Amazon.com Widgets

September 11, 2008

Penyakit Belanda Ancam Krisis Likuiditas

Oleh Achmad Deni Daruri
President Director Center for Banking Crisis

Tugan-Baranovsky, 1894; dan Wicksell, 1906 sudah mengingatkan bahwa siklus perekonomian yang disertai boom dan bust disebabkan investasi dan konsumsi yang berlebihan. Seperti yang dapat kita lihat dari tingginya impor baja di Indonesia saat ini. Seperti yang pernah saya khawatirkan sebelumnya, ternyata Penyakit Belanda terbukti telah mematikan daya saing perekonomian Indonesia yang dapat dilihat dari munculnya defisit perdagangan luar negeri yang mencapai USD270 juta pada Juli 2008. Itu semakin membuktikan bahwa monetary shocks yang sebetulnya menimbulkan fluktuasi yang persistent dari riil interest rate di Indonesia yang pada gilirannya mematikan daya saing perekonomian.

Gali (1992) dengan Model SVAR-nya menemukan bahwa expansionary money supply shock menyebabkan penurunan yang terus-menerus dari tingkat suku bunga riil. Kondisi itu pada gilirannya akan menyebabkan defisit neraca perdagangan. Dalam kasus Indonesia, defisit terutama disebabkan kenaikan impor bahan baku dan barang modal di mana impor tercatat mencapai USD12,82 miliar atau naik 6,59% jika dibandingkan pada Juni 2008.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, total nilai impor baja sepanjang Januari–Juli 2008 melonjak 127,11% jika dibandingkan dengan impor pada periode sama 2007, yakni dari USD3,08 miliar atau setara 4 juta ton menjadi USD7 miliar (7,5 juta ton). Saat ini terdapat lonjakan permintaan di sektor otomotif, galangan kapal, dan elektronik. Termasuk juga crash program PLTU 10.000 Megawatt (Mw), konversi energi ke elpiji, dan pembangunan properti 1.000 menara yang dipercepat sehingga membutuhkan volume baja yang sangat besar. Perlu diingat bahwa sektor tersebut merupakan sektor nontraded.

Kinerja ekspor tercatat USD12,55 miliar atau turun 2,65% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pelemahan kinerja ekspor dipicu penurunan ekspor CPO yang anjlok sebesar USD1,48 miliar dari Juni sebelumnya USD2,06 miliar. Hal itu sangat kontras dengan perekonomian China yang saat ini justru masih mampu mempertahankan defisit neraca perdagangannya karena perekonomiannya tidak mengalami shock akibat kebijakan moneter (uang beredar). Tanda-tanda melemahnya daya saing perekonomian Indonesia dapat dilihat dari tingginya tingkat suku bunga acuan yang sudah mencapai 9% yang ternyata bersifat overshooting dalam merespons laju inflasi Agustus yang hanya sebesar 0,51%. Di situlah otoritas moneter gagal mencermati perilaku nonlinear dari riil interest rate yang berperilaku seperti uni root process. Nilai tukar rupiah yang cenderung stabil pada kisaran Rp9.100–9.200 per dolar juga menjadi pertimbangan perlunya BI menurunkan tingkat suku bunga acuan tersebut. BPS mencatat sektor perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar memberi kontribusi 0,13% pada inflasi bulanan yang mencapai 0,51%. Hal itu memperlihatkan bahwa kebijakan moneter yang diterapkan BI bukan hanya overshooting, tetapi juga melanggengkan insentif bagi sektor-sektor nontraded jika dibandingkan dengan sektor-sektor traded yang berdampak bagi terjadinya defisit neraca perdagangan. Insentif itu juga terlihat dari rencana Bank Indonesia untuk menambah uang beredar atau M1 pada September ini yang memberikan efek ganda shock uang beredar bagi defisit neraca perdagangan.

Bank Indonesia justru menciptakan ekspektasi inflasi yang terjangkar tinggi dengan menciptakan crowding out effect bagi daya saing sektor traded di dalam negeri. Otoritas moneter sebaiknya jangan terperangkap oleh riil interest rate yang berdasarkan inflasi nominal, tetapi juga memperhitungkan expected inflation karena mempengaruhi mekanisme transmisi moneter termasuk melalui consumption based asset pricing modelnya Lucas, (1978). Kondisi itu memperlihatkan bahwa sumber inflasi dari makanan menuntut pemerintah untuk melepaskan kendalinya terhadap harga gula, beras, minyak, dan terigu. Artinya, operasi pasar yang dilakukan justru akan menciptakan inflasi. Di situlah pemerintah tidak paham mekanisme transmisi operasi pasar kebutuhan pokok terhadap inflasi itu sendiri. Inflasi itu lebih disumbangkan harga minyak yang meninggi, tetapi kenyataannya harga minyak relatif mengalami penurunan.

Kontrak minyak di New York mengalami penurunan tajam dari penutupan perdagangan Amerika Serikat (AS) pekan lalu setelah badai Gustav terlihat tidak melewati berbagai fasilitas minyak utama. Pada perdagangan siang, kontrak utama New York untuk minyak mentah jenis light sweet pengiriman Oktober turun USD4,46 ke posisi USD111 per barel jika dibandingkan pada penutupan pekan lalu di New York pada level USD115,46 per barel. Selain itu, pemerintah juga salah dalam menghitung data persediaan barang-barang kebutuhan pokok tersebut. Akibatnya, ekspansi untuk meredam inflasi justru menyebabkan penurunan harga yang semakin rendah karena sudah terjadi ekses suplai, tapi terjadi kondisi balon di sektor nontraded. Misalnya pemerintah menghitung kebutuhan gula nasional untuk 2008 sebesar 2,9 juta ton, sementara total kebutuhan hanya 2,7 juta ton. Perhitungan yang dilakukan Sucofindo justru memperkirakan kebutuhan gula dalam negeri sebesar 3,1 juta ton.

Jelas pemerintah harus mengoreksi semua perhitungan persediaan stok nasional secara ulang sebelum melakukan operasi pasar! Kondisi itu memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi sejak awal 2008 menunjukkan ciri-ciri yang tidak sehat karena justru semakin meningkatkan nilai impor. Situasi ekonomi global yang juga sedang melemah dipastikan berpengaruh bagi penurunan kinerja ekspor domestik. Jelas telah terjadi mismatch dalam perekonomian di mana sektor nontraded terus menyedot impor tanpa mampu menciptakan devisa. Mismatch itu pada akhirnya akan menghantam sektor perbankan sebagai sumber pembiayaan. Apalagi BI rate terus dikerek naik. Akibatnya, shock uang beredar menjadi shock ekonomi. Krisis likuiditas tersebut dapat dilihat dari statistik ekonomi dan keuangan Indonesia yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan bunga tabungan kelompok bank swasta mulai naik sejak April 2008 sebesar 3,42%, Mei 3,43%, dan Juni 3,42%. Kelompok bank asing dan campuran per April sebesar 3,87%, lalu naik pada Mei menjadi 4,01% dan Juni 4,18%.Kelompok bank umum per April 3,23%, Mei 3,24%, dan Juni tetap di 3,24%. Untuk kelompok bank persero (BUMN) cenderung turun, di mana pada Maret sebesar 3,06%, April 2,96%, Mei 2,96%,dan Juni 2,98%.

Perlu dicamkan bahwa bank asing merupakan bank di Indonesia yang sangat fokus bagi pembiayaan sektor industri. Artinya, Bank yang justru merupakan sumber pembiayaan sektor riil yang produktif dipaksa untuk menaikkan cost of capital-nya dan sektor nontraded terus mendapatkan infus pembiayaan. Kondisi tidak sehat itu terbukti juga tidak dapat dicegah tingginya BI rate yang kini sudah mencapai 9%!

Artinya, kebijakan Makroekonomi dan moneter yang terjadi selama ini sebetulnya memang semakin terperangkap oleh penyakit Belanda. Jelas bahwa peningkatan BI rate menjadi 9,25 persen bukan hanya tidak akan menyembuhkan penyakit Belanda itu, tetapi juga semakin membuat krisis likuiditas di sektor perbankan menjadi tak terhindarkan lagi! Belajar dari Cordoba and Ripoll, (2004) output dari sektor perbankan harus dijamin bersifat antisiklis, jika otoritas moneter ingin keluar dari perangkap penyakit Belanda dan bukan dengan menaikkan BI rate secara terus-menerus! [Media Indonesia]

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://g1s.org/blog/penyakit-belanda-ancam-krisis-likuiditas-940/trackback/

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.