April 30, 2008
Ekonomi dalam Kondisi Demam
Belum genap empat bulan perjalanan perekonomian 2008, tetapi berbagai permasalahan yang menghadang menjadikan langkah gontai berselimut pesimis menghadapi hari-hari ke depan. Boleh dikatakan kesehatan ekonomi mulai terganggu.
Di awal 2008, kebugaran pertumbuhan diprediksi pada kisaran 6,2% sampai 6,8% dengan nilai tengah 6,5%, tetapi tanpa disadari lawan tangguh yang harus dihadapi agar pertumbuhan tetap berkibar semakin sengit menghadang laju pertumbuhan. Dua seteru tangguh yang harus dihadapi adalah pukulan harga minyak dunia dan lonjakan inflasi. Mampukah pertumbuhan ekonomi menahan gempuran harga minyak, sekaligus menundukkan inflasi yang masih buas terhadap pertumbuhan ekonomi?
Hadangan harga minyak dunia yang masih liar tentu menerbitkan kecemasan karena berimbas kepada subsidi energi yang akan semakin membengkak hebat. Akibatnya porsi untuk pengeluaran pembangunan atau nonrutin makin kecil. Padahal kita tahu pengeluaran pemerintah masih menjadi salah satu kekuatan pemicu pertumbuhan yang diandalkan.
Memang bukan hanya kita yang terengah-engah mengikuti kencangnya harga minyak, negara sekuat Amerika Serikat (AS) pun terhuyung-huyung menghadapi lonjakan harga minyak, perekonomiannya tumbuh 0,1% pada kuartal pertama 2008. Hal itu meleset dari estimasi awal sekitar 0,3% dan oleh para ekonom diprediksi akan mengalami pertumbuhan nol pada kuartal kedua. Sejumlah pengamat meyakini importir minyak terbesar di dunia ini sudah berada dalam gerbang resesi. Di sisi lain, di Asia, inflasi tinggi menggempur India, sampai akhir bulan kemarin telah menyentuh 7%, angka ini cukup melejit dan merupakan tertinggi selama tiga tahun terakhir sehingga membuat Bank Sentral di sana berancang-ancang untuk menaikkan suku bunga sebagai penawar tingginya inflasi tersebut.
Kondisi di Indonesia juga hampir sama, inflasi pada kuartal I 2008 ini masih melonjak-lonjak, berkobarnya inflasi yang pada Januari mencapai 1,76% kemudian sedikit mereda pada Februari 2008 menjadi 0,77% dan pada Maret kembali inflasi menghentak dengan 0,97%. Jadi periode Januari-Maret ini laju inflasi sudah mencapai 3,41% padahal target dan asumsi pemerintah tahun ini hanya 6,5%. Jelaslah sangat sulit itu dipenuhi karena baru tiga bulan sudah lebih separuhnya. Belum lagi nanti akan ada musim-musim tertentu yang akan memicu kenaikan inflasi seperti pada bulan puasa menjelang Lebaran serta Natal dan Tahun Baru.
Setidaknya, ada tiga penyebab inflasi. Pertama, inflasi akibat permintaan barang dan jasa lebih besar dari pasokan (demand push inflation). Banyaknya uang beredar di masyarakat yang melebihi jumlah produksi barang dan jasa merupakan pemicu inflasi jenis ini. Inflasi jenis ini bisa memicu naiknya produksi sehingga keuntungan perusahaan naik. Tapi, bila inflasi ini berkelanjutan, harga-harga barang lain dan harga biaya tenaga kerja juga akan ikut naik. Akibatnya, daya beli masyarakat akan turun.
Kedua, inflasi yang dipicu kenaikan biaya (cost push inflation) yang otomatis membuat biaya produksi naik dan harga-harga melejit. Ketiga, imported inflation. Inflasi ini terjadi akibat biaya impor kita naik. Celakanya komponen pangan impor kita memiliki porsi besar dalam ekonomi kita, kenaikan tersebut akan memicu inflasi.
Donasi terbesar dari pengerek angka inflasi ini adalah belanja pangan yang memang banyak kita sandarkan pada impor. Jangan heran Amerika yang kita gambarkan sebagai negara industri maju, ternyata sektor pertaniannya punya andil dalam mengenyangkan perut kita, seperti belanja sayur kita ke sana angkanya cukup besar yakni US$7,4 juta, memang untuk komoditas ini kita paling royal terhadap China, impor sayur kita mencapai US$38,46 juta, belum lagi kebutuhan pencuci mulut atau buah-buahan sebesar US$52,74 juta kita belanjakan pada China, buah-buahan AS dan Thailand juga kita borong dengan nilai masing-masing US$32,68 juta dan US$15,57 juta. Apalagi terhadap gabah, beras dan olahannya kita begitu besar membelanjakan pada China yang sempat pada 2000 nilai impornya sebesar US$107,42 juta. Memang kini nilainya terus menurun tapi pengalihan impor pada negara lain untuk beras kita lakukan yakni sebanyak US$83,03 juta kita belanjakan pada Thailand dan Vietnam pun kebagian US$77,02 juta.
Menjinakkan inflasi
Bila melihat kenyataan ini, berbagai upaya dari Bank Sentral (BI) untuk memberangus inflasi memang tidak banyak yang bisa diperbuat, seperti upaya menaikkan suku bunga yang biasanya menjadi ramuan untuk menjinakkan inflasi pada kondisi saat ini tidak akan efektif dan memang sampai saat ini BI rate tidak beringsut dari 8%, mengerek tinggi-tinggi suku bunga saat ini bukan resep yang jitu untuk mengerem laju inflasi karena berlarinya inflasi bukan dipicu oleh kenaikan permintaan atas barang dan jasa. Tetapi menggelembungnya biaya impor karena kondisi gejolak pasar global terutama komoditas pangan, seperti beras putih dari US$274,67 per ton menjadi US$324,8 per ton atau naik 18,25%, kemudian gandum dari US$180,01 per ton melejit US$374,45 per ton, atau meroket 108,02%, jagung dari US$53,98 per ton merangkak menjadi US$80,3 per ton.
Jadi yang mungkin dapat dilakukan adalah menggenjot kapasitas produksi terutama pangan di dalam negeri hingga harga-harga turun. Selain itu, kendala teknis dalam negeri harus segera diurai oleh pemerintah seperti permainan spekulan. Tampak pemerintah masih kedodoran menghadapi kenaikan harga beras, tepung terigu, minyak goreng, dan juga bahan bakar seperti gas elpiji, bahkan di beberapa daerah kelangkaan dan tersendat pendistribusian menimpa gas elpiji.
Menjaga inflasi adalah tugas paling utama sekaligus paling berat. Harus berusaha dengan keras untuk menjaga stabilitas ekonomi, segala penyebab kenaikan laju inflasi perlu diantisipasi agar kondisi kesehatan ekonomi tidak semakin kronis sehingga mengganggu laju pertumbuhan ekonomi.
Agus Suman, Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang, Alumnus Universite Pierre Mendes France, Grenoble, Prancis. (Media Indonesia)
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!










Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.