January 26, 2008

Polikista di Ginjal

Masalah :

Dengan hormat, saya mempunyai istri berusia 31 tahun, karena suka mengalami panas di pinggang, pertama saya kira karena kurang minum. kemudaian saya coba bawa ke rumasakit di bogor ke dokter specialis urologi, setelah di USG istri saya mengalami penyakit kista di ginjal kanannya yang menurut informasi dokter sudah multiple banyak, saya mohon informasi dokter apakah penyakit ini dapat di sembuhkan tidak dengan jalan operasi? atau dengan di beri obat?, dan faktor apakah istri saya mengalami kista? karena yang saya tau kami sudah berusaha melakokan pola hidup sehat?. sebelumnya terimakasih banyak atas jawaban dokter hormat kami kemas Bogor.

Kemas irfan, 32 tahun 

Jawaban :

Halo Pak Kemas, Kista adalah suatu kantung yang berisi air yang bisa terdapat dalam berbagai rongga dan organ tubuh manusia, salahsatunya ginjal. Pada umumnya kista tidak berbahaya, dan amat sangat jarang yang berkembang menjadi kanker, namun pada kista ginjal (Polycystic Kidney Disease) jika dibiarkan lama kelamaan bisa menyebabkan gagal ginjal. Kemungkinan besar jenis kista ginjal yang dialami istri Anda adalah autosomal dominant PKD yang merupakan jenis PKD terbanyak. Umumnya diderita orang berusia 30-40 tahun, dan penyakit ini sifatnya genetika/turunan. Jadi, bisa saja istri Anda mendapatkannya melalui genetika, dan pembentukannya bisa jadi dimulai sejak masa kanak-kanak, hanya saja saat ini karena jumlahnya banyak, maka istri Anda bisa merasakan adanya gangguan.

Penyakit ini cenderung tidak bisa disembuhkan, namun gejala-gejala yang terasa bisa dihilangkan. Misalnya, untuk mengatasi rasa nyeri, dokter akan memberikan resep obat penghilang nyeri. Pada penderita PKD yang termasuk rentan menderita infeksi saluran kemih, jika terjadi infeksi tentunya dokter akan memberikan antibiotik yang tepat. Memang operasi bisa dilakukan untuk mengecilkan kista agar tidak terasa nyeri lagi, namun hal ini tidak berarti menghentikan perkembangan kista, artinya suatu hari sangat mungkin timbul kembali. Yang terpenting adalah menjaga tekanan darah, karena fungsi ginjal bisa jadi sedikit terganggu oleh adanya kista, dan tekanan darah yang tinggi akan menyebabkan kerja ginjal menjadi lebih berat lagi dan mempercepat perkembangan kista.

Pola hidup dan pola makan sehat yang sudah Anda berdua jalani, alangkah baiknya diteruskan. Hindari makanan berkolesterol tinggi, alkohol, kopi, stres berlebihan, dan rutin berolahraga bisa memperlambat perkembangan kista menjadi lebih parah lagi. Dengan terdeteksinya PKD, ada baiknya istri Anda rutin melakukan check up kondisi kistanya secara reguler untuk memantau perkembangannya. Konsultasikan hal ini dengan dokter yang memeriksa istri Anda. Semoga jawaban kami bisa bermanfaat bagi Anda dan istri Anda. Salam dari Mediasehat!

Sumber : Mediasehat.com

Permalink • Print • Comment
Google

November 5, 2007

Kista dan BAB Berdarah

Masalah :

Assalamualaikum..

Satu tahun yang lalu saya terkena kista, namun alhamdulillah saya sudah sembuh, namun terkadang masih terdapat rasa nyeri pada perut saya bagian bawah. Kemudian 3 bulan yang lalu saya juga menderita wasir tapi tidak sampai operasi, dan saat ini setiap kali saya buang air selalu berdarah. Obat apa yang harus saya konsumsi? Lalu apakah riwayat penyakit saya tersebut dapat berpengaruh pada kesuburan rahim saya, mengingat saya akan segera menikah dan ingin cepat mendapatkan keturunan. Terima kasih.

Sukma

dewi_sukma at eramuslim.com

 

Jawaban :

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Saudari Sukma Yth.,

BAB disertai darah itu merupakan indikasi adanya masalah dalam sistem pencernaan anda, khususnya di usus besar. Hal ini menunjukkan bahwa pola makan anda kurang sehat, yakni tidak gemar menyantap sayur-sayuran dan kurang minum air putih. Akibatnya, kotoran yang ada di usus besar sulit menuju ke anus, kotoran tersebut malah menumpuk di sepanjang usus besar dan makin lama makin mengeras. Sehingga, terjadi gesekan antara permukaan usus dan tinja, dan kemudian menimbulkan darah saat anda BAB.

Sulit BAB merupakan salah satu penyebab terjadinya wasir. Sebenarnya, gejala wasir itu sendiri sudah terlihat, yakni adanya darah yang menyertai tinja. Cepat lambatnya tonjolan keluar tergantung dari berapa sering dan kuatnya anda mengejan saat BAB.

Dampak lain dari sulit BAB atau sembelit adalah tertekannya organ yang berada di bawah usus besar akibat penimbunan kotoran di usus besar yang menyebabkan usus menjadi turun ke bawah. Jika kebetulan rahim yang tertekan, maka akan sulit bagi anda untuk hamil karena tempat pembuahan sel telur telah tertutup oleh usus yang menekan ke bawah.

Anda dapat mencoba mengonsumsi Herba Tuju Angin, Pelawas dan Ficus. Herba Tuju Angin dan Pelawas sangat baik untuk memperbaiki sistem pencernaan dan usus, termasuk mengatasi sembelit dan sulit BAB. Sementara Ficus sangat baik untuk mengatasi wasir. Cara minumnya, ketiga herba tersebut diminum 2 kapsul pagi dan malam hari, 30 menit sebelum makan.

Bila wasirnya sudah menonjol keluar, maka anda perlu menggunakan Minyak But-But. Caranya, olesi pada usus yang keluar sambil menekan ke dalam perlahan-lahan.

Di samping itu, cobalah banyak mengonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Sangat dianjurkan banyak minum air putih, minimal 2,5 liter per hari. Hal ini untuk mencegah keluarnya usus yang disebabkan karena banyak mengejan ketika buang air besar. Dan, hindari mengangkat barang-barang berat, mintalah orang lain untuk mengangkatnya.

Masalah BAB mengeluarkan darah, bila anda mempunyai riwayat medis pernah menderita kista, harap diwaspadai agar kista itu tidak benar-benar kembali. Karena gejala yang anda rasakan memang merupakan gejala kista yang terasa nyeri di perut bagian bawah. Tidak ada salahnya ada mengunjungi dokter kandungan untuk meminta dilakukan USG, guna memastikan bahwa anda memang sudah benar-benar bersih dari kista.

Toto Buntoro

 

 

Sumber : EraMuslim

Permalink • Print • Comment
Google

March 25, 2008

Kista Ovarium, Ganaskah?

Pertanyaan:

Ass Wr Wb

Dokter, sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah membaca e-mail saya. Saya seorang mahasiswi, menderita tumor kista. Saya bingung dan takut sekali. Apakah sebenarnya penyebab penyakit kista, khususnya pada gadis seusia saya (19 tahun), dan adakah cara pengobatan tradisional yang bisa membantu penyembuhan penyakit saya tanpa harus menjalani operasi karena saya takut tidak memiliki keturunan. Apakah pengaruhnya jika penyakit ini saya biarkan terlalu lama.
Terima kasih, dokter, atas balasannya.

Wassalam Wr Wb

Ina, Medan

 

Jawaban :

Kista umumnya tidak ganas, tetapi ada juga yang bersifat kanker. Walaupun tidak ganas, adanya kista di ovarium biasanya mengganggu siklus menstruasi dan menimbulkan rasa nyeri di perut bagian bawah. Karena itu, jika terdapat kista sebaiknya segera minta penanganan dokter ahli.

Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal-normal saja. Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang, dan gambarnya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran di bawah 5 cm, dan dalam tiga bulan akan hilang. Jadi, kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan.

Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena dia masih mengalami menstruasi. Bila seseorang diperiksa ada kista, jangan takut dulu, karena mungkin kistanya bersifat fisiologis. Biasanya kista fisiologis tidak menimbulkan nyeri pada saat haid.

Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60 -70 persen pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer. Angka kejadian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.

Sampai sekarang belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk memeriksa adanya keganasan ovarium itu. Sekarang yang bisa dipakai masih menggunakan USG, tetapi itu agak sulit kalau diterapkan secara massal karena biayanya cukup mahal. Berbeda halnya dengan kanker serviks (mulut rahim -Red) yang bisa dideteksi dini dengan papsmear.

Untuk menurunkan risiko keganasan ovarium orang menggunakan pil KB. Risiko terjadinya kanker ovarium pada mereka bisa lebih kecil. Karena kanker ovarium terjadi kalau ovariumnya aktif, mengalami pertumbuhan folikel. Tapi dengan menggunakan kontrasepsi hormonal, terutama pil KB, proses itu pada ovarium ditekan, sehingga risikonya terjadi keganasan pada ovarium akan menurun.

Faktor apa saja yang dapat menyebabkan kanker? Cukup banyak! Makanan tinggi lemak dan kurang serat, zat-zat tambahan sintetik pada makanan, kurang olahraga, merokok, polusi, virus, sering stres, dan masih banyak lagi yang lain. Pokoknya gaya hidup yang tidak sehat berpotensi memicu dan memacu pertumbuhan kanker.

Faktor genetik juga berpengaruh. Ada sebagian orang yang secara genetik lebih besar kecenderungannya untuk menderita kanker, ada pula orang yang secara genetik lebih kecil kemungkinannya. Sebab itu, jika dalam riwayat kesehatan keluarga kita ada beberapa orang yang diketahui menderita kanker, misalnya ayah, ibu, kakak, paman, bibi, kakek, nenek, dan lain-lain, maka kita harus lebih waspada menghindari faktor-faktor lain yang dapat memicu kanker. Harus lebih selektif memilih makanan yang sehat, lebih teratur berolahraga, jangan merokok, dan hindari hidup di antara para perokok.

Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang potensial memicu kanker, yaitu yang disebut proto-onkogen. Karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen (karsinogen artinya dapat menyebabkan kanker), polusi, atau terpapar pada zat-zat kimia tertentu, atau karena radiasi, proto-onkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

Gejala dan tandanya
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama.

Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut), dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas.

Karena sebagian besar dari kasus kanker ovarium bermula dari suatu kista, maka apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). Kewaspadaan terhadap kista yang bersifat ganas dilakukan bila:

1. Kista cepat membesar.
2. Kista pada usia remaja atau pascamenopause.
3. Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan.
4. Kista dengan bagian padat.
5. Tumor pada ovarium.

Kista ovarium ini bersifat neoplasti, ada yang jinak dan ganas. Pada kista ovarium yang jinak sebaiknya diangkat. Terdapat risiko yang paling ditakuti yaitu mengalami degenerasi keganasan. Di samping itu juga bisa mengalami torsi atau terpuntir sehingga menimbulkan nyeri akut, perdarahan, atau infeksi. Sedangkan prosedur operasi pada pasien yang tersangka kanker ovarium sangat berbeda dengan kista ovarium biasa.

Hal terpenting pada operasi pasien yang tersangka kanker ovarium adalah semaksimal mungkin berusaha agar kista tersebut keluar secara utuh, kemudian dilakukan pemeriksaan ke laboratorium Patologi Anatomik (pemeriksaan potong beku). Apabila hasil pemeriksaan potong beku bukan suatu kanker, maka operasi selesai. Sebaliknya bila hasil pemeriksaan potong beku adalah kanker ovarium maka operasi dilanjutkan dengan mengangkat rahim, ovarium sisi lain, usus buntu, omentum, melakukan biopsi pada tempat yang dicurigai adanya penjalaran kanker di rongga perut dan melakukan pengambilan kelenjar getah bening di panggul.

Sebaiknya tidak mengobati kista ovarium dengan pengobatan tradisional melihat kemungkinan terjadi keganasan. Konsultasikan dengan dokter Anda. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Terima kasih.

 

 

Sumber : Republika Online

Permalink • Print • Comment

January 15, 2008

Penyakit Ginjal Tanpa Gejala Sama Sekali

Tanya:

Saya berumur 41 tahun, sudah enam bulan lebih kontrol ke dokter dekat rumah. Tahun yang lalu pada saat check up kesehatan di kantor, hasil pemeriksaan laboratorium dan rontgen dada semuanya baik, kecuali pada air seni saya terdapat sel darah merah dalam jumlah sedikit, kalau tidak salah 6-8 buah. Oleh kantor saya diminta memeriksakan diri lebih lanjut, saya pikir cukup ke dokter umum dekat rumah saja.

Dokter memeriksakan hal-hal sebagai berikut: laboratorium, foto ginjal dan hasilnya ternyata semua normal kecuali lagi-lagi terdapat sel darah merah pada air seni. Dari pemeriksaan tersebut dokter menyatakan tidak ditemukan hal-hal yang dapat menyebabkan ke-lainan tersebut, misalnya batu, tumor atau infeksi. Pemeriksaan air seni saya diulang sampai empat kali selang waktu satu bulan selalu terdapat sel darah merah dalam jumlah sedikit antara 4 sampai 8 buah, lain-lainnya tetap normal termasuk protein dalam air seni negatif.
Saya merasa sehat dan tidak terdapat gejala-gejala lain yang mencurigakan seperti bengkak, sakit di pinggang, dsb.
Pertanyaan saya: Apakah hal ini merupakan suatu penyakit? Apakah dapat berkembang menjadi serius atau parah? Apa yang dapat saya lakukan? Terima kasih atas jawaban Dokter.

Tatang N. Bogor

Jawab:

Sdr. Tatang yth, adanya sel eritrosit (sel darah merah) di urin di atas normal (Normal = 0 – 1 buah/LPB Lapang Pandang Besar) dan konsisten pada beberapa pemeriksaan menandakan adanya kelainan pada sistem saluran kemih Sdr. Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter (penghubung ginjal dan kandung kemih), kandung kemih dan uretra. Kelainan tersebut di atas bisa pada ginjal atau pada bagian-bagian di bawah ginjal: ureter, kandung kemih, dsb.

Penyebab. Secara teoretis beberapa penyebab yang serius adalah sbb:
1. Kanker: dapat terjadi pada ginjal, kandung kemih dan prostat
2. Batu ginjal atau saluran kemih lainnya
3. Penyakit pada saringan darah ginjal (glomerulonefritis)
4. Penyakit ginjal polikistik: terdapat banyak kista (gelembung berisi cairan)
5. Infeksi-infeksi pada ginjal, ureter, kandung kemih, uretra, prostat: baik infeksi biasa, juga infeksi TBC (tuberkulosis saluran kemih), jamur, dsb.
6. Penyumbatan ureter
7. Benturan /trauma pada ginjal
8. Akibat obat-obatan ”pengencer” darah

Selain itu: penyebab lain misalnya setelah berlari jarak jauh, berolahraga berat, dan pada kehamilan.
Pemeriksaan. Dari data yang Sdr. berikan, maka saran saya, hal pertama yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan sederhana yaitu pemeriksaan sel eritrosit pada urin untuk menentukan apakah berasal dari ginjal (misalnya dari saringan /Glomerulus) atau berasal dari bagian-bagian di bawah ginjal. Selain itu diperiksa juga ”kebocoran” protein yang halus di urin yaitu mikroalbuminuria. Bila hasilnya di atas normal (Normal = 30 mg/24 jam) dan menetap pada beberapa kali pemeriksaan, maka ini berarti suatu kelainan pada Glomerulus, disebut Glomerulonefritis.

Penyakit ini sesungguhnya terbagi lagi dalam beberapa jenis. Bila misalnya kebocoran protein makin banyak, misalnya di atas 1 gr / 24 jam, maka sebaiknya dilakukan biopsi ginjal dan jaringannya diperiksa di bawah mikroskop maupun pemeriksaan imunologi lainnya, dan biasanya dapat dipastikan secara akurat jenis Glomerulonefritis-nya. Penentuan jenis ini akan dapat memperkirakan apakah penyakit ini akan mudah sembuh atau berjalan dalam kondisi ringan saja ataukah berjalan ke arah yang progresif makin meningkat dari waktu ke waktu sampai menjadi parah sehingga fungsi ginjal melorot rendah dan diperlukan cuci darah atau transplantasi.
Contoh kasus. Ada seorang pasien saya umur 37 tahun dengan keadaan mirip dengan Sdr. Tatang. Yang bersangkutan berobat pada tahun 2001 (sampai sekarang). Mula-mula ybs. datang dengan keluhan sudah setahun urin-nya pada pemeriksaan berkali-kali selalu ada eritrosit sekitar 10.

Saya segera minta dilakukan pemeriksaan lengkap: laboratorium, USG dan rontgen ginjal, dan hasilnya data-data penting adalah sbb: fungsi ginjal normal, kreatinin 0,8 mg/dl, urin protein negatif, eritrosit 10-15 buah per LPB, tetapi pengukuran mikroalbuminuri menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu : 614 mg/24 jam.

Saya berkesimpulan pasien ini menderita Glomerulonefritis Kronik dengan presentasi klinik Hematuri dan Proteinuri Asimtomatik. Pengobatan dilakukan dengan memberikan obat-obat yang bersifat antiproteinuria, yang juga menekan peradangan (inflamasi) di Glomerulus, tidak digunakan obat steroid. Pasien ini dimonitor cukup intensif, mula-mula dua bulan sekali, lama-lama 4-5 bulan sekali. Pasien ini tidak dibiopsi ginjal karena kebocoran proteinnya minim / tidak parah.

Setelah pengobatan berlangsung empat tahun, pada akhir 2004 hasilnya cukup memuaskan, proteinuria tetap negatif, kreatinin 1,0 mg/dl , mikroalbuminuria berkisar sekitar 150 mg/24 jam, lain-lainnya tetap normal.

Tentang Sdr. Tatang, kalau pemeriksaan-pemeriksaan menghasilkan data-data yang mirip dengan gambaran di atas, maka penyakit Sdr. dapat disebut Glomerulonefritis Kronik (ringan). Saya sarankan Sdr. berobat secara periodik dan teratur agar dapat dimonitor secara kontinu. Sekali-sekali berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Ginjal-Hipertensi. Mudah-mudahan penyakit Sdr dapat sembuh atau paling tidak terpelihara dalam kondisi yang ringan. Demikian jawaban saya, mudah-mudahan dapat bermanfaat.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro-Konsultan Ginjal-Hipertensi RS Mediros

 
Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

February 9, 2008

Tujuh Keliling: Penyakit yang Bikin Pusing

Tanya:

Dokter Yth, saya ingin bertanya mengenai penyakit Ibu saya. Berumur 46 tahun, sejak satu tahun lalu sering menderita pusing tujuh keliling disertai mual dan kadang-kadang muntah. Kejadian ini kadang timbul dua atau tiga minggu sekali. Pernah sembuh selama lima bulan tanpa pusing dan mual. Akhir-akhir ini penyakitnya kambuh lagi, kadang-kadang pusing tidak mau hilang sampai dua-tiga hari. Gejala penyakitnya saat ini makin merepotkan karena pada saat pusing tujuh keliling disertai dengan bunyi berdenging di telinga dan kurang dengar terutama pada telinga kiri, dirasakan bila ada serangan.

Ibu saya sudah sering berobat ke dokter diberi obat dramamine, neuralgin dan vitamin, sembuh sebentar kemudian kambuh lagi. Ibu pun pernah mencoba pengobatan alternatif berupa akupunktur dan minum ramuan tetapi kurang memuaskan. Mohon nasihat dokter mengenai penyakit yang diderita, cara penobatan, pantangan yang harus dihindari dan apakah penyakit ini berbahaya? Mohon jawaban segera. Hormat saya,

Siska, Tulung buyut, Lampung

Jawab:

Sdri Siska Yth, dalam mendiagnosis penyakit, dokter perlu mendengarkan riwayat penyakit penderita secara langsung, juga memeriksa penderita secara langsung. Hal ini penting dalam menentukan diagnosis yang cermat dan pengobatan yang tepat. Sebagai bahan pertimbangan berikut akan saya jelaskan kemungkinan penyakit Ibu Anda.

Vertigo. Istilah ”Tujuh keliling” cukup populer di masyarakat. Digambarkan kelainan yang diderita oleh seseorang berupa perasaan atau sensasi berputar yang kadang disertai mual dan muntah. Ini dirasakan bervariasi, bisa seolah penderita merasa dinding atau sekitarnya berputar, ataupun ia merasa dirinya yang berputar dan juga berupa gangguan keseimbangan (imbalance / unsteadiness). Gangguan timbul oleh kelainan tersebut sering dirasakan dalam berbagai keadaan. Mulai dari yang berat yang mengakibatkan sulit bangun, berdiri, bahkan takut membuka mata sekalipun. Dan sampai pada sensasi yang ringan berupa gangguan keseimbangan. Sensasi di atas sering disebut Vertigo.

Guna mencari kemungkinan penyebab, dokter perlu menanyakan riwayat penyakit, melakukan pemeriksaan fisik, laboratorik, radiologik umum ataupun khusus seperti CT Scan kepala dan telinga. Saya sebagai spesialis THT selain hal di atas juga perlu melakukan pemeriksaan audiologi umum, impedance dan pemeriksaan audiologi khusus selektif. Pemeriksaan analisis gerakan bola mata penderita dapat dilakukan bedside, secara sederhana dokter meminta penderita tidak menggerakkan kepalanya sementara arah penglihatannya mengikuti gerakan jari telunjuk dokter, bila terdapat gerakan bola mata yang involunter baik horizontal, vertikal ataupun rotatoar maka dokter akan mengatakan terdapat Nistagmus, pemeriksaan ini dapat dilakukan lebih teliti dan akurat dengan menggunakan alat Electronystagmography (ENG).

Penyebab. Ada banyak penyakit atau kelainan yang menyebabkan keluhan pusing tujuh keliling, secara sederhana penyebab tersebut dapat dibagi atas:

1. Penyebab Sentral, keluhan tujuh keliling berasal dari kelainan di sistem saraf pusat misalnya penyakit pembuluh darah otak, tumor otak atau pascacedera kepala;

2. Penyebab Perifer, pusing tujuh keliling berasal dari kelainan lokal di telinga seperti komplikasi intra kranial radang telinga tengah kronis, benign paroksismal postlional vertigo dan infeksi virus;

3. Penyebab Sistemik, gejala tujuh keliling timbul akibat adanya penyakit yang bersifat sistemik seperti diabetes mellitus, intoksikasi zat atau obat;

4. Penyebab lain seperti kelainan refraksi dan masih banyak lagi penyebab lain.

Sindrom Meniere (SM). Berkaitan dengan keluhan berulang dan bersamaan dengan gejala gangguan fungsi pendengaran (telinga berdenging dan atau kurang dengar) yang hilang timbul (fluktuatif), terutama mengenai satu sisi pada penderita yang berusia di atas 40 tahun perlu dipikirkan kelainan yang disebut sebagai Sindrom Meniere (SM). Seperti diketahui, telinga manusia terbagi atas telinga luar (external ear), telinga tengah (middle ear) dan telinga dalam (inner ear). Pada telinga dalam terdapat sistem koklevestibularis, sistem ini merupakan gabungan dari sistem vestibularis (organ keseimbangan) dan sistem koklearis (organ pendengaran) yang saling berhubungan melalui saluran yang disebut duktus reuniens. Di dalam sistem tersebut terdapat organ sensorik pendengaran dan organ sensorik keseimbangan yang diliputi oleh cairan (endolimf). Penyebab dari SM adalah peningkatan tekanan cairan endolimf (hydrops) dari sistem duktus vestibulokoklearis. Karena kedua sistem ini saling berhubungan, maka dapat dipahami peningkatan tekanan endolimf akan menyebabkan tertekannya baik mekanisme sensor keseimbangan maupun pendengaran yang menimbulkan gejala gangguan keseimbangan maupun pendengaran.

Gejala SM. Untuk memudahkan dalam mengenal gejala SM maka secara sederhana dapat dibagi atas:

1. Gejala gangguan keseimbangan berupa serangan berulang yang dapat disertai mual dan muntah. Dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam. Di luar serangan penderita bebas dari gejala atau paling-paling hanya mengeluh gangguan keseimbangan ringan;

2. Gejala gangguan pendengaran fluktuatif berupa telinga berdenging dan atau kurang dengar yang timbul bersamaan dengan serangan tujuh keliling.Pada beberapa penderita sering mengeluh rasa penuh pada telinga ataupun hipersensitif telinga yang sakit pada bunyi dengan intensistas tinggi. Pemeriksaan audiometri nada murni akan menunjukkan penurunan ambang dengar nada rendah. Di luar serangan fungsi pendengaran dapat normal kembali atau mungkin saja hanya mengeluh telinga berdenging.

Dalam menentukan diagnosis SM perlu diyakini tidak terdapat kelainan lain seperti kelainan di sistem saraf pusat, tumor saraf krnaial ke VIII, kelainan sistem vestibulokoklearis dan beberapa kelainan lain seperti yang telah disebutkan di atas.

Pengobatan SM. Pengobatan SM dapat digolongkan atas:

1. Pengobatan saat serangan, berupa tirah baring (bedrest) dengan alas tidur yang rata, kurangi gerak, upayakan untuk membuka mata dan melihat pada sat titik fiksasi, bila selalu merasa mual dan muntah cobalah untuk mengurangi minum. Bila keadaan di atas masih tetap berlanjut segera ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang diperlukan;

2.Pengobatan saat serangan sudah mereda, berupa pemberian obat-obatan yang ditujukan untuk memperbaiki regulasi cairan di telinga dalam, mengurangi frekuensi serangan serta mensupresi sistem vestibuler;

3. Pengobatan dietetik dilakukan untuk menjaga stabilitas cairan tubuh dan menghindari terjadinya kelebihan cairan di telinga tengah, pengobatan berupa makanan dan minum secukupnya, kurangi konsumsi garam, upayakan untuk mengkonsumsi buah segar, hindari kopi, teh, coklat, alkohol, penyedap masakan dan berhenti merokok;

4. Pengobatan lanjutan: mintalah nasihat pada dokter Anda mengenai obat-obatan yang boleh digunakan dan yang tidak boleh digunakan, serta rencana pengobatan selanjutnya.

Prognosis SM saja, tidak membahayakan kehidupan akan tetapi SM yang tidak diobati akan membuat kehidupan menjadi tidak nyaman, mengganggu kegiatan sehari-hari, memudahkan timbulnya depresi kejiwaan sehingga menganggu aktivitas sosial, menyebabkan penurunan fungsi pendengaran sehingga menimbulkan kendala dalam berkomunikasi sehari-hari.

Pada akhirnya saya anjurkan Anda untuk segera mengajak ibu Anda agar berobat langsung ke dokter spesialis THT atau spesialis neurologi untuk memastikan kelainan yang diderita dan mengobatinya. Salam untuk Anda sekeluarga.

Dr.Hari Purnama, SpTHT-Dokter Spesialis THT

RS Mediros, Jakarta

 

Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

February 8, 2008

Penyakit Jantung Koroner Pembunuh Nomor Wahid

Tanya:

Saya berumur 56 th, berbadan gemuk. Saya pernah ditensi agak naik yaitu 155/100 tahun yang lalu tetapi sesudah itu saya belum lagi mengecek tekanan darah saya. Dua bulan lalu saya merasa sakit di dada kiri pagi hari sewaktu di kantor, tetapi hanya sebentar. Kemudian bulan lalu datang lagi rasa nyeri tersebut dan saya memeriksakan diri ke kantor, dilakukan pemeriksaan EKG. Saya dinyatakan pembuluh darah jantung menyempit kemudian diberi obat dan diminta menurunkan berat badan, selain itu juga harus diet karena kadar kolesterol saya agak naik.

Pertanyaan saya: mengapa saya bisa mendapat penyakit ini, padahal keluarga saya (ayah, ibu dan kakak-kakak serta adik) tidak ada yang menderita penyakit jantung ini? Apakah karena gemuk dan kolesterol ?

Dudit, Jatibening


Jawab:

Saudara Dudit yth, untuk menjawab pertanyaan saudara, saya akan jelaskan tentang penyakit jantung koroner seperti yang saudara alami tersebut.

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyebab kematian terbesar di banyak negara di dunia. Di Indonesia prevalensi PJK menunjukkan peningkatan. Survey Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRT) tahun 1972 menunjukkan PJK masih merupakan penyebab kematian urutan ke-11, pada SKRT berikutnya tahun 1986 menempati urutan ke-3 dan pada tahun 1992 PJK telah merupakan penyebab kematian pertama untuk usia di atas 40 tahun.

Apa itu Penyakit Jantung Koroner? Pada PJK terjadi penyempitan pembuluh darah koroner, yaitu pembuluh darah yang menyediakan/mensuplai darah dan oksigen untuk otot jantung. Penyempitan ini terjadi oleh karena proses aterosklerosis, di mana terjadi penebalan dari dinding pembuluh darah arteri oleh karena kolesterol dan lemak yang mengendap di dinding bagian dalam dari arteri. Lapisan endapan atau deposit lemak ini disebut plak (plaque). Plak ini mempersempit aliran darah dan oleh karena sifatnya lengket, akan menarik butir-butir darah sehingga terjadi gumpalan atau clot. Plak aterosklerosis ini dapat membesar dan mengeras serta menghalangi aliran darah yang memberikan supply ke otot-otot jantung. Lama-kelamaan gumpalan darah di dalam arteri yang sudah menyempit ini menutup aliran darah ke sebagian otot jantung dan dapat menyebabkan serangan jantung. Bisa juga terjadi plak ini robek kemudian isi lemaknya keluar dari dinding masuk ke dalam pembuluh darah dan menutup aliran darah.

Apa penyebab Penyakit Jantung Koroner? Ada beberapa faktor yang dapat merupakan risiko terjadinya PJK, di antaranya kolesterol, hipertensi, merokok, obesitas/gemuk, diabetes mellitus, gender dan usia.

1. Kolesterol. Dari berbagai faktor risiko, peningkatan kadar kolesterol LDL (hiperlipidemia) dianggap sebagai faktor risiko independen untuk meningkatnya morbiditas akibat infark miokard. Hubungan antarkadar kolesterol dan penyakit jantung koroner telah terbukti. Bahwa pada mereka dengan kolesterol total > 200 mg/dl, kematian PJK akan meningkat dengan tajam. Setiap kenaikan kadar kolesterol total 50 mg/dl akan diikuti kenaikan angka kematian koroner tersebut menjadi dua kali lipat. Dalam menilai peningkatan kadar lemak darah, perlu juga diperhatikan kadar kolesterol HDL. Hiperlipidemia perlu diperhatikan apabila: a) Kolesterol HDL <35 mg/dl pada pria atau < 42 mg/dl pada wanita; b) Rasio kolesterol LDL: Kolesterol HDL > 5; c) Terdapat Trigliserid yang tinggi disertai kadar kolesterol HDL yang rendah. Skema berikut adalah petunjuk NCEP (National Cholesterol Education Program) untuk penatalaksanaan dislipidemia serta sasaran pengobatannya berdasarkan kadar kolesterol LDL.

2. Hipertensi. Merupakan faktor risiko PJK yang sangat penting, di samping cenderung terjadi bersamaan dengan faktor risiko lain seperti dislipidemia, diabetes dan obesitas. Sasaran penurunan tekanan darah adalah tekanan sistolik menjadi < 140 mmHg ; tekanan diastolik < 85 – 90 mmHg. Namun pada golongan usia di atas 75 tahun sasaran perlu disesuaikan.

3. Diabetes Mellitus. PJK serta aterosklerosis perifer merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang utama pada pasien diabetes. Peningkatan risiko pada diabetes antara lain disebabkan kelainan lipid: Triglycerid yang tinggi, kolesterol HDL yang rendah serta kolesterol yang tinggi.

4. Obesitas. Harapan hidup paling tinggi terdapat pada BMI (Body Mass Index) antara 20-25. Menghitung BMI adalah sbb. Berat badan (dalam kg) dibagi tinggi badan2. Penurunan berat badan penting dan perlu dalam pengendalian hipertensi. Dislipidemia dan diabetes. Pada obesitas perlu diperhatikan mengenai distribusi lemah tubuh (obesitas sentral) serta beratnya obesitas.

Pengobatan. Secara umum pengobatan terdiri dari 1. Diet ; 2. Olah raga ; 3. Obat-obatan; 4. Angioplasty ; 5. Operasi By-Pass
Sdr. Dudit yth, kelihatannya memang masalah gemuk dan kolesterol memberi pengaruh kepada jantung saudara sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah koroner. Saudara tidak menyebutkan tentang keadaan tekanan darah saudara, bila ada tekanan darah tinggi, saya yakin dokter Saudara telah memberikan perhatian untuk hal tersebut. Yang penting, lakukan kontrol dan monitor darah /laboratorium secara teratur dengan konsultasi pada dokter.
Demikian jawaban saya, semoga dapat membantu Saudara.

Dr. T. Sibarani, SpPD.JP - Spesialis Penyakit Dalam & Jantung

 

 
Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

February 4, 2008

Nyeri Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik

Tanya:

Ayah saya berumur 54 tahun, sejak th 90-an menderita penyakit ginjal namun beliau berobat tidak teratur. Kemudian akhirnya pada th 1998 fungsi ginjal sudah sangat rendah, disebut oleh Dokter: Gagal Ginjal Terminal, sehingga terpaksa menjalani pengobatan hemodialisis. Saat ini ayah menjalani hemodialisis dua kali seminggu dengan jadwal Rabu dan Sabtu, tapi kadang-kadang beliau mengundurkan jadwal menjadi lima hari sekali atau bahkan seminggu sekali. Obat-obat yang diminumnya a.l. Folic Acid, Calcium Carbonat, dan beberapa vitamin, selain itu juga suntikan Eprex 2 kali seminggu, kadang-kadang diperpanjang seminggu sekali atau sebulan dua kali bila kadar darahnya (Hb) sudah cukup baik.

Akhir-akhir ini kurang lebih sejak tiga bulan lalu, ayah merasa nyeri di pangkal paha kanan. Beliau telah berobat ke dokter, dari berbagai pemeriksaan laboratorium, rontgen, maka dokter menyimpulkan ayah terkena kelainan tulang karena penyakit ginjal kronik.
Pertanyaan saya, apakah penyakit ini cukup serius, apa sebenarnya penyebab penyakit ini dan bagaimana pengobatannya?

Joko A,

Cawang, Jakarta Timur

 

Jawab:

Dari keterangan Anda, maka diperkirakan penyakit tulang yang diderita ayah Anda disebut Renal Osteodystrophy. Penyakit ini terjadi pada pasien-pasien Gagal Ginjal Terminal yang dapat terus berkiprah karena menjalani pengobatan pengganti ginjal misalnya hemodialisis atau CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), sehingga proses-proses patologis yang mengganggu tulang dapat berlangsung. Jenis penyakit tulang tersebut antara lain Osteomalacia, Osteitis Fibrosa Cystica. Penyakit tulang ini terjadi pada sebagian pasien yang menjalani dialisis kira-kira sebesar 10 %. Selain terjadi gangguan tulang, dapat juga terjadi gangguan di luar tulang (extra-skeletal). Penyakit tulang ini memang dapat memberikan rasa nyeri, dapat juga menyebabkan patah tulang (fraktur).

Bagaimana dapat timbul penyakit tulang ini pada pasien penyakit ginjal? Sebenarnya mekanismenya cukup rumit dan panjang, terdapat berbagai rangkaian proses rumit yang menyebabkan penyakit ini. Saya mencoba menyederhanakan penjelasannya agar mudah dimengerti. Pada pasien Gagal Ginjal Terminal, fungsi ginjal sangat rendah sehingga tidak mampu membuang ”sampah” dari tubuh, termasuk suatu bahan yang disebut Fosfor. Akibatnya kadar fosfor meningkat dalam darah, disebut hiperfosfatemia. Akibat hiperfosfatemia maka bahan lain yaitu Kalsium kadarnya harus diturunkan, yaitu dengan membuang keluar dari darah ke dalam jaringan bukan tulang (metastatic / ectopic calcification), misalnya ke jaringan lunak sekitar sendi, ke dinding pembuluh darah, ke organ jantung, paru, ginjal, juga ke kulit dan jaringan di bawah kulit, bisa juga ke mata.

Karena kalsium darah rendah, maka ada proses ikutan lain yang terjadi, yaitu peningkatan kerja Kelenjar Paratiroid sehingga produksi hormon paratiroid meningkat, hormon ini berperan pada perkembangan tulang. Peningkatan hormon paratiroid ini sebenarnya dimaksudkan untuk meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Setelah kadar kalsium dalam darah meningkat, terjadi lagi hal yang tadi dijelaskan, yaitu kalsium dibuang keluar dari darah. Hal ini berlangsung terus-menerus sehingga lama-kelamaan massa tulang berubah sehingga timbullah penyakit pada tulang. Kelainan ikutan yang lain adalah terganggunya produksi metabolit vit. D.

Jadi gangguan pada pasien bisa berupa gangguan pada tulang: Renal Osteodystrophy, tetapi juga bisa di luar tulang: pengapuran pada paru, pengapuran pada dinding pembuluh darah sehingga organ dapat terganggu misalnya jantung = gagal jantung, infark, pada otak = stroke dsb. Dapat juga terjadi pengapuran pada mata. Keadaan lain yang cukup mengganggu adalah timbulnya gatal (pruritus).

Pengobatan yang diberikan pada dasarnya adalah sebagai berikut:

  • Hemodialisis harus dilakukan teratur dan adekuat, jangan mengulur jadwal
  • Monitor kadar kalsium, fosfor dan hormon paratiroid. Kadar kalsium bisa rendah, bisa tinggi, tetapi yang lebih berbahaya adalah kadar fosfor yan tinggi. Perkalian nilai kadar kalsium dan nilai fosfor, disebut sebagai Calcium Phosphor product (CPP) agar dijaga normal yaitu di bawah 50, makin tinggi CPP ini akan semakin tinggi potensi kelainan-kelainan terutama ekstra skeletal.
  • Perhatikan diet rendah fosfor: 800 – 1000 mg per hari, bahan yang tinggi fosfor a.l. Produk susu, kacang-kacangan, coklat, hati, ikan berlemak, coke.
  • Diberikan obat-obat sesuai dengan kondisi faktual: obat pengikat fosfor a.l. kalsium karbonat, juga diberikan vit D sterol: kalsitriol
  • Kadang-kadang diperlukan operasi kelenjar paratiroid.
  • Penyakit dapat menjadi serius bila proses-proses tsb di atas berkembang/berjalan terus. Sebaiknya pengelolaannya ditangani Dokter Spesialis Ginjal / Nefrolog.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro - Konsultan Ginjal-Hipertensi

RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

February 3, 2008

Banyak Obat pada Penyakit Ginjal Kronik

Tanya:

Dari jawaban Dokter pada ruang konsultasi yang lalu, saya telah mendapat gambaran yang cukup jelas tentang banyaknya pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan pada pasien penyakit ginjal, sehingga saya tidak perlu lagi mengajukan pertanyaan tentang hal tersebut.

Saya mempunyai kakak laki-laki berumur 49 tahun yang menderita Penyakit Ginjal, kata Dokter karena penyakit diabetesnya. Bulan lalu pada waktu kontrol didapat kadar gula darahnya cukup baik, puasa 115, 2 jam sesudah makan 145. Data-data lain : Hb 9,3 , kadar kreatinin 2,6 , ureum 86, kolesterol 225. Tekanan darahnya sekitar 140-145/90-95, berat badannya adalah 65 kg sedangkan tinggi badan 162.

Kakak saya mendapat berbagai obat-obatan yang dianggapnya terlalu banyak. Obat-obat yang diminumnya a.l. Diamicron, Glucophage, Diovan, Triatec, Calcium Carbonate, Folic Acid, Ketosteril, Lipitor, Suntikan Eprex ditambah vitamin.
Pertanyaan saya: apakah memang perlu obat begitu banyak, mengapa tidak cukup hanya dua- empat macam? Mohon penjelasan Dokter atas pertanyaan saya.

Ny. Bambang, Kelapa Gading

Jawab:

Pertanyaan Ny Bambang baik sekali dan memang perlu ditanyakan.
Dari data-data tersebut, penyakit yang diderita kakak Sdr adalah: Penyakit Ginjal Kronik (PGK/ Chronic Kidney Disease) karena kemungkinan besar Nefropati Diabetik, suatu kelainan ginjal akibat penyakit Diabetes yang biasanya sudah berlangsung agak lama. Ditandai oleh kebocoran protein yang terdeteksi pada urinnya serta penurunan fungsi ginjal. Kebocoran protein perlu dihambat/ditekan seminimal mungkin untuk melindungi ginjal dari kerusakan-kerusakan yang lebih jauh. Selain itu juga terdapat hipertensi, peninggian kadar kolesterol/dislipidemia, dan anemia karena ginjal (Renal Anemia).

PGK ini akan dapat berlanjut/progresif sehingga fungsi ginjal makin menurun. Saat ini fungsi ginjal kakak Sdr berkisar 30 - 35 %. Penurunan yang sebenarnya sudah cukup jauh, sehingga penanganannya perlu intensif untuk mencoba menahan penurunan fungsi ginjal yang lebih jauh, bahkan dimungkinkan peningkatan kembali fungsi ginjal. Secara singkat pengobatan yang dilakukan: perlu dikendalikan diabetesnya dengan baik, hipertensi agar dapat ditekan menjadi sekitar 125-130/80, kadar kolesterolnya harus lebih rendah termasuk kolesterol LDL dan trigliseridanya, sedangkan kolesterol HDL harus tinggi.

Sebenarnya obat-obat yang diminumnya sudah cukup sesuai. Untuk memberikan penjelasan secara tepat, sebaiknya obat-obat tersebut dikelompokkan sebagai berikut:
Untuk penyakit diabetesnya: selain diet, olah raga, penurunan berat badan, diberikan Diamicron dan Glucophage. Sayangnya tidak ada data HbA1C, angka ini sebaiknya sama dengan atau kurang dari 6,5 %
Untuk tekanan darahnya, sekaligus memperbaiki ginjal: Diovan dan Triatec, melihat tekanan darah belum mencapai target, mungkin sebaiknya dosis dinaikkan, sayangnya Sdr tidak memberikan dosis yang sedang diminumnya, demikian juga data kebocoran proteinnya tidak ada. Biasanya diperlukan dosis yang cukup tinggi (extraordinary dose), agar kebocoran protein dapat ditekan lebih efektif, selain juga menurunkan tekanan darah. Bila dosisnya sudah cukup tinggi, alternatif lain adalah menambah obat lain misalnya golongan Calcium Antagonis

Untuk kolesterolnya diberikan Lipitor, bila kadar trigliserida-nya sangat tinggi diberikan obat yang lain atau kombinasi
Untuk anemianya diberikan suntikan Eprex, Folic Acid, mungkin juga vitamin yang diminumnya mengandung besi untuk membantu peningkatan kadar Hb-nya.

Calcium carbonate: diperlukan untuk menurunkan kadar fosfor darah yang mungkin sudah meninggi, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu tulang belulang (Renal Osteo dystrophy)
Akhirnya Ketosteril: adalah tablet yang mengandung asam amino yang merupakan elemen-elemen pembentukan protein sehingga tubuh mendapat unsur-unsur protein yang bermutu tinggi, selain itu juga dapat membantu menahan progresivitas penyakit ginjal.
Demikian penjelasan kami, semoga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Sdr. Kami anjurkan agar Kakak Sdr melakukan kontrol yang teratur pada Dokternya agar pengobatan terhadap kumpulan penyakitnya tersebut dapat mencapai keberhasilan yang memuaskan.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro-Konsultan Ginjal-Hipertensi

RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

February 1, 2008

Menghindari Komplikasi pada Penyakit Diabetes

Tanya:

Kakak ipar saya laki-laki umur 54 tahun, tahun lalu berobat dan didiagnosis menderita Diabetes. Setelah mengikuti ceramah Dokter yang bermanfaat ini, saya ingin meneruskan bahan ceramah ini kepada kakak saya. Namun ada pertanyaan saya sbb: apa saja upaya untuk menghindari atau mencegah timbulnya komplikasi pada penyakit Diabetes. Terima kasih atas jawaban Dokter.

Sunardi, Bogor

Jawab:

Untuk menjawab pertanyaan yang cukup penting tersebut berikut ini saya sampaikan penjelasan sbb:
Definisi. DM (Diabetes Mellitus) adalah keadaan gula darah tinggi (hiperglikemia) yang kronik disertai kelainan metabolik akibat kelainan sekresi insulin, kelainan kerja insulin atau keduanya.

Jumlah Penyandang DM (Diabetisi). Bangsa Kulit Putih: 3 – 6 %, tetapi ada yang 35 % Mikronesia, Polinesia. Bangsa India, Cina, Creole lebih tinggi. Indonesia : 1,5 – 2,3 %, di Manado lebih tinggi: 6 %, di Depok pada survei tahun 2001 didapat 12,8 %. Tetapi peningkatan yang mencemaskan di Indonesia adalah perkembangan masa yang akan datang: 1994 = 2,5 juta diabetisi ‡ 2003 = 5 juta ‡ pada 2025 menjadi 12 juta diabetisi!

Insulin. Gula (glukosa) merupakan bahan bakar utama bagi sel, gula darah dapat diolah berkat adanya Insulin. Gula dari darah masuk ke sel misalnya serabut otot oleh bantuan insulin, sehingga otot dapat bekerja baik, demikian juga untuk sel-sel lain. Insulin adalah zat atau hormon yang dibuat di Pankreas yaitu oleh sel Beta dari Pulau Langerhans. Ada sekitar 100.000 Pulau Langerhans di Pankreas dan tiap pulau berisi 100 sel Beta.

Jenis DM. DM dibagi dalam 2 tipe: DM Tipe 1: Pankreas tidak bisa produksi insulin karena sel Beta rusak (Insulitis), akibat reaksi Auto imun. Umumnya pada umur < 40 th (tetapi tidak selalu). DM Tipe 2: Insulin normal, tetapi jumlah reseptor kurang (misalnya Insulin adalah kunci pintu, maka lubang kunci pintu masuk sel adalah reseptornya), akibatnya gula hanya sebagian yang masuk sel, sehingga gula darah meningkat, keadaan ini disebut Resistansi Insulin. Keadaan berlanjut, Insulin diproduksi lebih banyak=Hiperinsulinisme. DM tipe 2 lebih sering timbul sesudah umur 40 th, 90 % penyandang DM adalah DM Tipe 2. Ada juga jenis ke 3 & 4: yaitu DM Tipe lain, dan DM Gestasional (Kehamilan)

Diagnosis DM. Keluhan khas DM: berkemih/BAK banyak, minum banyak, makan banyak, BB turun yang tidak diketahui sebabnya. Keluhan yang tidak khas: lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi, pruritus vulvae. Pemeriksaan gula darah (GD) adalah GD sewaktu: > 200 mg/dl, GD Puasa: > 126 mg/dl. Bila tidak ada keluhan DM, sebaiknya periksa ulang atau dengan TTGO = Tes Toleransi Glukosa Oral ‡ kadar > 200.

Komplikasi DM. DM menimbulkan kerusakan jangka panjang pada organ-organ sbb:

1. Ginjal: disebut Nefropati Diabetik yang dapat berakhir sebagai Gagal Ginjal.

2. Mata: Katarak, Retinopati, Glaukoma, berakhir dengan kebutaan.

3. Saraf ‡ Saraf tepi: kesemutan, rasa baal, dsb, Saraf dalam antara lain impoten.

4. Pembuluh darah: Sklerosis, bila pada otak dapat menjadi stroke, pada Jantung: Penyakit Jantung Koroner: serangan jantung, pada Kaki: Luka, Gangren / Jaringan mati / busuk.

5. Lain-lain: Dislipidemia: lemak darah: kolesterol/trigliserida tinggi. Mudah infeksi: TBC, Bisul, Infeksi Ginjal / Saluran kencing.

Kriteria Pengendalian DM. Pengobatan DM yang baik menghasilkan keadaan data-data pada tabel berikut, lihat pada kolom Baik. Perlu digarisbawahi bahwa data-data ini bukan hanya 1 – 2 kali pada awal pengobatan melainkan pada perjalanan selanjutnya, artinya perlu dipantau hal-hal tersebut secara periodik berkesinambungan.

Menghindari komplikasi DM. Bagaimana upaya menghindari komplikasi pada DM? Jalan yang terbaik adalah menjalani program pengobatan terpadu yang baik. Komplikasi atau Penyulit terjadi karena 2 faktor: 1. Faktor genetika /keturunan, umur & 2. Faktor metabolik – glukosa dan metabolit lain yang abnormal (kolesterol dsb). Faktor ad 1 tentu tidak dapat kita kendalikan. Faktor ad 2 yang harus dijaga dengan baik dalam jangka yang panjang melalui 4 Pilar pengobatan terpadu: perubahan gaya hidup antara lain: 1). Diet yang baik dan seimbang. 2). Kegiatan fisik yang cukup / Olahraga. Keduanya diharapkan menghasilkan Berat Badan Ideal. 3). Obat yang sesuai dan yang teratur. 4). Penyuluhan / Edukasi diabetes.

Hal-hal tsb agar didukung oleh pemantauan data (lih.Tabel 2) secara teratur dan terjaga pada kolom Baik.
Pemeriksaan pemantauan komplikasi. Pemeriksaan yang perlu untuk memantau timbulnya komplikasi antara lain: 1. Mata: periksa mata/fundus berkala setiap 6 – 12 bulan. 2. Paru: foto dada setiap 1 – 2 tahun atau kalau ada batuk kronis. 3. Jantung: periksa EKG berkala/ Treadmill exercise test setiap tahun, atau kalau ada nyeri dada. 4. Ginjal-Hipertensi: periksa protein urin, mikroalbuminuria (MAU). Bila ada hipertensi, dokter akan menggunakan terutama obat gol ACE Inhibitor atau ARB (Angiotensin Receptor Blocker). 5. Kaki: periksa kaki berkala untuk memantau komplikasi ke ginjal, pemeriksaan jantung, dsb.

Masalah Berat Badan. Khusus masalah Kegemukan / Obesitas, dapat digunakan alternatif 2 rumus sbb. :
1).BMI = Body Mass Index ( IMT = Indeks Massa Tubuh ). Rumus = BB ( kg )/ TB (m2 ). Klasifikasi: BB Kurang = < 18,5, BB Normal = 18,5 – 22,9, BB lebih = > 23 ‡ Dengan risiko = 23 – 24,9, Obese I = 25 – 29,9, Obese II = > 30.
2).Rumus Broca: BB idaman / ideal = (TB – 100) – 10 %. Klasifikasi: BB Kurang = < 90 % BB idaman, BB Normal = 90 – 110 % BB idaman, BB Lebih = 110 – 120% BB idaman, Gemuk = > 120 % BB idaman.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro - Konsultan Ginjal-Hipertensi
RS Mediros

Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

Herpes Zoster, Penyakit Kulit yang Menyiksa

Tanya:

Dokter RS Mediros Yth, saya dua bulan lalu menderita penyakit kulit berupa kemerahan di punggung kiri, terdapat bintik-bintik kecil seperti cacar air terasa panas dan sangat sakit, badan juga demam. Saya berobat ke dokter umum dan dikatakan penyakit ini adalah Herpes Zoster. Saya diberi obat dan salep, sembuh sekitar 2-3 minggu. Dokter menanyakan apakah ada anggota keluarga atau teman yang menderita penyakit seperti ini, setelah saya ingat-ingat ada teman dekat saya di kantor yang menderita penyakit seperti ini di dada kanan, tetapi bentuknya ringan.

Dia menderita penyakit ini bulan sebelumnya. Sekarang saya masih merasakan agak nyeri di punggung kiri saya, padahal kemerahan sudah hilang. Pertanyaan saya, apa sebenarnya penyakit Herpes Zoster, apakah memang menular? Bila penyakitnya parah apa komplikasinya? Apakah nyeri di punggung kiri saya bisa sembuh? Apakah harus minum obat untuk nyeri ini? Terima kasih atas penjelasan dokter.

Ninuk, Ciracas

Jawab:

Kalau kita berbicara mengenai Herpes Zoster, kita tidak dapat juga menghindari sedikit pembicaraan tentang cacar air atau varisela. Kedua penyakit ini mempunyai nama berbeda, mempunyai kelainan kulit yang berbeda, namun mempunyai penyebab yang sama yaitu virus varisela-zoster.

Virus varisela-zoster (VVZ) masuk melalui mukosa saluran napas atas dan orofaring, berkembang biak serta disebarkan ke berbagai organ, terutama ke kulit dan lapisan mukosa. Bila virus tersebut masuk pertama kali ke tubuh, disebut infeksi primer dan manifestasi klinis pada kulit dan mukosa adalah cacar air (varisela).

Setelah infeksi primer tersebut selesai, virus tidak hilang tuntas dari tubuh melainkan masuk ke ujung saraf sensoris dan menuju ke ganglion saraf tepi serta bersembunyi di sana untuk beberapa tahun. Pada saat ini orang yang pernah mengalami penyakit cacar air tersebut menjadi kebal terhadap virus tersebut sehingga bila terinfeksi VVZ tidak menyebabkan cacar air lagi.

Selanjutnya tergantung pada pertahanan/kekebalan tubuh kita, bila menurun, merupakan faktor utama penyebab virus menjadi aktif kembali. Virus varisela-zoster berkembang biak kemudian merusak dan terjadi peradangan di ganglion sensoris. Kemudian virus menyebar dari saraf tepi tempat persembunyiannya menuju kulit serta menimbulkan manifestasi klinis yang khas di kulit, keadaan ini disebut penyakit herpes zoster.

Cara penularan herpes zoster

1. Pada seorang yang belum pernah mengalami infeksi VVX primer akan mudah tertular virus tersebut dengan manifestasi klinis sebagai varisela (cacar air). Tetapi bila sudah pernah mengalami infeksi cacar air maka orang tersebut tidak akan ketularan bila berdekatan dengan penderita herpes zoster.
2. Penularan VVZ dapat secara kontak langsung dengan kelainan kulit penderita herpes zoster.
3. Penularan VVZ dapat melalui udara masuk mukosa saluran pernapasan bagian atas.

Gejala klinis herpes zoster. Sebelum timbul gejala kulit, terdapat gejala prodromal (gejala awal) baik sistemik maupun gejala prodromal lokal. Gejala prodromal sistemik berupa demam, pusing, badan lemas. Gejala prodromal lokal (setempat) biasanya berupa nyeri otot-tulang, gatal, pegal, dan kulit kebas. Bentuk kelainan kulit diawali dengan bercak kemerahan pada daerah yang sesuai dengan persarafan kulit yang terkena virus (unilateral). Dalam 12-24 jam tampak bintil-bintil berair tersusun berkelompok di atas kulit yang kemerahan tersebut dan akan tumbuh terus, berlangsung selama 1-7 hari kemudian bintil berair tersebut berubah menjadi bintil bernanah dan selanjutnya mengering. Mukosa dapat juga terkena dengan bentuk sariawan dan luka. Selain itu VVZ dapat menyerang organ dalam.

Kelainan kulit dapat sembuh sendiri dan luka sembuh spontan setelah dua minggu, tetapi memberikan bentuk jaringan parut. Pada orang tua penyakit ini tampak lebih parah dan lama. Bila kondisi fisik penderita sangat buruk misalnya penderita kanker, HIV dan AIDS, bintil berair di kulit dapat mengandung darah disebut herpes zoster hemoragik. Kelainan kulit ini dapat menyebar ke seluruh tubuh dan disebut herpes zoster generalisata.

Komplikasi herpes zoster

Nyeri. Nyeri merupakan gejala yang dialami oleh pasien herpes zoster di awal dan di akhir penyakit. a) Nyeri akut dialami penderita sebelum keluar kelainan kulit dan pada saat kelainan kulit muncul. b) Nyeri pasca-herpes zoster (NPH) disebut juga nyeri persisten yaitu rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah penyakitnya sembuh. Nyeri seperti ini sering dijumpai pada penderita berumur lebih dari 50 tahunan pada lokasi wajah.

Mata. Komplikasi ke mata terjadi bila ada gangguan saraf cabang pertama nervus trigeminus. Masuknya virus menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada saraf tersebut sehingga sering ditemukan gangguan mata antara lain berupa konjungtivitis, ptosis paralitik, keratitis epitelial, skleritis, iridosiklitis, uveitis dan glaukoma.

Sindrom Ramsay Hunt. Akibat gangguan saraf fasialis dan saraf otikus memberikan gejala: lumpuh otot wajah (paralisis Bell), telinga berdenging, sakit kepala seperti berputar, gangguan pendengaran dan mual.

Kelumpuhan otot pada 1-5 % kasus. Biasanya timbul dalam dua minggu sejak kelainan kulit muncul, umumnya dapat sembuh spontan.
Manajemen penatalaksanaan. Pengobatan penyakit herpes zoster ditujukan untuk mempercepat penyembuhan kelainan kulit, mengurangi nyeri yang akut dan pencegahan pembentukan jaringan parut. Lebih penting lagi, pengobatan harus efektif untuk mencegah terjadinya komplikasi nyeri pasca-herpes zoster (NPH).

Pengobatan topikal. Pengobatan topikal dengan antivirus untuk penyakit herpes zoster tidak efektif sehingga tidak dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Pengobatan topikal tergantung pada stadium penyakit yaitu: - Stadium bintil berair: tujuan protektif untuk mencegah bintil-bintil berair menjadi pecah, dengan cara diberikan bedak. Bila luka dapat diberikan salep antibiotik.

Pengobatan sistemik. Antivirus pilihannya adalah: asiklovir 5 x 800 mg sehari diberikan tujuh hari; valasiklovir 3 x 1000 mg sehari; famsiklovir 3 x 500 mg sehari.
Untuk sindrom Ramsay Hunt diberikan kortikosteroid, biasanya digunakan prednison 3 x 20 mg sehari. Setelah sembuh dosis diturunkan bertahap.
Untuk neuralgia pasca-herpes zoster (NPH) dapat dicoba akupunktur. Obat-obatan yang dapat digunakan amitriptilin 10-25 mg malam hari dan gapapentin.
Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat untuk Anda dan pembaca.

Dr.Endah Purwandani, SpKK - Spesialis Kulit – RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

January 14, 2008

Obat Kanker pada Penyakit Lupus?

Tanya:

Setelah dirawat selama dua minggu ternyata adik saya menderita penyakit. Lupus eritematosous sistemik. Selain itu ditemukan komplikasi pada ginjalnya, setelah dikonsultasikan ke dokter spesialis ginjal, beliau menganjurkan dilakukan biopsi ginjal.
Saat ini adik saya sudah keluar dari rumah sakit dan saya mendapat kabar dia direncanakan mendapat obat endoxan infus mungkin satu bulan sekali. Setelah saya bertanya kiri kanan, saya kaget ketika diberi tahu bahwa endoxan adalah obat kanker.
Saya ingin tanya, sebenarnya apa gerangan endoxan itu, apakah adik saya menderita penyakit kanker, atau masih dalam hubungan dengan penyakit lupus-nya. Mohon dokter dapat memberikan penjelasan mengenai hal ini. Terima kasih atas jawaban dokter.

Sudjatmoko, Bekasi

 

Jawab:

Untuk menjawab pertanyaan Sdr Sudjatmoko, maka sebaiknya saya jelaskan dulu tentang penyakit Lupus. Nama penyakitnya adalah Lupus eritematosous sistemik atau Systemic lupus erythematosous (SLE).

Penyebab
Penyebab penyakit ini memang belum diketahui secara pasti, agaknya disebabkan kombinasi berbagai faktor seperti genetik, hormon, infeksi dan lingkungan. Terjadi penyimpangan pada sistem kekebalan. Ceriteranya begini: mulanya sistem kekebalan tidak bisa membedakan teman dan musuh, kemudian ”teman-teman ” sendiri (sel-sel tubuh/organ sendiri) dianggap sebagai musuh, sehingga dibuat zat anti terhadap sel-sel tersebut, kemudian zat anti ini menyerang sel-sel tubuh/organ sendiri tsb. Akibatnya serangan ini menimbulkan kerusakan-kerusakan pada organ tadi.
Ada berita dari Jerman, yang menyatakan sekelompok peneliti mencurigai ada suatu enzim dalam sel yang bertugas menghancurkan DNA dari sel yang sudah mati namun enzim ini tidak bekerja normal, sehingga yang terjadi DNA tsb tidak habis dan sisa-sisa hancuran DNA masih ada. Terhadap sisa-sisa ini kemudian terbentuk zat anti. Dengan cara penyakit ini mengganggu kesehatan, maka penyakit ini digolongkan dalam penyakit Autoimun.

Organ yang terkena
Apa saja organ yang dapat diserang? Organ yang dapat diserang praktis hampir semua organ, misalnya: ginjal, sendi, kulit, sistem darah, saraf/otak, organ saluran pencernaan, paru, jantung, bahkan bisa sampai kelainan jiwa (psikosis).

Lupus ginjal
Ginjal yang terserang penyakit lupus disebut Lupus nephritis. Penyakit ginjal ini dapat berjenis ringan sampai dengan berat. Untuk mengetahui jenis penyakit lupus ginjal ini, maka memang perlu dilakukan biopsi ginjal. Terdapat enam jenis/kelas penyakit lupus ginjal ini dari segi pemeriksaan biopsi ginjal.
Kelas IV biasanya merupakan penyakit lupus ginjal yang paling berat dan agresif. Lupus ginjal kelas IV, dan juga kelas III, akan selalu diobati lebih intensif agar dicapai keberhasilan pengobatan yang lebih baik.

Obat kanker
Biasanya diberi obat prednisolon dengan dosis yang tinggi, dan dikombinasi dengan obat-obat cytotoxic misalnya obat cyclophosphamide (yaitu endoxan) yang memang digolongkan obat-obat kanker. Selain itu untuk maintenance diberikan obat Azathioprine yang juga adalah obat kanker. Jadi memang obat-obat kanker ini bermanfaat untuk mengobati penyakit lupus ginjal yang berat, tentu bukan karena adik Sdr menderita penyakit kanker.

Penyakit kronis
Gejala dan kondisi klinis penyakit ini bervariasi dari yang ringan sampai dengan berat. Memang lebih sering pada wanita berumur antara 20 – 40 tahun, selain itu penyakit ini bersifat jangka panjang (kronis), bisa ada episode/masa kambuh (flare), ada episode hilang. Karena itu dianjurkan agar kontrol secara periodik dan mengikuti petunjuk dokter dengan saksama.
Demikian penjelasan saya semoga bermanfaat.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro-Konsultan Ginjal-Hipertensi RS Mediros.
 

Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

January 13, 2008

Penyakit Saat Banjir: Kencing Berdarah

Tanya:

Saya tinggal di daerah Kampung Melayu yang langganan kebanjiran. Penduduk termasuk saya dan keluarga semuanya mengungsi, karena makanan tidak teratur termasuk juga nilai gizinya maka setelah beberapa hari saya memperhatikan mulai ada yang sakit mencret dan ada yang demam.

Setelah banjir reda kami semua mulai kembali ke rumah masing-masing. Keadaan rumah berlumpur sangat kotor sehingga kadang kami merasa seakan-akan badan sudah tidak sehat, atau mungkin ketahanan badan kita menurun, sehingga mudah terkena penyakit.
Saya kebetulan membaca di koran bahwa ada kemungkinan penduduk yang rumahnya kebanjiran bisa terkena penyakit infeksi leptospirosis. Saya merasa cukup penting untuk mengetahui persoalan penyakit ini, apalagi saya sama sekali tidak tahu tentang penyakit ini, dan tentu saja saya merasa khawatir kalau-kalau keluarga saya dapat terkena penyakit ini, katanya ada yang bisa kencingnya berdarah.
Dapatkah kiranya Dokter menjelaskan penyakit ini, gejalanya, penyebabnya dan bagaimana mencegahnya. Terima kasih atas jawaban Dokter.

Siswanto T, Kampung Melayu

Jawab:

Bapak Siswanto, pada saat banjir kita memang harus waspada dengan penyakit Leptospirosis.
Leptospirosis dari Tikus. Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman/mikroorganisme yang disebut Leptospira. Leptospira bisa terdapat pada binatang seperti tikus, anjing, babi dan lainnya. Ada banyak tipe dari Leptospira, tiga serotipe yang paling sering adalah 1). Leptospira Icterohaemorrhagiae dari tikus, 2). Leptospira Canicola dari anjing dan 3). Leptospira Pomona dari sapi atau babi. Akan tetapi yang dapat menyebabkan penyakit dengan gejala yang berat bahkan dapat berakhir fatal dengan kematian adalah Leptospira Icterohaemorrhagiae yang terdapat pada tikus.

Bagaimana manusia dapat terkena penyakit ini? Kita dapat terinfeksi jika kontak dengan air, tanah, lumpur dan sebagainya yang telah tercemar air kencing binatang yang terinfeksi Leptospira. Kuman tsb dapat menyebabkan terjadinya infeksi Leptospirosis bila pada seseorang ada bagian kulit atau selaput lendirnya yang luka atau lecet/erosi, melalui luka ini kuman tsb akan masuk ke tubuh manusia.
Air tergenang (termasuk banjir) atau yang mengalir mempunyai peran penting dalam penularan penyakit ini. Penduduk yang membersihkan rumah yang kotor, pekerja-pekerja di selokan, petani di sawah, pekerja tambang, dokter hewan, penjagal di rumah potong dan sebagainya merupakan orang-orang yang berisiko tinggi untuk dapat terinfeksi penyakit ini.

Nama lain. Nama lain penyakit ini a.l. adalah: Weil disease, Icterohemorrhagic fever, Swineherd’s disease, Rice-field fever, Cane-cutter fever, Swamp fever, Mud fever, Hemorrhagic jaundice, Stuttgart disease, Canicola fever.

Gejala. Masa inkubasi penyakit ini antara 2-20 hari, yaitu ketika mulai kuman masuk (=terinfeksi) sampai dengan timbulnya gejala. Gejala dari penyakit ini pada awalnya seperti gejala flu saja, kemudian bisa timbul panas tinggi 39-40o C, menggigil, sakit kepala, nyeri perut, muntah, serta nyeri otot terutama di daerah betis, juga dijumpai mual, muntah dan mencret. Gejala yang lebih berat adalah Ikterus (kuning), mata merah, perdarahan (bisa terlihat di bawah kulit) atau kencing yang berdarah, selain itu darah menurun atau anemia dan puncaknya adalah penurunan kesadaran. Gejala yang berat ini bisa timbul bila pasien terlambat ditangani.

Diagnosis ditegakkan lebih sering melalui pemeriksaan serologi: menemukan antibodi. Leptospira pada 50% kasus dapat diisolasi/dipisahkan darah pasien. Kuman bisa didapat melalui kultur air seni pasien, dapat dilakukan pada minggu kedua sampai dengan 30 hari.

Pengobatan. Penyakit ini dapat diobati dengan obat golongan Penisillin, Tetrasiklin, Eritromisin maupun Ciprofloxacin. Obat pilihan pertama adalah Penisillin.
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan hal penting dalam pencegahan penyakit Leptospirosis. Penyediaan air minum harus terjaga baik dan sebaiknya diklorinasi. Tikus-tikus yang berkeliaran seharusnya diberantas. Penduduk, pekerja-pekerja yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular Leptospirosis seperti tersebut di atas sebaiknya memakai pelindung khusus seperti sepatu boot, sarung tangan karet, atau pakaian khusus agar kuman tidak sampai menyentuh kulit kita.
Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat.

Dr.Hadimardin - Resident Medical Officer RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Permalink • Print • Comment

Belum Mengerti Penyakit? Hak Pasien di Rumah Sakit

Tanya:

Saya belum lama ini dirawat di Rumah Sakit yang cukup besar dan modern di Jakarta. Dari seluruh keluarga baru saya pertama kali dirawat di Rumah Sakit. Selama lima hari saya mendapat pelayanan dan perawatan yang baik, pemeriksaan dan pengobatan di lakukan oleh dokter-dokter dan perawat-perawat yang saya rasa cukup profesional. Selain itu masih ditambah dengan digunakannya alat-alat medis yang canggih dan mutakhir. Pokoknya sampai dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang saya merasa mendapat perlakuan yang sangat baik dan memuaskan.

Akan tetapi ada hal yang ”mengganggu” perasaan dan pikiran saya sampai sekarang yaitu bahwa saya tidak mendapatkan keterangan dan penjelasan yang rinci mengenai kondisi penyakit saya, sehingga sampai sekarang saya ragu akan apa yang boleh saya kerjakan dan yang tidak boleh menyangkut kondisi kesehatan saya tersebut, penyakit saya berada di usus besar dan masih memerlukan kontrol lanjutan setelah pulang.

Memang pada saat berada di Rumah Sakit, dokter spesialis yang merawat saya memberikan penjelasan secara singkat tentang kondisi penyakit saya. Sebetulnya masih banyak hal-hal yang ingin saya ketahui perihal penyakit saya tersebut yang ingin saya tanyakan kepada dokter spesialis tersebut. Namun, niat saya untuk bertanya saya urungkan, saya merasa ”takut” karena dokter tersebut kelihatannya pendiam dan enggan berbicara panjang lebar tentang penyakit saya. Apa yang saya rasakan ini saya ceritakan kepada teman dan teman saya menyayangkan karena saya tidak mau mengajukan pertanyaan kepada dokter yang merawat saya. Menurut teman saya, sebagai pasien di Rumah Sakit saya mempunyai hak untuk mendapatkan penjelasan secara rinci tentang penyakit saya.

Yang ingin saya tanyakan, apakah memang pasien di Rumah Sakit memiliki hak tersebut? Selain itu saya ingin mendapatkan penjelasan kalau memang ada, apa saja hak-hak pasien di Rumah Sakit? Terima kasih atas jawaban yang diberikan.

Shalahudin, Jakarta Timur

Jawab:

Perasaan ”takut” untuk bertanya atau minta penjelasan dokter seperti yang Sdr. Shalahudin rasakan adalah wajar, karena pada masa yang lalu hubungan antara pasien dengan dokter atau pasien dengan Rumah Sakit sering dilihat sebagai hubungan yang sepihak atau berat sebelah dan pasien berada pada posisi yang ”tak berdaya”, selain itu Anda baru pertama kali dirawat di Rumah Sakit. Biasanya pasien datang ke dokter atau Rumah Sakit dalam keadaan pasrah menyerahkan sepenuhnya pengobatan dirinya kepada dokter atau Rumah Sakit yang merawatnya. Dia tidak perduli lagi dengan apa yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya berkenaan dengan penyakitnya. Dengan demikian hubungan pasien – dokter lebih menyerupai hubungan orang tua dengan anak jadi bersifat ”paternalistik”.

Kerja sama pasien–tim medis. Dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan hak-haknya, hubungan pasien dengan dokter atau pasien dengan Rumah Sakit mengalami perubahan yang cukup berarti. Saat ini pasien menyadari bahwa dia harus tahu tentang kondisi penyakitnya serta apa yang akan dilakukan dokter atau Rumah Sakit terhadap dirinya, bahkan sering kali pasien merasa perlu berdiskusi dengan dokter yang merawatnya. Dengan demikian hubungan pasien - dokter atau pasien - Rumah Sakit sekarang sudah bergeser menjadi lebih bersifat ”partnership” atau kemitraan. Tanpa kerja sama dengan pasien, dokter tidak mungkin melakukan pemeriksaan dan memberikan pengobatan secara optimal, dan keberhasilan seluruh perawatan/pengobatan seringkali tergantung kerja sama pasien –dokter/tim medis.

Hak-hak. Menjawab pertanyaan Anda, sebagai pasien di Rumah Sakit memang Anda memiliki hak-hak tertentu yang perlu Anda ketahui. Hak-hak pasien tersebut di antaranya:
- Hak untuk mendapatkan pelayanan yang manusiawi
- Hak memperoleh asuhan perawatan yang bermutu baik
- Hak untuk memilih dokter yang merawat
- Hak untuk meminta dokter yang merawat agar mengadakan konsultasi dengan dokter lain
- Hak atas ”privacy” dan kerahasiaan berkenaan penyakit yang diderita
- Hak untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang: penyakit yang diderita; tindakan medis apa yang akan dilakukan dan kemungkinan timbulnya penyulit sebagai akibat tindakan tersebut; alternatif pengobatan lain; prognosis atau perjalanan penyakit; serta perkiraan biaya pengobatan.
- Hak meminta untuk tidak diinformasikan tentang penyakitnya kepada orang atau pihak lain
- Hak untuk menolak tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya
- Hak untuk mengajukan keluhan-keluhan dan memperoleh tanggapan segera
- Hak untuk didampingi keluarga pada saat kondisi kritis
- Hak mengakhiri pengobatan dan rawat inap atas tanggung jawab sendiri
- Hak untuk menjalankan ritual agama dan kepercayaannya di Rumah Sakit, selama tidak mengganggu pengobatan dan pasien yang lain.

Kewajiban. Namun perlu diketahui dan dipahami bahwa selain hak-hak yang Anda miliki seperti tersebut di atas, sebagai pasien di Rumah Sakit Anda juga harus memenuhi kewajiban-kewajiban pasien yaitu antara lain:
- Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan tata tertib di Rumah Sakit
- Pasien wajib untuk menceritakan secara jujur tentang segala sesuatu mengenai penyakit yang dideritanya
- Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dalam rangka pengobatannya
- Pasien dan/atau penanggungnya berkewajiban untuk memenuhi segala perjanjian yang ditandatanganinya.
Dokter dan Rumah Sakit juga memiliki hak dan kewajiban-kewajibannya, sehingga dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing diharapkan proses perawatan/ pengobatan di Rumah Sakit bisa berjalan dengan baik. Demikian jawaban kami semoga bermanfaat.

Dr. Adib A. Yahya, MARS-Ketua Umum PERSI,

Mantan Kepala RSPAD Gatot Soebroto

 

Sumber : Sinar Harapan