August 24, 2008
Pertumbuhan tanpa Pemerataan
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi itu tecermin dari peningkatan produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Tahun lalu, PDB Indonesia sudah mencapai Rp 3.957 triliun. Angka sebesar ini membuat Indonesia masuk dalam daftar 20 negara dengan PDB terbesar di dunia.
Membesarnya PDB berjalan selaras dengan kenaikan pendapatan per kapita penduduk Indonesia. Seperti yang dibeber Presiden SBY di hadapan sidang paripurna DPD kemarin (22/8), pendapatan per kapita Indonesia dalam tiga tahun belakangan melonjak 64 persen.
Jika pada 2004 USD 1.186, maka pada 2007 menjadi USD 1.946. Pendapatan per kapita sebesar itu diklaim lebih tinggi daripada sebelum krisis ekonomi sepuluh tahun silam. Apakah prestasi itu menunjukkan perekonomian sudah membaik? Tentu tidak.
Sebab, tingginya angka pertumbuhan tidak dibarengi dengan perbaikan kesejahteraan masyarakat. Yang justru terjadi adalah meningkatnya kesengsaraan rakyat. Apalagi, pertumbuhan selama ini lebih banyak ditopang konsumsi, bukan investasi.
Pengangguran masih terjadi di mana-mana dan kemiskinan semakin merajalela meski pemerintah menyebut telah terjadi penurunan. Harga-harga kebutuhan pokok tetap melambung. Tarif di sektor jasa bahkan semakin membubung.
Dari kacamata teori ekonomi, memang selalu ada trade off antara pertumbuhan dan kesejahteraan. Jika pertumbuhan melesat, kemakmuran rakyat pasti tersendat. Kebijakan growth with equity (pertumbuhan disertai pemerataan) selama ini belum terbukti berhasil mengangkat harkat dan martabat rakyat.
Yang kita lihat, meski pertumbuhan dan pendapatan per kapita tinggi, tetap banyak rakyat yang hidup melarat. Berangkat dari situ, pemerintah mestinya lebih arif bila ingin membeber prestasi-prestasi di bidang ekonomi.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, sebenarnya kurang tepat bila bicara tentang berapa persen target pertumbuhan. Sebab, target tersebut bisa dengan mudah dicapai jika kondisi sosial, politik, dan ekonomi cukup kondusif bagi masuknya modal dari dalam dan luar negeri.
Diakui atau tidak, pembangunan ekonomi memang sangat memengaruhi tingkat kemakmuran suatu negara. Namun, pembangunan ekonomi secara membabi buta tidak akan membawa kesejahteraan kepada seluruh lapisan masyarakat. Pengalaman empiris sejumlah negara maju dan berkembang membuktikan hal itu.
Meski mereka berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, pengangguran tetap tidak teratasi. Ketimpangan pendapatan pun terus terjadi dan pemberantasan kemiskinan tetap tanpa solusi. Karena itu, tugas pemerintah saat ini adalah membuat pertumbuhan yang memberikan kesejahteraan. [Jawa Pos]
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!










Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.