Amazon.com Widgets

October 23, 2008

Dalam denyut krisis keuangan AS

Oleh Harry Tanugraha
Ketua Yayasan Karet Indonesia, kini tinggal di AS

Mulai sekitar 6 tahun lalu, kebijaksanaan Pemerintah Amerika Serikat mengandalkan bidang properti sebagai salah satu motor penggerak ekonominya. Berbagai kemudahan dilakukan, antara lain stimulus bunga pinjaman yang rendah dan program subprime mortgage (kredit perumahan syarat dipermudah).

Kegiatan bisnis properti memang menggeliat dan menarik banyak warga untuk ikut-ikutan meskipun berstatus amatir. Membeli properti bukan hanya rumah untuk dihuni, melainkan juga untuk investasi. Sesuai dengan peraturan, yang berhak membeli rumah harus memenuhi persyaratan dasar: sepertiga pendapatan cukup untuk cicilan, sudah siap dengan dana paling sedikit 5% untuk uang muka dan tingkat nilai skala kredit (credit score) di atas 620.

Para broker dan pihak terkait berusaha kuat memanfaatkan situasi. Banyak ketentuan baku diakali untuk dilanggar, dengan tujuan agar transaksi terlaksana. Credit score jauh di bawah 620 dan syarat sepertiga pendapatan pun diabaikan, sebab perusahaan subprime mortgage berani memberi kredit dengan bunga sedikit dinaikkan.

Bukan hanya investasi, bisnis, melainkan juga properti yang sedang booming menjadi ajang spekulasi. Pada awalnya bisnis ini sangat menggiurkan dengan perputaran sangat cepat dan benar menjadi penggerak ekonomi.

Pada 2007 terjadi perubahan peta ekonomi dunia yang cepat dan berdampak pada kenaikan minyak bumi dan diikuti kenaikan harga berbagai komoditas. Hantu inflasi mulai muncul dan untuk meredamnya, The Fed (bank sentral AS) menaikkan bunga bertahap, sehingga bunga pinjaman di masyarakat naik melebihi angka 6%.

Biaya hidup dan operasi usaha meningkat, sedangkan pendapatan tetap. Budaya hidup yang bertumpu pada pola kredit menjadi lingkaran yang mencekik kehidupan masyarakat. Usaha banyak ditutup dan PHK terjadi di banyak sektor, termasuk industri kendaraan bermotor dan industri bangunan.

Warga mulai kesulitan membayar cicilan dan kredit macet membengkak. Kegiatan bisnis properti melesu dan harga mulai melemah. Bank investasi dan pihak asuransi mulai kewalahan menghadapi arus kredit macet dan fore closure (sepihak membatalkan akad kredit/menyerah).

Hal itu nyatanya seperti gunung es, rumah-rumah gagal bayar, dan batal akad kredit menumpuk di berbagai bank investasi dan perusahaan kredit perumahan. Aliran dana masuk terhenti.

Bank investasi Bear Stearn menyerah dan diakuisisi oleh JP Morgan senilai hanya US$236 juta. Setelah itu, jatuh pula bank investasi nomor empat terbesar Lehman Brothers, karena terlilit utang dan disusul Merril Lynch merugi US$51,5 miliar yang dibeli Bank Of America seharga US$50 miliar.

Dua perusahaan raksasa kredit perumahan Freddie Mac dan Fannie Mae sahamnya diambil alih Pemerintah. Perusahaan asuransi global AIG terpaksa mendapat suntikan dana US$60 miiar dan demikian pula dengan Goldman Sach.

Kemacetan aliran dana

Krisis keuangan ini menghentikan pula operasi Washington Mutual, salah satu bank terbesar dan tertua. Asetnya dibeli JP Morgan. Wachovia Bank yang dikenal sangat kuat di belahan timur, juga jatuh dan dibeli Wellsfargo Bank. Terjadi kemacetan aliran dana di mana mana.

Bukan hanya bisnis perumahan tersendat, melainkan juga penjualan mobil menurun tajam dan banyak perusahaan melakukan clearance sale untuk tutup usaha. Tingkat pengangguran meningkat tajam hingga 6,1% dan pada September saja terjadi 150.000 orang PHK.

Sentimen negatif ini melanda bursa saham dan bursa komoditas. Arus jual makin hari makin deras dan indeks saham DOW dan Nasdag di bursa New York turun tajam memecahkan rekor penurunan setelah peristiwa 11 September 2001, ataupun rekor pada 1987.

Otoritas bursa melakukan tindakan pengamanan dengan menghentikan perdagangan short selling, membatasi margin trading dan mengurangi arus redemption (mencairkan) reksa dana, serta broker menaikkan fee transaksi saham finansial.

Bursa komoditas NYMEX terpaksa melakukan suspend untuk perdagangan minyak bumi karena pergerakan harga yang liar. Instrumen standar otoritas moneter dan fiskal ternyata sudah tidak mampu mengendalikan krisis ini.

Pemerintah menyodorkan paket darurat penyelamatan dengan julukan: Paket bailout US$700 miliar. Perjuangan untuk memperoleh dukungan dari Kongres ternyata tidak mudah. Senin 29 September, paket ini ditolak House of Representative dengan suara 228 menolak dan 205 menerima.

Ditolaknya Paket ini disambut pasar keesokan harinya dengan kenaikan indeks bursa saham Dow Jones 485,21 poin dan indeks saham teknologi Nasdag 98,60 poin.

Sebaliknya, harga logam di bursa NYMEX turun dan di bursa komoditas CBOT harga komoditas pangan naik tajam.

Paket Bailout US$ 700 miliar dibawa ke lembaga legislatif Senat untuk diperbaiki dan dilakukan kembali pungutan suara. Ditolaknya paket bailout oleh House of Representative menyebabkan Presiden Bush melakukan pertemuan darurat di Gedung Putih bersama otoritas moneter dan fiskal, Senat dan House of Representative, serta kedua capres.

Mengingat keadaan demikian kritis, maka Senat berusaha menyempurnakan rancangan Undang-undang ini dengan beberapa hal penting. Proses pencairan terbagi tiga tahap: US$250 miliar segera, US$100 berdasarkan Keppres, sedangkan US$350 miliar harus dengan persetujuan Senat.

Batas penjaminan simpanan oleh FDIC dinaikkan dari US$100.000 menjadi US$ 250.000. Pembelian aset dan utang bermasalah hanya untuk yang ada sebelum 14 Maret 2008. Untuk badan pelaksana (sejenis BPPN di Indonesia) dilakukan pengawasan berlapis dan dibatasi gaji pejabatnya.

Pada 1 Oktober, Senat menerima rancangan UU ini dengan suara setuju 74 dan menolak 25. Kedua capres dan wacapres ikut memberi suara dan mendorong agar rancangan diterima.

Krisis keuangan yang melebar kekrisis ekonomi ini telah berdampak secara global. Hampir semua bursa saham dunia anjlok dan perdagangan melemah serta banyak lembaga keuangan di ambang kritis. Bank Sentral di manca negara melakukan suntikan dana ke pasar dan menurunkan bunga. Gejolak bursa saham dan komoditas masih terus berlanjut. Berada di AS dengan denyut krisis ekonomi ini menaikkan detak jantung banyak investor, termasuk penulis.

Salah satu penghibur adalah turunnya minyak bumi di bawah US$90 perbarel (harga bensin sudah ada di bawah US$3 per galon) dan masih ada harapan perbaikan ekonomi yang akan terjadi lebih cepat, jika perubahan politik segera menjadi kenyataan setelah 4 November seusai Pilpres nanti. [Bisnis Indonesia]

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://g1s.org/ekonomi-bisnis/dalam-denyut-krisis-keuangan-as-949/trackback/

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.