Amazon.com Widgets

May 15, 2008

Pilihan pahit menaikkan harga BBM

Oleh Ragimun

Kalau kita simak perekonomian dunia sekarang ini tentu ada beberapa hal yang perlu dicatat. Ada beberapa faktor sebagai pemicu pergolakan (turbulance) ekonomi global. Pertama, kondisi ekonomi dunia tentu banyak dipengaruhi faktor 'perebutan' energi dunia di mana bahan bakar minyak (BBM) sebagai faktor dominan kemudian memicu krisis ekonomi di berbagai belahan dunia, yang kemudian diikuti krisis pangan. Krisis pangan banyak disebabkan oleh penggunaan energi alternatif akibat melonjaknya harga minyak dunia.

Yang kedua adalah konsentrasi pengembangan teknologi energi alternatif yang agak terlambat seiring dengan berkurangnya BBM yang berasal dari fosil. Hal ini tentu menyebabkan demand BBM dunia tidak seimbang dengan supply-nya, apalagi ditambah dengan spekulan harga minyak dunia banyak bermain.

Disinyalir pembentukan harga minyak dunia lebih banyak didominasi karena harga kontrak (forward contract), bukan harga riil. Tentu, kondisi seperti ini banyak memengaruhi ekonomi negara-negara yang masih sangat bergantung pada energi tidak terbarukan seperti halnya Indonesia.

Pada awal 2007, kondisi ekonomi Indonesia ditandai dengan adanya perbaikan ekonomi yang cukup bagus. Namun berbeda dengan kondisi 2008 ini, kondisi ekonomi Indonesia dipengaruhi tekanan yang cukup berat akibat kenaikan harga BBM dunia yang saat ini telah melampaui US$120 per barel, sementara asumsi APBN-P 2008 kita masih menggunakan patokan harga minyak US$90 per barel yang sebelumnya menggunakan asumsi APBN sebesar US$65 per barel.

Ditambah lagi naiknya harga komoditas pangan juga menambah berat tekanan ekonomi Indonesia. Harga komoditas pangan ini meningkat sekitar 50%-100% dalam setahun terakhir. Demikian juga kondisi pasar keuangan dunia, yang diawali Amerika Serikat mengalami krisis akibat subprime mortgage. Hal ini tentu menyebabkan likuiditas pasar keuangan global mengalami penurunan. Kondisi ini sedikit banyak berpengaruh juga terhadap kondisi ekonomi nasional.

Dampaknya pun bisa kita rasakan sekarang ini. Dari sisi APBN makin sulit sustainabilitas keuangan kita. Subsidi makin membengkak, defisit anggaran makin melambung dari 1,7% dari PDB tahun 2007 naik menjadi 2,1% dari PDB tahun ini.

Sulit dicapai

Oleh karena itu target-target pertumbuhan dan penyerapan pengangguran serta pengentasan kemiskinan makin sulit dicapai. Satu hal lagi yang paling berbahaya adalah apabila tingkat kepercayaan publik menjadi semakin menurun. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan serta ekspektasi masyarakat dan pasar.

Defisit anggaran bisa saja ditomboki dengan penerbitan surat utang negara (SUN) atau utang luar negeri. Namun, hal ini pun akan membawa konsekuensi buruk pada sustainabilitas APBN kita, sementara beban subsidi untuk BBM sangat tinggi maka tidak ada jalan lain yang lebih rasional adalah menyesuaikan harga BBM. Walaupun langkah ini merupakan langkah pahit bagi perekonomian kita, karena hitung-hitungannya jelas membawa konsekuensi tersendiri.

Kalau tidak ada alternatif lain, secara ekonomis kebijakan ini akan lebih baik apabila dibandingkan dengan membiarkan pemberian subsidi yang akan banyak menyedot keuangan negara. Dampak buruk lainnya adalah melebarnya disparitas harga BBM dalam dan luar negeri yang tentu sangat menggiurkan spekulan untuk menyelundupkan BBM.

Untuk saat ini saja beberapa negara telah melakukan kenaikan harga BBM. Seperti Malaysia merencanakan mencabut subsidi solar dan premium. Vietnam merencanakan kenaikan 30%. Termasuk China telah menaikkan harga BBM pada November tahun lalu ketika harga BBM dunia mulai merangkak naik. Artinya, semakin lebar disparitas harga BBM dalam dan luar negeri.

Kenaikan BBM tentu membawa risiko. Terlepas dari dampak sosial ataupun politis, justru penyelamatan ekonomi tentu menjadi prioritas nomor wahid. Asal kebijakan pengurangan subsidi dan kebijakan kenaikan BBM ini tepat waktu, tepat sasaran serta tepat implementasinya. Hal lain yang perlu diikuti adalah langkah-langkah penghematan penggunaan BBM baik di pihak swasta, apalagi di pihak pemerintah, penghematan dapat dilakukan dengan cara pengurangan penggunaan BBM maupun penghematan anggaran.

Kenaikan BBM jelas akan mengakibatkan target inflasi tidak tercapai di mana target inflasi 2008 sebesar 6,5%. Dengan asumsi APBN harga minyak dunia sebesar US$110 per barel, penyesuaian kenaikan rata-rata jenis BBM sekitar 30% dapat mengakibatkan inflasi lebih dari 11%. Inflasi akan lebih parah menjadi lebih dari 13% apabila pemerintah tidak melakukan tindakan penyesuaian harga.

Demikian juga pertumbuhan ekonomi akan menurun dari target pertumbuhan ekonomi 6,4% menjadi sekitar 5%. Namun apabila pemerintah melakukan tindakan penyesuaian harga BBM, ekonomi masih tumbuh sekitar 6%, sementara defisit anggaran 2008 yang diperkirakan membengkak menjadi 2,5%, dengan penyesuaian harga BBM, akan dapat ditekan menjadi sekitar 1,9%.

Di samping itu berdasarkan pengalaman, keragu-raguan pemerintah menaikkan atau tidak harga BBM akan mengakibatkan ketidakpastian yang mengakibatkan ekspektasi inflasi meningkat sehingga sangat rentan terhadap rumor, termasuk terjadinya spiral inflation. Hal ini juga berbahaya bagi kondisi sosial politik nasional.

Apabila tingkat kepercayaan masyarakat menurun, meskipun telah ada langkah-langkah koreksi akan tidak berarti karena dampak buruknya telah terjadi dan terlampau besar.

Salah satu paket mekanisme kebijakan penyesuaian harga BBM tentu program bantuan langsung tunai (BLT) dan progam-program kemiskinan lainnya sebagai peredam program penyesuaian harga BBM dapat segera dilakukan.

Namun, kebijakan ini akan tidak berarti apabila dalam tataran implementasinya tidak sesuai dengan janji-janji pemerintah. Jangan sampai warga miskin kita hanya menelan pil pahit sebagai imbas kebijakan yang salah sasaran.

Ragimun, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan (Bisnis Indonesia)

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://g1s.org/ekonomi/pilihan-pahit-menaikkan-harga-bbm-847/trackback/

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.