koperasi: Mulailah dengan Pendidikan

Oleh Rully Indrawan

PERAN strategis koperasi, serta usaha kecil dan menengah, tidaklah perlu disangsikan lagi, terutama di tengah goncangan ekonomi seperti halnya dewasa ini. Bahkan, di negara-negara maju sekalipun, peran koperasi masih diperhitungkan. Pada tataran global, koperasi dikenal sebagai -menyitir pada konsep ekonomi Anthony Giddens- the third way atas ideologi pembangunan ekonomi.

Namun, di tengah besarnya harapan terhadap koperasi sebagai solusi atas problem ekonomi kita, patut diakui saat ini masih banyak masalah yang dihadapi koperasi. Apabila diruntut, permasalahan itu berhulu pada lemahnya pemahaman ideologis koperasi, tak terkecuali oleh para pelaku koperasi itu sendiri. Herman Soewardi mengatakannya, sebagai merapuhnya nilai koperasi.

Bukti dari pada itu, koperasi dikelola dalam suasana yang tidak kooperatif dan meninggalkan habitat genuine-nya yakni anggota. Dengan demikian, prakondisi perbaikan internal koperasi adalah perbaikan sistem pendidikan perkoperasian khususnya dan pendidikan ekonomi pada umumnya.

Koperasi sebagai sistem demokrasi ekonomi sebagaimana dituntut dalam konstitusi kita, belum dijawab secara mendasar dalam sistem pendidikan ekonomi kita. Pendidikan ekonomi kita lekat dengan warna neo-liberalisme. Teori dan literatur yang diajarkan pada peserta didik, sebagian besar ekonomi yang berkarakter pasar. Hal ini ironis dengan pesan konstitusi, yang berkarakter demokratis dan humatistis.

Koperasi sebagai lembaga ekonomi, seyogyanya tergantung pada dua faktor utama yaitu profesionalisme manajerial dan partisipasi anggotanya. Profesionalisme manajerial koperasi diletakkan sebagai leverage bagi keberhasilan organisasi koperasi, dalam penciptaan keunggulan yang kompetitif. Profesionalisme yang larut pada proses internal organisasi dalam menciptakan pelayanan, akan membentuk partisipasi anggota, yang didukung dengan organizational capital yang kuat. Kemudian partisipasi anggota akan menjamin terciptanya pendapatan (user) dan modal (owner) yang meningkat , sekaligus memperkuat organizational capital, guna menghasilkan efisiensi biaya yang signifikan. Dengan demikian, pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemakmuran bagi para anggota dalam bentuk manfaat (shareholder value). Mekanisme ini dalam praktiknya tidak berjalan, tergerus oleh pragmatisme pengelola koperasi.

Masalah lain yang berkaitan dengan pentingnya aspek pendidikan - di luar substansi ajar- adalah masalah kaderisasi. Kekhawatiran kita bersama terhadap masa depan koperasi, adalah terancamnya keberlangsungan koperasi, bila dikaitkan dengan fakta mandeknya kaderisasi di kalangan penggiat koperasi. Bila tidak percaya, silakan hadir pada setiap pertemuan penggiat koperasi, kita akan menemukan kenyataan penggiat koperasi didominasi kelompok yang tidak muda lagi. Bila hal ini tidak ada pemecahan yang signifikan, maka dapat dipastikan gerakan koperasi akan mengalami kemandekan, atau setidak-tidaknya akan terjadi distorsi nilai-nilai dalam waktu yang sangat panjang.

Pendidikan

Pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi dan komitmen SDM koperasi, menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dilaksanakan, setelah penanaman nilai dasar berkoperasi. Kompetensi dan komitmen sumber daya manusia koperasi dalam melaksanakan jati diri koperasi (identitas ganda, karakteristik koperasi, prinsip koperasi dan ekonomi, serta partisipasi) akan menentukan tingkat keberhasilan koperasi (anggota, perusahaan koperasi dan pembangunan). Salah satu hasil penelitian yang berkaitan dengan penilaian kompetensi dan komitmen SDM koperasi, dikaitkan dengan kinerja organisasi koperasi dan kepercayaan anggota dan stakeholder lainnya, dalam pemupukan modal (struktur modal) koperasi. Penelitian ini dilakukan pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Jawa Barat, (Sugiyanto, 2007), menghasilkan kesimpulan bahwa secara partial komitmen manajemen berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja koperasi yang diukur dengan kinerja finansial dan promosi ekonomi anggota, sedangkan kompetensi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja koperasi.

Mandeg

Kekhawatiran terhadap masa depan koperasi kita itu semakin kuat, manakala kita lihat dari dinamika yang terjadi dalam perspektif keilmuan. Ilmu dan pengetahuan koperasi mengalami kemandekan yang luar biasa, riset-riset hampir tidak ada, bila pun ada terasa pengulangannya. Rendah sekali minat para peneliti koperasi untuk mengembangkan ilmu koperasi, karena berbagai kendala teknis. Yang akhirnya koperasi tampil senantiasa dengan wajah dan pendekatan amat sangat konvensional tanpa gereget dan inovasi.

Sulit dibayangkan, kehidupan koperasi di masa datang khususnya dan umumnya ekonomi yang berkarakter moralitas, akan dapat berkembang dengan baik manakala tidak didukung dasar keilmuan yang kuat, serta perhatian yang serius terhadap pendidikan koperasi secara memadai. Maka, lambat laun ekonomi dunia secara total akan tergerus oleh mindstream ekonomi. Relakah kita?***

Penulis, Rektor Institut Koperasi Indonesia (Pikiran-Rakyat)

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://g1s.org/blog/koperasi-mulailah-dengan-pendidikan-899/trackback/

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.