June 3, 2008
Bank sentral Asia, petrodolar, & krisis keuangan global
Krisis keuangan global yang terjadi saat ini memiliki dimensi yang luas. Sebagaimana kita ketahui bahwa krisis keuangan yang bermula dari Amerika Serikat ini telah menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian dunia.
Tidak hanya terhadap sektor keuangan, sektor riil dan komoditas juga terkena dampaknya. Tingginya harga komoditas pertanian, pertambangan, dan energi telah menimbulkan kesulitan, terutama bagi negara berkembang termasuk Indonesia.
Di AS sendiri, penyebab krisis keuangan dimulai dengan adanya kasus gagal bayar (default) atas kredit kepemilikan rumah (KPR) dari nasabah non investment grade (subprime mortgage). Namun, sebelum kasus default atas subprime mortgage terungkap, benih-benih krisis keuangan tersebut sesungguhnya telah muncul dengan ditandai begitu 'atraktifnya' transaksi keuangan, terutama produk-produk derivatif untuk kepentingan spekulatif.
Maraknya produk-produk derivatif yang diperdagangkan ini tentu tidak berdiri sendiri. Kondisi ini ditopang oleh agresivitas pelakunya yang memiliki likuiditas berlimpah. Pertanyaannya, siapa pelaku pasar keuangan yang turut mendongkrak perkembangan transaksi spekulatif ini? Kemudian, dari mana mereka mendapatkan dukungan likuiditas yang berlimpah untuk menopang aktivitas investasi mereka?
Selain pemain lama, seperti reksa dana, asuransi, dana pensiun, dan perbankan pasar finansial AS kini juga diramaikan oleh investasi baru seperti hedge funds dan private equity. Khusus tentang hedge fund dan private equity ini, instrumen ini telah mampu menjadi ajang investasi baru yang atraktif karena didukung oleh likuiditas melimpah, yang utamanya berasal dari para pemilik modal kaya, baik investor individual maupun institusi. Para investor kaya ini tertarik dengan strategi investasi melalui hedge funds ataupun private equity karena merupakan wahana investasi yang memberikan feature investasi yang lebih sophisticated dengan keuntungan yang tinggi.
Petrodolar
Faktor likuiditas yang berlimpah (over liquidity) memiliki peran penting di balik krisis keuangan global ini. Likuiditas melimpah yang seharusnya diarahkan untuk menopang pertumbuhan sektor riil, justru dikembangkan untuk menghasilkan instrumen investasi derivatif untuk mendongkrak tingkat keuntungan investasi. Inilah yang akhirnya menciptakan bubble economy di AS. Pertanyaannya, lalu dari mana sumber likuiditas melimpah yang telah menopang sektor finansial global tadi?
Pada mulanya, sumber-sumber likuiditas berasal dari rumah tangga (households) dan pebisnis (businesses). Namun, dalam perkembangannya, diketahui bahwa muncul kekuatan modal baru yang ikut mengguyur pasar finansial global. Kekuatan baru tersebut antara lain bank sentral di kawasan Asia dan petrodolar.
Perlu diketahui bahwa perkembangan ekonomi di negara-negara penghasil minyak (petrodolar), termasuk di dalamnya adalah negara-negara Timur Tengah, Norwegia, Rusia, Venezuela, Nigeria, dan Indonesia telah membuat investor petrodolar menangguk keuntungan akibat tingginya harga minyak mentah.
Keuntungan dari minyak ini lalu diinvestasikan dalam berbagai instrumen investasi. Tak pelak, guyuran dana dari para investor petrodolar ini membuat likuiditas global menjadi meningkat tajam. Sebuah studi menunjukkan bahwa kekuatan investasi petrodolar ini diperkirakan mencapai US$3,4 hingga US$3,8 triliun pada 2006 dan pada 2012 akan mencapai US$5,9 triliun.
Diperkirakan bahwa investor petrodollars telah menempatkan dananya tersebut sekitar US$1,7 triliun dalam bentuk global equities dan lainnya sekitar US$350 miliar dalam bentuk hedge funds, private equity, dan investment funds alternatif lainnya. Mereka juga ikut mempercepat pertumbuhan pasar keuangan syariah (Islamic finance), meskipun porsinya dalam sistem keuangan global masih relatif kecil.
Selain investor petrodolar, bank-bank sentral di Asia juga ikut berperan dalam meningkatkan likuiditas global. Pada akhir 2006, bank sentral di Asia diperkirakan memiliki aset investasi global sekitar US$3,1 triliun. Bank sentral China dan Jepang saat ini diprediksikan memegang aset investasi di pasar global masing-masing sekitar US$1,1 triliun dan US$875 miliar pada 2006. Selanjutnya adalah bank sentral Hong Kong, India, Malaysia, Singapura, Korsel, dan Taiwan bersama-sama memegang aset investasi di pasar global sekitar US$1 triliun.
Bank sentral di Asia kini telah menjadi sumber likuiditas baru yang penting bagi pasar keuangan global. Kombinasi antara kedua pemodal ini akhirnya memunculkan empat kekuatan baru sebagai broker investasi (new power brokers) di pasar keuangan global, yaitu bank sentral Asia, petrodolar, hedge funds, dan private equity.
Pertanyaannya, lalu bagaimana proses transmisi dari keempat institusi tersebut sehingga keterlibatan mereka dapat menjadi kontributor terjadinya krisis keuangan global? Sesungguhnya, tidak terlalu sulit untuk mendeteksi peran para new brokers tersebut dalam krisis keuangan global saat ini.
Meningkat tajam
Pertama, supply dana yang melimpah baik dari bank sentral di Asia maupun investor petrodolar menyebabkan likuditas global meningkat tajam. Terlebih, dalam kasus investasi yang dilakukan oleh bank sentral di Asia, hal itu dilakukan dengan memberlakukan bunga murah sehingga meningkatkan leverage bagi investasi hedge fund dan private equity.
Kedua, likuditas yang dibawa oleh bank sentral di Asia dan petrodolar menyebabkan harga aset mengalami inflasi. Harga aset properti di AS, Eropa, dan negara-negara maju lainnya mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan data dari Economist Intelligence Unit, nilai real estate di negara-negara maju mengalami peningkatan sebesar US$30 triliun antara 2000 hingga 2005. Kondisi inilah yang akhirnya mendorong terjadinya krisis di sektor perumahan di AS yang merembet ke sektor keuangan secara keseluruhan.
Dari kondisi di atas, pelajaran penting dari situasi tersebut adalah bahwa perlu bagi otoritas Indonesia untuk membatasi agresivitas pertumbuhan hedge funds dan private equity.
Kedua, penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan over liquidity yang dimiliki negara-negara petrodolar termasuk juga bank-bank sentral di Asia. Sesungguhnya, investor petrodolar ingin mendiversifikasi investasi mereka. Namun, akibat kurangnya instrumen yang diciptakan para emerging markets, investasi mereka masih terbatas di negara-negara maju.
Apabila Indonesia dapat menciptakan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan mereka, misalnya sukuk (obligasi syariah), penulis kira kita dapat mengubah haluan investasi petrodolar dari investasi yang berisiko menciptakan krisis menjadi investasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi ekonomi.
Sunarsip, Ekonom Kepala The Indonesia Economic Intelligence. (Bisnis Indonesia)
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!










Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.