July 5, 2008
Masa depan uang komunitas
Pro dan kontra atas kenaikan harga BBM masih terus terjadi, terlebih lagi dengan disetujuinya hak angket oleh DPR. Kita merasakan kenaikan harga BBM telah mengakibatkan melonjaknya harga barang-barang kebutuhan pokok. Kini kita membutuhkan rupiah lebih banyak untuk membeli barang yang sama, khususnya bahan bakar dan tentunya barang/jasa yang terkena dampak kenaikan harga BBM.
Dengan demikian, hampir dapat dipastikan kebutuhan akan kredit perbankan pun meningkat. Akibatnya, bertambah pula jumlah uang beredar. Akhirnya inflasi pun terjadi. Namun kemampuan daya beli menurun.
Biasanya kita mengenal inflasi adalah kenaikan harga-harga barang dan jasa. Padahal hakikatnya terjadi penurunan daya beli sebagai akibat bertambahnya jumlah uang beredar.
Untuk mengatasi daya beli masyarakat yang menurun tersebut, rakyat yang tidak mampu diberikan bantuan langsung tunai (BLT).
Dapat dipastikan BLT hanyalah memberikan kegembiraan sesaat karena sifatnya memberi "ikan", bukan cara bagaimana "menangkap ikan". BLT hanya mampu memberi penghiburan 1-2 hari saja, setelah itu rakyat miskin kembali miskin, dan terus menderita, terus berusaha mencari rupiah untuk berbelanja, atau ada yang mengharapkan nominal BLT dibesarkan jumlahnya.
Pertanyaannya, bagaimana mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap rupiah tetapi masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara normal?
Caranya tentu bermacam-macam. Penulis mencoba memberi salah satu alternatif saja.
Jawabannya, hal yang terpenting adalah mengubah paradigma masyarakat tentang hakikat uang. Kalau ditanya soal uang, ingatan kita selalu ke 'rupiah' atau 'dolar'. Seakan-akan tidak ada lagi definisi lain yang dimaksudkan dengan uang.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap rupiah, kita harus menggunakan definisi uang secara berbeda. Yang dimaksud uang tidak terbatas pada wujud rupiah, dolar, yen dan lain sebagainya. Jangan hanya terpaku bahwa yang dimaksud uang adalah mata uang nasional yang dipaksakan oleh negara untuk dijadikan satu-satunya alat pembayaran yang sah.
Kita harus keluar dari kungkungan itu dan menjadikan masyarakat lebih mandiri serta bekerja sama di dalam memenuhi kebutuhannya.
Dengan demikian, 'uang' pada hakikatnya adalah suatu perjanjian di antara komunitas/masyarakat tertentu untuk menggunakan sesuatu sebagai alat pertukaran (Bernard Lietaer, 2003, Ahmad Aziuddin, 2008).
Menciptakan uang
Dari definisi di atas apa yang penting adalah, pertama, perjanjian atau kesepakatan, kedua, masyarakat atau kumpulan keluarga dalam jumlah tertentu, ketiga, sesuatu. Hal ini bisa apa saja yang disepakati sebagai alat ukur, misalnya waktu, beras, emas, dan lain sebagainya. Keempat, alat pertukaran, bisa terbuat dari kertas atau plastik.
Kalau sudah sepakat menerima definisi uang tersebut, kelompok masyarakat tertentu dapat menciptakan mata uangnya sendiri, yang disebut mata uang komunitas (community currency).
Mata uang komunitas ini dikembangkan secara bebas, demokratis oleh masyarakat tertentu dengan maksud mengurangi ketergantungan kepada mata uang rupiah. Ia sekaligus pelengkap dari mata uang rupiah. Makin banyak kebutuhan dapat terpenuhi dengan mata uang komunitas, makin besar pula kemampuan orang untuk mengurangi ketergantungan terhadap rupiah.
Pada 2002, Revrisond Baswir dari UGM menulis tentang sistem mata uang komunitas di Indonesia dan menyimpulkan bahwa sistem mata uang komunitas di Tanah Air mempunyai prospek cerah.
Dari kepustakaan yang ada, masyarakat di sejumlah desa di Bali dan Yogyakarta diketahui menggunakan 'mata uang komunitas'. Kalau hal ini benar, saya yakin di kelompok masyarakat lain hal yang sama bisa berjalan.
Saat ini community currency system atau sering disebut Local Currency System (LES) atau complementary currency telah dijalankan di lebih dari 35 negara dan lebih dari 3.200 komunitas terlibat di dalamnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang nasional.
Daya beli mata uang nasional secara berkala selalu mengalami penurunan, terbukti tidak ada satu pun negara yang terbebas dari inflasi. Sistem moneter yang dianut dunia saat ini (fractional reserve banking) memungkinkan terjadinya penciptaan uang (debt money) berlipat-lipat oleh perbankan. Sistem ini telah membawa kesengsaraan bagi banyak rakyat di dunia.
Bagaimana mekanisme terciptanya mata uang komunitas? Di Jepang misalnya, fureai kippu yang artinya kurang lebih 'tiket saling memerhatikan' merupakan mata uang komunitas yang diciptakan Yayasan Sawayaka. Ia telah digunakan secara luas sejak 1995 untuk membantu para orang tua.
Alat ukur yang digunakan adalah lamanya waktu yang digunakan untuk memberi pelayanan kepada orang tua. Contohnya, seorang pemuda membantu mengendarai mobil dan menemani seorang nenek belanja di pasar. Pemuda tersebut akan mendapat bayaran berupa kredit atau poin.
Nilai yang dimiliki dapat dipakai untuk berbelanja atau mendapatkan pelayanan dalam bentuk lain.
Untuk mengadministrasikan kredit diadakan clearing houses yang berfungsi untuk mencatat, bahkan mengirim kredit ke komunitas lain (http://en.wikipedia.org/wiki/Fureai-kippu), bahkan bisa lintas negara, seperti yang telah berlaku di Australia dengan bartercard system.
Di Bali, kelompok masyarakat dalam satu banjar bisa berpartisipasi untuk menyelesaikan suatu proyek yang memberikan manfaat bagi warga dengan menggunakan dual currency system, yaitu rupiah dan narayan banjar atau bekerja untuk kebaikan bersama masyarakat.
Caranya, setiap banjar yang berjumlah, misalnya 100 keluarga bermusyawarah menyelesaikan proyek tertentu. Anggaran proyek dibuat dua bentuk, rupiah dan narayan banjar.
Dalam proyek ini, mereka yang tidak punya waktu tetapi memiliki cukup uang (rupiah) akan berkontribusi dalam bentuk rupiah. Sebaliknya, memberikan kontribusi lewat tenaga dalam jumlah waktu tertentu. (Lietaer & Stephen DeMeulenaere, 2003).
Chandra Setiawan, Kandidat doktor bidang Keuangan di Graduate School of Management, Universiti Putra Malaysia. (Bisnis Indonesia)
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!










Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.