August 22, 2008
Menarik Minat Investasi
Sayangnya, lonjakan nilai investasi asing itu tidak dibarengi realisasi investasi dalam negeri (PMDN). Periode yang sama, realisasi penanaman modal dalam negeri melorot dari USD 3,15 miliar tahun lalu menjadi USD 900 juta. Itu berarti turun sekitar 70 persen.
Besarnya arus modal asing yang masuk ke sektor riil merupakan indikasi bangkitnya kepercayaan investor luar negeri terhadap kondisi makroekonomi dan stabilitas sosial politik dalam negeri. Selain itu, didorong meningkatnya efisiensi birokrasi investasi.
Kondisi tersebut bisa menjadi momentum kebangkitan sektor riil dan industri di dalam negeri. Mengingat, dalam satu dekade terakhir, investor asing lebih asyik memutar uang di pasar saham dan finansial di Indonesia.
Arus modal ke pasar finansial sering disebut sebagai hot money yang gampang masuk, tapi juga gampang pergi. Sedangkan spektrum investasi di sektor riil bersifat jangka panjang dan bisa menjadi penyerap tenaga kerja.
Mengapa industri di dalam negeri tidak juga bangkit? Diakui atau tidak, ketika restrukturisasi sektor riil belum tuntas, beban ekonomi masyarakat kian berat saat harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Memang, sejumlah industri besar tidak terpengaruh langsung oleh kenaikan harga BBM itu. Tapi, mereka akan menanggung kenaikan biaya tenaga kerja akibat tuntutan buruh agar upah dinaikkan.
Ketika pasar semakin terbatas dan biaya usaha membengkak, sangat sulit bagi industri di sektor riil untuk bangkit. Dalam situasi yang masih penuh ketidakpastian seperti sekarang, bisa mempertahankan pasar yang sudah ada dinilai sebagai prestasi menggembirakan.
Dunia usaha, kecuali yang memiliki pasar ekspor sangat kuat, akan bertarung dengan pasar domestik yang diwarnai penurunan daya beli masyarakat.
Faktor penghambat lain bangkitnya sektor industri adalah masih minimnya dukungan dari sektor perbankan. Meski krisis moneter sudah berlalu satu dekade, bank masih sangat berhati-hati menyalurkan pinjaman yang bersifat jangka menengah dan panjang. Kredit investasi tidak tumbuh signifikan, namun kredit konsumsi melonjak tajam.
Bank memang harus selektif dalam mengucurkan kredit. Namun, jika bank terlalu berhati-hati dan pilih aman dengan menempatkan dana di bank sentral, hal itu akan kontraproduktif terhadap perekonomian. Bisnis perbankan memang berjalan akibat ditopang derasnya kredit konsumsi. Namun, fungsi inti perbankan untuk menjalankan peran intermediasi tidak berjalan.
Menarik minat investasi domestik bukan sekadar pekerjaan BKPM. Pun bukan pekerjaan departemen ekonomi semata. Butuh sinergi lintas departemen, juga antara pemerintah pusat dengan daerah. Insentif agar pemodal domestik mau menanamkan uang di sektor riil juga patut diberikan, sehingga gairah untuk berinvestasi kembali lahir. [Jawa Pos]
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!










Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.