July 17, 2008
Pebisnis Muda Dan Globalisasi
Sedih rasanya melihat semakin banyak pebisnis muda seakan jatuh cinta dengan visi besar dan misi yang berapi-api, namun sangat sedikit yang bisa membuat visi dan misi tersebut betul-betul visibel dan achiveable.
Ada tiga hal teramat penting yang sering kali dilupakan oleh pebisnis muda dalam pembentukan atau sosialisasi dari sebuah visi, yaitu pemahaman yang matang tentang potensi diri dan daerah, kesabaran dalam mencari peluang yang unik, dan perencanaan yang matang.
Tanpa kesadaran dan pemahaman atas keadaan sekitar, relevansi dan vitalitas bisnis terhadap pasar dan masyarakat sekitar juga akan tumpul. Sedangkan tanpa perencanaan tidak mungkin ada evaluasi. Tanpa evaluasi sudah pasti tidak ada kuantifikasi atau pengukuran. Padahal kontrol berasal dari keterukuran.
Akhirnya visi yang besar dan penting tersebut sering kali tidak terealisasi hanya karena tidak ada kontrol yang kuat, padahal semakin besar sebuah visi semakin besar pula tantangannya. Terutama berkaitan dengan mimpi menjadi pemain global di era globalisasi.
Bukan apa-apa, yang membuat sedih bukan visi dan misi yang teruntai indah dan rapi dalam kata-kata, tapi karena pada umumnya visi yang dituju tersebut tidak dibuat berdasarkan realitas saat ini. Ibaratnya para pebisnis muda seperti berlomba mencari jawaban yang benar tanpa peduli untuk memulainya dengan pertanyaan yang tepat.
Kebanyakan bahkan meletakkan atribut tahun misalnya 2010, 2020, atau 2050 yang dilansir menjadi tahun saat visi tersebut akan terealisasi. Akhirnya visi tersebut akan tetap menjadi visi yang harus dikejar sampai kapan pun.
Yang lebih mengkhawatirkan, para pebisnis muda sering kali kurang paham dan kurang sensitif terhadap 'lokalitas' mereka. Akibat dari pendekatan yang demikian adalah banyak pebisnis muda yang kurang memanfaatkan keunikan dan kearifan lokal (local wisdom) yang bisa diperoleh dari beragam aspek di sekitar aktivitas bisnisnya baik geografis, sosial, kultural, ataupun geopolitik dalam tataran perdagangan internasional. Akhirnya tidak saja keunikan yang dimiliki Indonesia menjadi tidak pernah terwakili dalam perekonomian global, para pebisnis lokal pun tidak akan pernah menjadi pemain global.
Kenapa demikian? Untuk menjawabnya, terlebih dahulu dibutuhkan pemahaman yang tepat mengenai globalisasi, bagaimana posisi Indonesia dalam globalisasi, apa yang dapat dijadikan peluang oleh pebisnis nasional, dan bagaimana pebisnis muda memosisikan visi bisnisnya masing-masing, serta bagaimana visi tersebut bisa dipastikan visibel dan achievable?
Memahami globalisasi
Pertama, globalisasi adalah proses penyatuan pasar di seluruh dunia, bukan pergerakan pemain pasar semata-mata. Inilah yang sering disalahartikan oleh banyak pebisnis nasional, terutama pengusaha muda yang terburu-buru merespons globalisasi tanpa pengetahuan dan pemikiran yang memadai. Ada dua bentuk respons yang biasa kita temui. Yang pertama adalah nasionalisme yang berlebihan menolak globalisasi, dan yang kedua adalah internasionalisme yang tergopoh-gopoh melebarkan sayap bisnisnya ke luar negeri.
Akibatnya, kebanyakan pebisnis nasional tidak pernah benar-benar mendominasi pasar domestik maupun internasional. Padahal menurut Boston Consulting Group, fenomena berikutnya dalam globalisasi adalah semakin banyak perusahaan dari negara berkembang yang mengglobal dengan mendominasi pasar dalam negerinya masing-masing, dilanjutkan dengan mendominasi pasar negara lain yang lebih kecil, serta kemudian mulai mendominasi pasar negara-negara maju. Dengan kata lain, cara terbaik untuk menjadi global adalah dengan menjadi sangat lokal.
Salah tafsir mengenai globalisasi tersebut sangat umum ditemui karena memang salah satu gejala yang mengawali globalisasi perekonomian dunia adalah perusahaan-perusahaan dari negara-negara maju yang banyak masuk ke negara-negara berkembang dan negara kecil untuk memperluas pangsa pasar, mengakses bahan mentah yang melimpah, mendapatkan sumber daya manusia yang lebih murah dan pada akhirnya untuk keperluan outsourcing pabrikan mereka. Sayangnya semua ini hanya gejala atau metafora dari proses globalisasi, bukan esensinya.
Lalu bagaimana posisi Indonesia dalam konteks dan tren globalisasi saat ini?
Posisi Indonesia sangat strategis dan potensinya sangat besar. Dengan 230 juta penduduk, Indonesia mengisi hampir setengah dari kapasitas konsumsi di pasar Asia Tenggara. Sedangkan Asia Tenggara dengan 550 juta penduduk menguasai hampir 20% dari total konsumsi di Asia, dan hampir 10% dari penduduk dunia. Karena struktur demografi penduduk Asia yang lebih muda dan dinamis, serta pembangunan ekonomi masyarakat yang jauh lebih terbelakang dibandingkan negara-negara Barat, pertumbuhan ekonomi di Asia diharapkan mendominasi pertumbuhan ekonomi dunia setidaknya dalam 10–15 tahun ke depan. Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia menempati urutan ketiga tertinggi setelah China, India, dan Vietnam dalam tiga tahun terakhir.
Lagi-lagi pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh pebisnis nasional, terutama pebisnis muda, adalah bagaimana merealisasikan potensi Indonesia lebih dari sekadar retorika visi dan misi perusahaan? Bagaimana pebisnis muda bisa memanfaatkan posisi Indonesia yang strategis? Pebisnis muda harus bisa memutuskan, apakah kita mau jadi produsen atau konsumen saja?
Dengan pasar bebas ASEAN yang semakin riil di depan mata, tidak banyak waktu yang kita miliki untuk bisa menjadi produsen barang dan jasa terkemuka di ASEAN. Bahkan sangat mungkin bahwa pebisnis muda Indonesia sudah telanjur ketinggalan langkah di belakang pengusaha-pengusaha Malaysia dan Singapura yang notabene lebih diuntungkan kondisinya. Mereka lebih fasih berbahasa Inggris, lebih siap dengan infrastruktur pendukung, dan beroperasi dalam iklim politik dan sosial yang lebih homogen.
Banyak yang harus dikerjakan untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya jadi penikmat globalisasi sebagai konsumen, tapi juga pembentuk arah globalisasi, regionalisasi, atau apa pun istilahnya sebagai pencipta gagasan, penambah nilai, dan sebagai produsen yang berdaya saing tinggi.
Dalam hal ini saya percaya bahwa daya saing suatu bangsa dimulai dari pengenalan diri, pembentukan karakter, pencarian gagasan, formulasi tujuan, perencanaan yang matang, eksekusi yang ketat, pengukuran berkala, dan penyempurnaan terus-menerus.
Semua itu bisa dirangkum dalam suatu pola pikir dan sikap hidup yang sederhana namun sangat penting yaitu mau melayani kepentingan orang lain, bangsa, dan negara.
Muhammad Lutfi, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) [Media Indonesia]
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!










Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.