September 19, 2008
Virus subprime mortgage beraksi
Timnas Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI, Investment Consultant PT Asabri (Persero)
Dalam sebuah acara investor gathering sebuah perusahaan manajemen investasi pada pertengahan Agustus 2008, seorang investor bertanya, "Mengapa harga minyak turun, tetapi indeks saham turun?" Pertanyaan itu sangat bagus dan sederhana, tetapi tidak semudah pertanyaannya untuk menjelaskannya.
Mengapa indeks saham turun? Hanya ada satu jawaban untuk menjelaskan mengapa terjadi penurunan indeks saham secara global saat ini. Yaitu kasus subprime mortgage (SPM).
Mengapa subprime mortgage menjadi masalah utama? SPM merupakan kredit perumahan yang skema pinjamannya telah dimodifikasi sehingga mempermudah kepemilikan rumah oleh orang miskin dan yang tidak layak mendapat kredit. Tingkat bunga The Fed, sepanjang 2002-2004 yang hanya sekitar 1%-1,75% membuat bisnis SPM dan perumahan booming. Tingginya bunga pinjaman SPM, menarik investor kelas kakap dunia membeli surat utang bunga tinggi yang diterbitkan perusahaan SPM.
Ketika Juni 2004, The Fed bertahap menaikkan bunga hingga mencapai 5,25% pada Agustus 2007, kredit perumahan mulai bermasalah karena banyaknya nasabah yang gagal bayar karena naiknya beban bunga.
Dampaknya, banyak perusahaan SPM rugi besar. Terjadi banyak penyitaan rumah (1 dari 10 rumah di Cleveland dalam kondisi tersita). Pasar properti berubah menjadi seller market akibat banyak yang ingin menjual propertinya sehingga harga properti turun 10%.
Investor yang membeli surat utang SPM rugi besar karena surat utangnya hanya bernilai 20%-40%. Selanjutnya, untuk menutupi kebutuhan likuiditasnya, investor terpaksa menjual portofolio sahamnya secara besar-besaran.
Kondisi kerugian yang luar biasa menciptakan situasi credit crunch atau kelangkaan dana pinjaman. Semua pihak membutuhkan likuiditas, tetapi pasar tidak mampu menyediakan karena lebih berhati-hati.
Pihak yang paling dirugikan adalah subprime mortgage lender dan investor yang membeli surat utang. Karena investor ini merupakan investor kelas paus dunia, ketika terjadi kebutuhan likuiditas, yang terjadi adalah penjualan portofolio di seluruh pasar modal dunia secara massive tanpa peduli kerugian dari penjualan portofolionya.
Terpaksa menjual
Mereka juga terpaksa melakukan penjualan karena investor mereka banyak yang melakukan pencairan dana. Selanjutnya hal itu semakin memaksa bank, manajer investasi, atau reksa dana tersebut yang menjadi pengelola dana tersebut, melikuidasi portofolionya.
Krisis subprime mortgage mulai timbul sekitar Juli/Agustus 2007. Krisis terus memburuk hingga akhir tahun 2007. Saat itu, tidak semua perusahaan yang menjadi investor surat utang SPM mau mengakui kondisi mereka buruk, karena pertimbangan reputasi di pasar. Mereka masih berharap kondisi ekonomi dunia membaik.
Kondisi keuangan dunia semester I 2008 ternyata tidak membaik akibat kenaikan harga BBM dunia yang tajam. Satu persatu perusahaan besar keuangan yang bermasalah, pada semester I 2008 mulai menyerah, dengan nilai kerugian yang besar dan mengguncang pasar keuangan dunia. Semua pihak berusaha mendapatkan likuiditas dengan melikuidasi portofolio mereka.
Itulah yang terjadi sejak beberapa minggu terakhir ini. Penjualan secara besar-besaran terjadi di berbagai bursa dunia. Penjualan ini dilakukan karena tidak ada satu pihak pun yang optimis bahwa dampak dari krisis keuangan ini bisa pulih dalam waktu yang cepat.
Kerugian yang sangat besar ini, diperkirakan membutuhkan waktu lama untuk pulih. Tidak ada yang tahu berapa besar kerugian yang terjadi di dunia, tetapi angka kerugian di Amerika saja minimal sekitar US$200 miliar-450 miliar
Indonesia, secara fundamental tidak ada yang berbahaya. Pengalaman krisis moneter telah membuat Negara ini semakin hati-hati mengelola ekonominya.
Dampak krisis SPM hanya terlihat di Bursa Efek Indonesia dalam bentuk penjualan saham secara besar-besaran oleh asing. Sebuah kondisi yang juga terjadi di berbagai bursa dunia lainnya. Asing menjual portofolionya di Indonesia karena kebutuhan likuiditasnya. Dampak lanjutannya adalah pelemahan kurs rupiah dipasar uang akibat mengalir keluarnya US$ hasil penjualan portofolio tersebut.
Investor lokal, yang selama ini kuat menghadapi terjangan penjualan asing, luluh lantak akibat penurunan indeks yang terlalu tajam sehingga membuat investor yang dibiayai dengan pembiayaan margin (pinjaman untuk pembelian saham) malah terpaksa melakukan penjualan (kembali) sahamnya dengan kerugian yang besar.
Usulan buyback saham oleh emiten BUMN adalah usulan yang brilian untuk penyelamatan indeks saham. Dengan buyback, maka jumlah saham yang beredar akan berkurang dan akan mampu mempertahankan harga saham atau bahkan menaikkan harga saham yang selanjutnya akan menyelamatkan indeks. Langkah ini strategis mengingat penopang indeks saham di Bursa Efek Indonesia adalah saham-saham BUMN.
Langkah lainnya adalah mendorong dana pensiun dan perusahaan pengumpul dana lainnya seperti perusahaan asuransi, Jamsostek, Taspen, Askes, dan lainnya untuk menambah portofolio saham, reksa dana saham, atau reksa dana campuran untuk menopang penjualan saham oleh investor asing.
Penjualan besar-besaran di bursa global seharusnya akan reda segera karena penurunan indeks saham sudah sangat besar. Namun, kondisi bearish masih akan terjadi dalam 6-12 bulan ke depan. Besarnya kerugian investor global akan membutuhkan waktu yang lama untuk pemulihan.
Krisis keuangan yang mendunia ini tampaknya akan memaksa seluruh negara maju untuk turun tangan mengambil alih perusahaan-perusahaan keuangan dunia yang bermasalah atau terancam bangkrut.
Kalau saja skenario ini terjadi, krisis akan bisa cepat reda. Apalagi sebagian cadangan devisa berbagai negara besar sudah kadung tercemplung di surat utang SPM yang rugi itu.
Kalau kita melihat situasi ini secara bijak, yaitu memahami bahwa penjualan ini karena kebutuhan likuiditas, langkah buyback emiten BUMN ataupun masuknya pemodal lokal Indonesia ke saham atau reksadana saham/campuran, merupakan strategi cerdik memanfaatkan kondisi investor dunia yang sedang terpuruk.
Tentunya dengan catatan, perlu kesabaran menunggu pulihnya perekonomian dunia dalam 1-2 tahun ini, di mana saat ekonomi dunia pulih, dapat dipastikan investor asing akan kembali ke pasar modal dan membuat pasar modal kembali bullish (naik tajam). [Bisnis Indonesia]
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!










Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.