January 26, 2008

Polikista di Ginjal

Masalah :

Dengan hormat, saya mempunyai istri berusia 31 tahun, karena suka mengalami panas di pinggang, pertama saya kira karena kurang minum. kemudaian saya coba bawa ke rumasakit di bogor ke dokter specialis urologi, setelah di USG istri saya mengalami penyakit kista di ginjal kanannya yang menurut informasi dokter sudah multiple banyak, saya mohon informasi dokter apakah penyakit ini dapat di sembuhkan tidak dengan jalan operasi? atau dengan di beri obat?, dan faktor apakah istri saya mengalami kista? karena yang saya tau kami sudah berusaha melakokan pola hidup sehat?. sebelumnya terimakasih banyak atas jawaban dokter hormat kami kemas Bogor.

Kemas irfan, 32 tahun 

Jawaban :

Halo Pak Kemas, Kista adalah suatu kantung yang berisi air yang bisa terdapat dalam berbagai rongga dan organ tubuh manusia, salahsatunya ginjal. Pada umumnya kista tidak berbahaya, dan amat sangat jarang yang berkembang menjadi kanker, namun pada kista ginjal (Polycystic Kidney Disease) jika dibiarkan lama kelamaan bisa menyebabkan gagal ginjal. Kemungkinan besar jenis kista ginjal yang dialami istri Anda adalah autosomal dominant PKD yang merupakan jenis PKD terbanyak. Umumnya diderita orang berusia 30-40 tahun, dan penyakit ini sifatnya genetika/turunan. Jadi, bisa saja istri Anda mendapatkannya melalui genetika, dan pembentukannya bisa jadi dimulai sejak masa kanak-kanak, hanya saja saat ini karena jumlahnya banyak, maka istri Anda bisa merasakan adanya gangguan.

Penyakit ini cenderung tidak bisa disembuhkan, namun gejala-gejala yang terasa bisa dihilangkan. Misalnya, untuk mengatasi rasa nyeri, dokter akan memberikan resep obat penghilang nyeri. Pada penderita PKD yang termasuk rentan menderita infeksi saluran kemih, jika terjadi infeksi tentunya dokter akan memberikan antibiotik yang tepat. Memang operasi bisa dilakukan untuk mengecilkan kista agar tidak terasa nyeri lagi, namun hal ini tidak berarti menghentikan perkembangan kista, artinya suatu hari sangat mungkin timbul kembali. Yang terpenting adalah menjaga tekanan darah, karena fungsi ginjal bisa jadi sedikit terganggu oleh adanya kista, dan tekanan darah yang tinggi akan menyebabkan kerja ginjal menjadi lebih berat lagi dan mempercepat perkembangan kista.

Pola hidup dan pola makan sehat yang sudah Anda berdua jalani, alangkah baiknya diteruskan. Hindari makanan berkolesterol tinggi, alkohol, kopi, stres berlebihan, dan rutin berolahraga bisa memperlambat perkembangan kista menjadi lebih parah lagi. Dengan terdeteksinya PKD, ada baiknya istri Anda rutin melakukan check up kondisi kistanya secara reguler untuk memantau perkembangannya. Konsultasikan hal ini dengan dokter yang memeriksa istri Anda. Semoga jawaban kami bisa bermanfaat bagi Anda dan istri Anda. Salam dari Mediasehat!

Sumber : Mediasehat.com

Tags: ,
Permalink • Print • Comment

November 5, 2007

Kista dan BAB Berdarah

Masalah :

Assalamualaikum..

Satu tahun yang lalu saya terkena kista, namun alhamdulillah saya sudah sembuh, namun terkadang masih terdapat rasa nyeri pada perut saya bagian bawah. Kemudian 3 bulan yang lalu saya juga menderita wasir tapi tidak sampai operasi, dan saat ini setiap kali saya buang air selalu berdarah. Obat apa yang harus saya konsumsi? Lalu apakah riwayat penyakit saya tersebut dapat berpengaruh pada kesuburan rahim saya, mengingat saya akan segera menikah dan ingin cepat mendapatkan keturunan. Terima kasih.

Sukma

dewi_sukma at eramuslim.com

 

Jawaban :

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Saudari Sukma Yth.,

BAB disertai darah itu merupakan indikasi adanya masalah dalam sistem pencernaan anda, khususnya di usus besar. Hal ini menunjukkan bahwa pola makan anda kurang sehat, yakni tidak gemar menyantap sayur-sayuran dan kurang minum air putih. Akibatnya, kotoran yang ada di usus besar sulit menuju ke anus, kotoran tersebut malah menumpuk di sepanjang usus besar dan makin lama makin mengeras. Sehingga, terjadi gesekan antara permukaan usus dan tinja, dan kemudian menimbulkan darah saat anda BAB.

Sulit BAB merupakan salah satu penyebab terjadinya wasir. Sebenarnya, gejala wasir itu sendiri sudah terlihat, yakni adanya darah yang menyertai tinja. Cepat lambatnya tonjolan keluar tergantung dari berapa sering dan kuatnya anda mengejan saat BAB.

Dampak lain dari sulit BAB atau sembelit adalah tertekannya organ yang berada di bawah usus besar akibat penimbunan kotoran di usus besar yang menyebabkan usus menjadi turun ke bawah. Jika kebetulan rahim yang tertekan, maka akan sulit bagi anda untuk hamil karena tempat pembuahan sel telur telah tertutup oleh usus yang menekan ke bawah.

Anda dapat mencoba mengonsumsi Herba Tuju Angin, Pelawas dan Ficus. Herba Tuju Angin dan Pelawas sangat baik untuk memperbaiki sistem pencernaan dan usus, termasuk mengatasi sembelit dan sulit BAB. Sementara Ficus sangat baik untuk mengatasi wasir. Cara minumnya, ketiga herba tersebut diminum 2 kapsul pagi dan malam hari, 30 menit sebelum makan.

Bila wasirnya sudah menonjol keluar, maka anda perlu menggunakan Minyak But-But. Caranya, olesi pada usus yang keluar sambil menekan ke dalam perlahan-lahan.

Di samping itu, cobalah banyak mengonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Sangat dianjurkan banyak minum air putih, minimal 2,5 liter per hari. Hal ini untuk mencegah keluarnya usus yang disebabkan karena banyak mengejan ketika buang air besar. Dan, hindari mengangkat barang-barang berat, mintalah orang lain untuk mengangkatnya.

Masalah BAB mengeluarkan darah, bila anda mempunyai riwayat medis pernah menderita kista, harap diwaspadai agar kista itu tidak benar-benar kembali. Karena gejala yang anda rasakan memang merupakan gejala kista yang terasa nyeri di perut bagian bawah. Tidak ada salahnya ada mengunjungi dokter kandungan untuk meminta dilakukan USG, guna memastikan bahwa anda memang sudah benar-benar bersih dari kista.

Toto Buntoro

 

 

Sumber : EraMuslim

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

March 25, 2008

Kista Ovarium, Ganaskah?

Pertanyaan:

Ass Wr Wb

Dokter, sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah membaca e-mail saya. Saya seorang mahasiswi, menderita tumor kista. Saya bingung dan takut sekali. Apakah sebenarnya penyebab penyakit kista, khususnya pada gadis seusia saya (19 tahun), dan adakah cara pengobatan tradisional yang bisa membantu penyembuhan penyakit saya tanpa harus menjalani operasi karena saya takut tidak memiliki keturunan. Apakah pengaruhnya jika penyakit ini saya biarkan terlalu lama.
Terima kasih, dokter, atas balasannya.

Wassalam Wr Wb

Ina, Medan

 

Jawaban :

Kista umumnya tidak ganas, tetapi ada juga yang bersifat kanker. Walaupun tidak ganas, adanya kista di ovarium biasanya mengganggu siklus menstruasi dan menimbulkan rasa nyeri di perut bagian bawah. Karena itu, jika terdapat kista sebaiknya segera minta penanganan dokter ahli.

Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal-normal saja. Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang, dan gambarnya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran di bawah 5 cm, dan dalam tiga bulan akan hilang. Jadi, kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan.

Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena dia masih mengalami menstruasi. Bila seseorang diperiksa ada kista, jangan takut dulu, karena mungkin kistanya bersifat fisiologis. Biasanya kista fisiologis tidak menimbulkan nyeri pada saat haid.

Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60 -70 persen pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer. Angka kejadian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.

Sampai sekarang belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk memeriksa adanya keganasan ovarium itu. Sekarang yang bisa dipakai masih menggunakan USG, tetapi itu agak sulit kalau diterapkan secara massal karena biayanya cukup mahal. Berbeda halnya dengan kanker serviks (mulut rahim -Red) yang bisa dideteksi dini dengan papsmear.

Untuk menurunkan risiko keganasan ovarium orang menggunakan pil KB. Risiko terjadinya kanker ovarium pada mereka bisa lebih kecil. Karena kanker ovarium terjadi kalau ovariumnya aktif, mengalami pertumbuhan folikel. Tapi dengan menggunakan kontrasepsi hormonal, terutama pil KB, proses itu pada ovarium ditekan, sehingga risikonya terjadi keganasan pada ovarium akan menurun.

Faktor apa saja yang dapat menyebabkan kanker? Cukup banyak! Makanan tinggi lemak dan kurang serat, zat-zat tambahan sintetik pada makanan, kurang olahraga, merokok, polusi, virus, sering stres, dan masih banyak lagi yang lain. Pokoknya gaya hidup yang tidak sehat berpotensi memicu dan memacu pertumbuhan kanker.

Faktor genetik juga berpengaruh. Ada sebagian orang yang secara genetik lebih besar kecenderungannya untuk menderita kanker, ada pula orang yang secara genetik lebih kecil kemungkinannya. Sebab itu, jika dalam riwayat kesehatan keluarga kita ada beberapa orang yang diketahui menderita kanker, misalnya ayah, ibu, kakak, paman, bibi, kakek, nenek, dan lain-lain, maka kita harus lebih waspada menghindari faktor-faktor lain yang dapat memicu kanker. Harus lebih selektif memilih makanan yang sehat, lebih teratur berolahraga, jangan merokok, dan hindari hidup di antara para perokok.

Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang potensial memicu kanker, yaitu yang disebut proto-onkogen. Karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen (karsinogen artinya dapat menyebabkan kanker), polusi, atau terpapar pada zat-zat kimia tertentu, atau karena radiasi, proto-onkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

Gejala dan tandanya
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama.

Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut), dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas.

Karena sebagian besar dari kasus kanker ovarium bermula dari suatu kista, maka apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). Kewaspadaan terhadap kista yang bersifat ganas dilakukan bila:

1. Kista cepat membesar.
2. Kista pada usia remaja atau pascamenopause.
3. Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan.
4. Kista dengan bagian padat.
5. Tumor pada ovarium.

Kista ovarium ini bersifat neoplasti, ada yang jinak dan ganas. Pada kista ovarium yang jinak sebaiknya diangkat. Terdapat risiko yang paling ditakuti yaitu mengalami degenerasi keganasan. Di samping itu juga bisa mengalami torsi atau terpuntir sehingga menimbulkan nyeri akut, perdarahan, atau infeksi. Sedangkan prosedur operasi pada pasien yang tersangka kanker ovarium sangat berbeda dengan kista ovarium biasa.

Hal terpenting pada operasi pasien yang tersangka kanker ovarium adalah semaksimal mungkin berusaha agar kista tersebut keluar secara utuh, kemudian dilakukan pemeriksaan ke laboratorium Patologi Anatomik (pemeriksaan potong beku). Apabila hasil pemeriksaan potong beku bukan suatu kanker, maka operasi selesai. Sebaliknya bila hasil pemeriksaan potong beku adalah kanker ovarium maka operasi dilanjutkan dengan mengangkat rahim, ovarium sisi lain, usus buntu, omentum, melakukan biopsi pada tempat yang dicurigai adanya penjalaran kanker di rongga perut dan melakukan pengambilan kelenjar getah bening di panggul.

Sebaiknya tidak mengobati kista ovarium dengan pengobatan tradisional melihat kemungkinan terjadi keganasan. Konsultasikan dengan dokter Anda. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Terima kasih.

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

January 15, 2008

Penyakit Ginjal Tanpa Gejala Sama Sekali

Tanya:

Saya berumur 41 tahun, sudah enam bulan lebih kontrol ke dokter dekat rumah. Tahun yang lalu pada saat check up kesehatan di kantor, hasil pemeriksaan laboratorium dan rontgen dada semuanya baik, kecuali pada air seni saya terdapat sel darah merah dalam jumlah sedikit, kalau tidak salah 6-8 buah. Oleh kantor saya diminta memeriksakan diri lebih lanjut, saya pikir cukup ke dokter umum dekat rumah saja.

Dokter memeriksakan hal-hal sebagai berikut: laboratorium, foto ginjal dan hasilnya ternyata semua normal kecuali lagi-lagi terdapat sel darah merah pada air seni. Dari pemeriksaan tersebut dokter menyatakan tidak ditemukan hal-hal yang dapat menyebabkan ke-lainan tersebut, misalnya batu, tumor atau infeksi. Pemeriksaan air seni saya diulang sampai empat kali selang waktu satu bulan selalu terdapat sel darah merah dalam jumlah sedikit antara 4 sampai 8 buah, lain-lainnya tetap normal termasuk protein dalam air seni negatif.
Saya merasa sehat dan tidak terdapat gejala-gejala lain yang mencurigakan seperti bengkak, sakit di pinggang, dsb.
Pertanyaan saya: Apakah hal ini merupakan suatu penyakit? Apakah dapat berkembang menjadi serius atau parah? Apa yang dapat saya lakukan? Terima kasih atas jawaban Dokter.

Tatang N. Bogor

Jawab:

Sdr. Tatang yth, adanya sel eritrosit (sel darah merah) di urin di atas normal (Normal = 0 – 1 buah/LPB Lapang Pandang Besar) dan konsisten pada beberapa pemeriksaan menandakan adanya kelainan pada sistem saluran kemih Sdr. Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter (penghubung ginjal dan kandung kemih), kandung kemih dan uretra. Kelainan tersebut di atas bisa pada ginjal atau pada bagian-bagian di bawah ginjal: ureter, kandung kemih, dsb.

Penyebab. Secara teoretis beberapa penyebab yang serius adalah sbb:
1. Kanker: dapat terjadi pada ginjal, kandung kemih dan prostat
2. Batu ginjal atau saluran kemih lainnya
3. Penyakit pada saringan darah ginjal (glomerulonefritis)
4. Penyakit ginjal polikistik: terdapat banyak kista (gelembung berisi cairan)
5. Infeksi-infeksi pada ginjal, ureter, kandung kemih, uretra, prostat: baik infeksi biasa, juga infeksi TBC (tuberkulosis saluran kemih), jamur, dsb.
6. Penyumbatan ureter
7. Benturan /trauma pada ginjal
8. Akibat obat-obatan ”pengencer” darah

Selain itu: penyebab lain misalnya setelah berlari jarak jauh, berolahraga berat, dan pada kehamilan.
Pemeriksaan. Dari data yang Sdr. berikan, maka saran saya, hal pertama yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan sederhana yaitu pemeriksaan sel eritrosit pada urin untuk menentukan apakah berasal dari ginjal (misalnya dari saringan /Glomerulus) atau berasal dari bagian-bagian di bawah ginjal. Selain itu diperiksa juga ”kebocoran” protein yang halus di urin yaitu mikroalbuminuria. Bila hasilnya di atas normal (Normal = 30 mg/24 jam) dan menetap pada beberapa kali pemeriksaan, maka ini berarti suatu kelainan pada Glomerulus, disebut Glomerulonefritis.

Penyakit ini sesungguhnya terbagi lagi dalam beberapa jenis. Bila misalnya kebocoran protein makin banyak, misalnya di atas 1 gr / 24 jam, maka sebaiknya dilakukan biopsi ginjal dan jaringannya diperiksa di bawah mikroskop maupun pemeriksaan imunologi lainnya, dan biasanya dapat dipastikan secara akurat jenis Glomerulonefritis-nya. Penentuan jenis ini akan dapat memperkirakan apakah penyakit ini akan mudah sembuh atau berjalan dalam kondisi ringan saja ataukah berjalan ke arah yang progresif makin meningkat dari waktu ke waktu sampai menjadi parah sehingga fungsi ginjal melorot rendah dan diperlukan cuci darah atau transplantasi.
Contoh kasus. Ada seorang pasien saya umur 37 tahun dengan keadaan mirip dengan Sdr. Tatang. Yang bersangkutan berobat pada tahun 2001 (sampai sekarang). Mula-mula ybs. datang dengan keluhan sudah setahun urin-nya pada pemeriksaan berkali-kali selalu ada eritrosit sekitar 10.

Saya segera minta dilakukan pemeriksaan lengkap: laboratorium, USG dan rontgen ginjal, dan hasilnya data-data penting adalah sbb: fungsi ginjal normal, kreatinin 0,8 mg/dl, urin protein negatif, eritrosit 10-15 buah per LPB, tetapi pengukuran mikroalbuminuri menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu : 614 mg/24 jam.

Saya berkesimpulan pasien ini menderita Glomerulonefritis Kronik dengan presentasi klinik Hematuri dan Proteinuri Asimtomatik. Pengobatan dilakukan dengan memberikan obat-obat yang bersifat antiproteinuria, yang juga menekan peradangan (inflamasi) di Glomerulus, tidak digunakan obat steroid. Pasien ini dimonitor cukup intensif, mula-mula dua bulan sekali, lama-lama 4-5 bulan sekali. Pasien ini tidak dibiopsi ginjal karena kebocoran proteinnya minim / tidak parah.

Setelah pengobatan berlangsung empat tahun, pada akhir 2004 hasilnya cukup memuaskan, proteinuria tetap negatif, kreatinin 1,0 mg/dl , mikroalbuminuria berkisar sekitar 150 mg/24 jam, lain-lainnya tetap normal.

Tentang Sdr. Tatang, kalau pemeriksaan-pemeriksaan menghasilkan data-data yang mirip dengan gambaran di atas, maka penyakit Sdr. dapat disebut Glomerulonefritis Kronik (ringan). Saya sarankan Sdr. berobat secara periodik dan teratur agar dapat dimonitor secara kontinu. Sekali-sekali berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Ginjal-Hipertensi. Mudah-mudahan penyakit Sdr dapat sembuh atau paling tidak terpelihara dalam kondisi yang ringan. Demikian jawaban saya, mudah-mudahan dapat bermanfaat.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro-Konsultan Ginjal-Hipertensi RS Mediros

 
Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 7, 2008

AIDS dan Penyakit Kelamin

Tanya:

Pengasuh Yth., Ketika masih jadi pelaut saya sering kencan dengan pekerja seks komersial (PSK) di berbagai pulau yang saya singgahi. Di mana kapal bersandar, di situlah saya mencari perempuan yang bisa memuaskan nafsu.

Tapi, setelah punya istri saya tidak pernah lagi kencan dengan PSK. Kendati lima tahun lamanya saya berganti-ganti pasangan, tapi hingga kini saya tidak pernah terkena penyakit kelamin. (1) Apakah dengan demikian, membuktikan bahwa saya bebas dari HIV/AIDS?

An, Pontianak


Jawab:

Perilakumu jelas berisiko tinggi tertular HIV karena ada kemungkinan salah satu dari PSK yang kau kencani mengidap HIV. Biar pun Anda tidak pernah mengidap siflis atau GO hal itu tidak bisa menjadi jaminan ‘bebas HIV’ karena sifilis dan GO bukan tanda, gejala atau ciri-ciri khas AIDS.

Selain itu seseorang yang tertular HIV tidak akan menunjukkan tanda, gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS sebelum masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV). Tapi, biar pun tidak ada tanda, gejala atau ciri yang khas AIDS namun yang bersangkutan sudah bisa menularkan HIV melalui hubungan seks yang tidak memakai kondom, transfusi darah dan jarum suntik kepada orang lain tanpa disadarinya.

Untuk menghapus keragu-raguanmu akan lebih baik kalau Anda memikirkan untuk menjalani tes HIV secara sukarela. Kalau perlu bantuan, silakan hubungi kami.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 4, 2008

Pengobatan Komplikasi Penyakit Kanker Stadium Lanjut

Tanya:

Dokter, ibu saya terkena kanker leher rahim, dikatakan oleh dokter yang menanganinya sudah stadium lanjut. Kakinya sudah mulai bengkak, susah buang air besar, susah buang air kecil, sering keluar darah dari kemaluan. Keadaan ibu semakin lemah, tidak ada nafsu makan. Apakah semua itu akibat komplikasi penyakit kanker dok? Apakah penyakit ibu saya masih dapat diobati? Mohon jawabannya. Terimakasih.

Santi, Pontianak

Jawab:

Penyakit kanker adalah penyakit pertumbuhan sel yang sudah tidak dapat dikontrol lagi oleh tubuh secara normal, akibatnya kanker makin membesar tanpa henti dan menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh di mana pertama kali kanker itu tumbuh dan pada jaringan serta organ tubuh disekitarnya, serta dapat menyebar ke bagian organ tubuh penting lainnya yang jauh seperti ke paru-paru, liver, tulang, otak dengan segala komplikasinya.

Komplikasi akibat penyakit kanker secara umum disebabkan oleh empat faktor, yaitu: komplikasi akibat pertumbuhan kanker yang merusak sekitarnya, komplikasi sebagai akibat tidak langsung dari kanker, komplikasi yang tidak ada kaitannya dengan kanker dan komplikasi akibat pemberian sitostatika atau kemoterapi, radioterapi maupun tindakan pembedahan.

Komplikasi akibat pertumbuhan kanker yang merusak sekitarnya (infasif), dapat mengakibatkan terjadinya penyumbatan saluran seperti pada kanker usus, kanker saluran kencing, sehingga penderita tidak dapat buang air besar dan buang air kecil yang menyebabkan perut membesar dan muntah-muntah.

Bisa juga kanker menyebabkan erosi dan perforasi sehingga terjadi perdarahan maupun terjadi fistula atau salutan yang tidak normal. Selain itu dapat menyebabkan penyumbatan saluran disekitarnya, misalnya pada kanker leher rahim stadium lanjut dapat menyebabkan sumbatan saluran kencing sehingga air kencing tidak dapat keluar dan ginjal menjadi bengkak, atau pada kanker kelenjar getah bening dapat menyebabkan sumbatan saluran getah bening di kaki dan mengakibatkan kaki menjadi bengkak.

Hal lainnya, akibat pertumbuhan kanker yang terus tumbuh, dapat menyebabkan rasa nyeri yang diakibatkan iritasi pada syaraf, tulang maupun kapsul organ seperti pada kanker hati.

Komplikasi sebagai akibat tidak langsung dari kanker amat banyak dan bervariasi, dari yang ringan sampai yang berat dan berakibat fatal bila tidak segera di atasi. Di antaranya adalah terjadi gangguan umum seperti demam, berat badan menurun, tidak mau makan, anemia. Juga bisa terjadi gangguan gizi, gangguan imunologis atau kekebalan tubuh, maupun hiperkalsemia.

Gangguan gizi yang tidak cepat diperbaiki dapat menyebabkan gangguan kekebalan tubuh dan bisa menyebabkan terjadinya infeksi yang sering sukar diobati.

Hiperkalsemia terjadi terutama pada kanker yang mengenai tulang baik kanker yang awalnya tumbuh dari tulang maupun kanker yang bermetastasis luas ke dalam tulang.

Komplikasi yang tidak ada kaitannya dengan penyakit kanker, misalnya pada pemberian transfusi darah. Seringkali penderita kanker datang sudah dalam keadaan lanjut dan sudah terjadi anemia atau kurang darah, apalagi kalau terjadi perdarahan pada kanker tersebut yang sangat sukar dihentikan. Untuk menambah darah supaya mendekati atau kembali ke kadar normal, seringkali diperlukan transfusi darah.

Namun kadangkala pemberian transfusi darah dapat menyebabkan efek samping yang dapat terjadi segera maupun kemudian, di antaranya adalah reaksi hemolisis karena tidak sesuai golongan darahnya, selain itu bisa terkena virus hepatitis, malaria.

Komplikasi akibat tindakan pemberian kemoterapi, radioterapi maupun bedah. Radiasi maupun kemoterapi dapat menyebabkan terjadinya penurunan kadar darah putih akibat penekanan fungsi sumsum tulang yang bisa menyebabkan infeksi dan kematian.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

August 5, 2008

Rehabilitasi Penderita Penyakit Jantung

Masalah :

Rehabilitasi Medik penyakit jantung adalah suatu ilmu & seni untuk mengembalikan penderita penyakit jantung pada tingkat aktifitas fisik & mental yang sesuai dengan kapasitas jantungnya.

Penyakit jantung yang dapat diberi program Rehabilitasi Medik antara lain:

1. Gangguan mekanik jantung: sumbatan atau kebocoran katup jantung.

2. Tekanan perifer yang meningkat akibat hipertensi (tekanan darah tinggi).

3. Energi yang berkurang: Angina pectoris, myocard infark (jantung koroner).

Jawaban :

Penatalaksanaan:

- Program Rehabilitasi Medik diberikan segera setelah keadaan krisis dilewati sampai penderita dapat kembali ke pekerjaan/ kehidupan semula (idealnya). Atau bila penderita sudah cukup puas terhadap keterbatasannya dan dapat melakukan aktifitas sehari-hari yang berarti.

- Dalam pelaksanaan program Rehabilitasi Medik harus secara terpadu antara Team Rehabilitasi Medik dan Dokter Ahli Jantung.

- Jenis Rehabilitasi Medik yang diberikan: Rehabilitasi fisik, psikis dan pekerjaan.

Rehabilitasi Fisik:

1. Rehabilitasi pada Fase Akut (Program di Rumah Sakit):

- Diberikan segera setelah masa krisis dilewati (atas konsul Dokter Ahli Jantung).

- Diberikan selama 2-3 minggu:

a. Hari ke 2-7: bed exercise, brething exercise, gentle massage, latihan pasif/ aktif ringan untuk kelompok otot, & latihan relaksasi.

b. Hari ke 7-10: latihan diatas dilanjutkan, ditambah latihan duduk ditepi tempat tidur tanpa pertolongan, & latihan berdiri ditepi tempat tidur.

c. Hari ke 10: latihan seperti diatas, latihan lengan & tungkai secara gentle, latihan jalan 100 m.

d. Hari ke 15: latihan diatas lanjutkan, ditingkatkan dengan naik tangga, latihan tubuh & latihan berjalan lebih lama.

e. Minggu ke 3: latihan lebih ditingkatkan, naik tangga 1 lantai/ 1 tingkat rumah, latihan berjalan 400 m/keliling rumah, & home program.

Latihan dari tahap pertama ke tahap berikutnya tidak boleh diteruskan bila ditemukan hal-hal sebagai berikut:

- Frekuensi nadi meningkat > 30x/ menit dari nadi awal atau turun > 10x/ menit dari nadi awal.

- Ada gangguan irama jantung yang timbul selama atau sesaat setelah latihan.

- Sesak nafas, nyeri angina dan kelelahan yang timbul selama atau setelah latihan.

- Pucat, keringat dingin, bradikardi, hipotensi, pusing atau syncope.

2. Fase di rumah (4-8 minggu):

a. General exercise: jalan naik tangga, naik sepeda tanpa tahanan, latihan pernafasan, & latihan relaksasi. Latihan dilakukan 3 kali seminggu.

b. Health education: Konsultasi dengan Ahli Jantung, Psikolog, gizi, masalah pekerjaan, masalah hubungan seksual.

c. Evaluasi Treadmill minggu ke 4 & minggu ke 8.

3. Fase lanjutan (3-6 bulan):

- Penderita berlatih diluar atau ditempat masing-masing dengan kontrol ke bagian jantung untuk mengevaluasi dan pengawasan program yang telah dikerjakan.

- Pada fase ini penderita sudah bisa bergabung dengan Klub Jantung Sehat.

4. Fase Pemeliharaan:

Usaha-usaha yang dilakukan untuk pencegahan sekunder: latihan fitness. Program seumur hidup.

Rehabilitasi Psikologi:

- Yang banyak dikeluhkan: masalah pribadi, keluarga, pekerjaan, & masalah sosial.

- Bila masalah tersebut dibiarkan akan merupakan stress bagi penderita dan merupakan faktor risiko.

- Tindakan berupa: memberikan psikoterapi, menyarankan pada keluarga untuk memberikan suasana yang tenang, konsultasi dengan Team Rehabilitasi yang lain tentang perkembangan penyakitnya.

Rehabilitasi Pekerjaan:

- Untuk menentukan jenis pekerjaan/ aktifitas fisik dikemudian hari harus dilakukan Exercise Stress Test.

- Dari hasil Exercise Stress Test dapat terjadi 3 kemungkinan:

a. Kapasitas jantungnya melampaui keperluan kerja.

b. Kapasitas jantung terlalu rendah untuk pekerjaan semula.

c. Hasilnya meragukan.

- Bila terjadi hal (b & c), penderita dapat dimulai dengan:

1. Melatih kembali untuk bekerja yang sesuai dengan kemampuan.

2. Mencoba pekerjaan yang diinginkan.

3. Mengirim kepusat-pusat latihan kerja.

4. Penderita pensiun.

Demikian program Rehabilitasi Medik pada penderita dengan penyakit jantung yang dapat kami sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Untuk konsultasi lebih lanjut dapat menghubungi: Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD dokter Soedarso; Apotik Bintang Jl Gajah Mada 70 Pontianak; HP: 0817877731.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

May 27, 2008

Rasa Takut Menghadapi Penyakit Kanker, Bagaimana Menyikapinya ?

Tanya :

1. Dokter, saya wanita 38 tahun, ada benjolan di payudara kanan saya yang cepat membesar, dalam waktu 6 bulan benjolan sudah sebesar jeruk Bali, saya takut dok, apakah penyakit saya ini kanker ? Saya takut berobat ke dokter, takut kalau terbukti memang kanker, lalu payudara saya harus dibuang, bagaimana nasib saya dok ?

Saat ini saya masih berobat ke alternatif, tapi malah tambah membesar benjolannya.

Tolong dok, harus bagaimana saya dok ? anak-anak saya masih kecil-kecil dok, saya kasihan sama mereka kalau terjadi apa-apa dengan saya. Jawaban dokter saya tunggu,

Terimakasih. ( Ny. Ana , Mempawah .)

2. Dokter, saya wanita 40 tahun , ada benjolan di payudara kanan saya, dalam 5 bulan sudah membesar seperti bola tenis. Sudah dibiopsi oleh dokter yang merawat saya dan dari pemeriksaan patologi anatomi dikatakan positif kanker payudara.

Dok, saya pasrah, seandainya payudara saya harus diangkat sekalipun tidak apa-apa yang penting saya bisa sembuh. Suami sayapun sangat mendukung saya.

Apakah penyakit saya ini masih dapat disembuhkan ? Nasihat dari dokter sangat saya nantikan. Terimakasih.

( Ny. Ratna , Pontianak )

Jawab :

Pertanyaan yang diajukan tersebut menggambarkan reaksi pribadi saat mengetahui menderita kanker. Sangat manusiawi apa yang diperlihatkan mereka berdua dan mungkin juga mewakili untuk menggambarkan para penderita kanker lainnya saat divonis sakit kanker. Ibu Ana masih memperlihatkan rasa takut yang berlebihan, sementara ibu Ratna sudah pasrah menghadapi kenyataan yang terjadi pada dirinya.

Setiap orang pasti akan cemas bila ada tumor pada tubuhnya, apalagi bila tumor itu ternyata ganas atau kanker. Pada wanita khususnya, bila kanker itu menyerang payudara, tentunya akan menimbullkan rasa takut yang lebih.

Betapa tidak ? Payudara merupakan organ yang identik dengan sifat kewanitaan, body image, selain fungsinya untuk menyusui , reproduksi dan lainnya.

Bila payudara harus dibuang karena ada kankernya, tentunya akan menimbulkan problem kejiwaan yang cukup berat bila tidak siap menghadapi kenyataan yang terjadi.

Bagi kebanyakan orang, kanker dianggap sebagai penyakit yang amat mengerikan. Mereka sadar akan besarnya potensi bahaya yang ditimbulkannya, dan berpendapat serta yakin bahwa pada saat diagnosis kanker ditegakkan pada dirinya, maka hal itu seolah-olah adalah “surat kematian yang sudah menunggu “ atau telah terjadi malapetaka pada dirinya. Timbul pikiran-pikiran yang justru akan menghambat penyembuhan seperti rasa takut untuk dioperasi, rasa takut hubungan dengan suami akan terganggu, rasa takut akan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, rasa rendah diri dan malu termasuk malu untuk berkonsultasi ke dokter, takut tidak ada biaya untuk mengobatinya karena mahal pengobatannya, takut tidak dapat disembuhkan , serta rasa takut lainnya , sampai pada depresi.

Terdapat beberapa fase perubahan mental-emosional yang biasa dilalui penderita dalam menghadapi penyakit berat termasuk kanker.

1. Fase pertama : Pengingkaran dan isolasi.

Setelah seseorang mengetahui bahwa dirinya menderita kanker, reaksi yang umum ditunjukkan adalah mengingkari kenyataan tersebut. Kata-kata yang sering diucapkan penderita pada fase ini adalah “ Itu tidak mungkin ……, Mungkin diagnosisnya salah,….Saya tidak percaya karena dikeluarga saya tidak ada yang kena kanker “ dan kalimat-kalimat sejenis yang intinya mengingkari kenyataan yang terjadi pada dirinya.

Akibat dari reaksi pengingkaran ini, penderita sering berpindah-pindah berobat dari satu dokter ke dokter lainnya, bahkan lebih sering berobat ke alternatif atau ke orang-orang yang dianggap “pintar”.

Sebenarnya pengingkaran ini ada gunanya, yaitu sebagai buffer, selama pengingkaran penderita dapat mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya.

Biasanya pengingkaran ini bersifat sementara dan segera berubah ke fase lain .

2. Fase kedua : Kemarahan atau anger.

Bila pengingkaran tidak dapat dipertahankan lagi, maka fase pertama berubah menjadi fase kemarahan, kemurkaan, perasaan iri dan penolakan.

Penderita dapat mengalihkan kemarahan pada lingkungannya. Sering yang menjadi sasaran adalah orang yang berada disekelilingnya, seperti keluarga, orang terdekat, perawat atau dokter yang merawat. Semua tindakan perawat, dokter atau keluarga selalu disalahkannya, banyak menuntut, cerewet, mudah tersinggung, atau meminta banyak perhatian. Bila ada yang datang menjenguk ia menunjukkan sikap penolakan, sehingga akhirnya mereka enggan datang. Hal ini menyebabkan penderita lebih marah dan tidak senang.

3. Fase ketiga : Sikap tawar- menawar.

Setelah marah-marah berlalu, penderita akan merasakan dan berpikir bahwa protesnya tidak ada arti. Mulailah timbul perasaan bersalah dan ia mulai lebih meningkatkan hubungan dengan Tuhan, meminta dan berjanji merupakan ciri khas pada fase ini.

Penderita berjanji akan berbuat banyak kebaikan bila penyakitnya dapat disembuhkan.

4. Fase keempat : Fase depresi.

Pada fase ini penderita merasa sedih dan berkabung karena ia akan kehilangan orang yang dicintai, pengalaman yang indah, kebiasaan atau hobi yang menggembirakan, kehilangan segala-galanya yang berarti, takut terhadap kematian , takut akan ketergantungan, takut menjadi beban, takut tidak dapat bersosialisasi, takut tidak dapat menjalankan fungssi sebagai ibu dan sebagai isteri serta rasa takut lainnya. Penderita dapat mengekspresikan kesedihannya dengan menangis atau mengungkapkannya secara verbal. Penderita mulai memikirkan masa yang akan datang dan memohon serta berdoa.

5. Fase kelima : Fase penerimaan (Pasrah).

Setelah melalui fase-fase sebelumnya, penderita sampai pada fase yang terakhir yaitu fase penerimaan. Tidak ada lagi pengingkaran, penolakan atau depresi. Pada fase ini penderita sering mengeluh merasa lemah, tidur lebih banyak / panjang. Hampir tidak ada lagi emosi. Pada saat ini penderita telah menerima kenyataan atau pasrah bahwa dirinya menderita kanker.

Tidak semua fase tersebut harus dilalui satu persatu, karena respon penderita menghadapi vonis kanker sifatnya sangat individu, berbeda satu orang dengan lainnya tergantung pada kematangan kejiwaan dan juga tentunya ketaatan menjalankan agamannya. Makin matang kejiwaanya dan makin percaya akan takdir, maka makin cepat mencapai ke fase lima yaitu menerima kenyataan yang terjadi.

Permasalahannya tidak semua orang memiliki ketahanan kejiwaan yang matang, sehingga justru fase pengingkaran yang lebih dominan. Apa akibatnya bila hal ini yang terjadi ? Penderita justru takut berobat ke dokter dan mencari alternatif pengobatan lain, ke orang pintar, dengan berbagai cara pengobatan yang bahkan justru mempeburuk penyakitnya. Sering pada pengobatan alternatif, diobati dengan cara ditekan, dipijat, ditusuk jarum, dibekam, yang jutru akan mempercepat penyebaran kankernya. Selain itu dengan berjalannya waktu , kanker akan meningkat stadiumnya. Hal inilah yang sering menyebabkan penderita kanker datang terlambat, dimana datang ke dokter sudah dalam stadium lanjut . Artinya setelah berobat ke orang pintar tidak menunjukkan hasil dan bahkan bertambah parah, baru datang ke orang yang sebelumnya dianggap kurang pintar yaitu ke dokter. Namun tentunya pengobatannya menjadi bukan yang terbaik lagi. Karena semakin lanjut stadium kanker diobati, maka hasilnya akan semakin kurang baik, berbeda bila diobatinya masih dalam stadium dini, maka hasilnya akan baik .

Bagaimanakah sikap yang terbaik bila menghadapi kenyataan menderita kanker ? Tentunya yang terbaik adalah menerima kenyataan itu secepat mungkin, yaitu masuk ke fase penerimaan atau pasrah, sehingga lebih cepat diobati oleh dokter.

Bila stadium masih dini, maka proses pengobatan akan relatif lebih cepat dan harapan kesembuhannya akan lebih baik. Jangan membuang-buang waktu percuma dengan mencari pengobatan alternatif, karena hingga kini pengobatan kanker hanyalah operasi, khemoterapi, radioterapi atau terapi hormon. Dengan membuang waktu, artinya memberikan kesempatan pada kanker untuk terus tumbuh dan menyebar ke seluruh tubuh, sehingga akhirnya sudah tidak dapat diobati lagi.

Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab. Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl.A.R Saleh (BLKI) No. A-5 Pontianak, Telp. 0561-583999..

Untuk konsultasi : 1. Klinik Bedah Onkologi RSUD Dr. Soedarso

2. Klinik Tumor dan Kanker Pontianak.

Dr.Yusuf Heriady SpB, SpBOnk

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

May 5, 2008

Takut Tertular Penyakit Lewat Tato

Masalah :

Assalamualaikum Wr Wb
Dokter Zubairi Yth,
anak saya laki-laki, merengek minta punggungnya ditato seperti teman-teman mainnya. Terus terang saya khawatir, takut jarumnya nggak steril, kemudian tertular hepatitis. Dok, benarkah hepatitis, AIDS atau penyakit-penyakit lain bisa ditularkan melalui jarum tato? Di satu pihak saya senang, anak saya memberitahukan keinginannya untuk tato. Namun di pihak lain, kalau saya tolak, saya takut ia akan mentato punggungnya tanpa setahu saya. Anak saya badannya besar, tinggi 170 cm, walaupun umurnya baru 19 tahun. Ia kuliah semester tiga.

Yayuk, Jakarta

 

Jawaban :

Assalamualaikum Wr Wb
Bu Yayuk Yth,
Memang patut disyukuri anak minta izin dulu sebelum melakukan sesuatu yang ia anggap penting dan menjadikannya lebih keren, lebih macho, lebih cool, jika meminjam istilah remaja sekarang. Membuat tato (tattoo) di tubuh memang menjadi tren sebagian remaja sekarang, lelaki dan perempuan di Indonesia, maupun remaja di banyak negara lain, termasuk remaja di negara Arab. Sebetulnya, sejak berabad lalu, suku Ainu di Jepang dan suku Maori di New Zealand biasa membuat tato, bahkan di wajah. Demikian pula beberapa suku di Filipina, Kalimantan, Mentawai, Afrika, Amerika Selatan, dan Cina biasa membuat tato di badan. Tato dapat merupakan simbol berbagai hal, mulai dari simbol religi, status, keberanian, kecantikan, proteksi, namun juga bisa merupakan simbol perbudakan. Tato juga amat populer di penjara maupun di kalangan kriminal.

Apakah tato dapat menularkan penyakit? Ya, memang benar tato dapat menularkan berbagai penyakit, termasuk kuman yang ganas dan juga dapat menularkan penyakit virus, termasuk hepatitis C dan HIV/AIDS. Tato dapat menularkan penyakit karena seringkali jarum dan alat-alat lain yang dipakai untuk membuat tato tidak selalu steril, sering dipakai ulang, tanpa disterilkan lebih dulu. Proses membuat tato adalah dengan memasukkan pigmen, zat warna ke dalam kulit.

Pada bulan Juni 2006, badan kesehatan resmi Amerika, CDC melaporkan 44 kasus penularan kuman MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus) super bakteri ganas, pintar dan resisten terhadap beberapa antibiotik yang ditularkan melalui tato. Dilampirkan foto pasien yang kakinya luka parah dari jari sampai paha akibat infeksi MRSA melalui tato. Kondisi kesehatan pasien ini merupakan kedaruratan yang membahayakan nyawa dan dapat menularkan ke orang lain, khususnya ke pasien yang sedang dirawat di rumah sakit yang sama. Saya masih ingat ketika menengok pasien penyakit darah yang terinfeksi MRSA di sebuah rumah sakit di Leiden, Belanda. Saat itu, sebelum melihat atau memeriksa pasien berikutnya, saya harus keluar rumah sakit, berjalan di udara bebas, sebelum beberapa jam kemudian, baru boleh masuk rumah sakit, melihat pasien berikutnya. Tujuannya, agar saya tidak menjadi mediasi untuk penularan MRSA.

Tato dapat menularkan bakteri ganas tersebut, karena jarum yang dipakai untuk membuat tato tidak steril. Setelah dipakai untuk klien pertama, kemudian langsung dipakai untuk membuat tato klien kedua tanpa disterilkan lebih dulu, sehingga jarum yang mengandung darah, berisi kuman dan virus dari klien pertama, dipindahkan ke klien kedua. Bakteri, virus dari klien pertama dan kedua, dipindahkan, ditularkan ke klien ketiga, dan seterusnya.

Untuk membuat tato, baik dengan cara tradisional ataupun dengan mesin tato, saat zat warna dimasukkan ke kulit dengan menusukkan satu jarum ataupun banyak jarum, terjadi kerusakan dari barier kulit, sehingga memungkinkan timbulnya infeksi dan alergi. Pada tahun 2000, badan POM Amerika dan Palang Merah Amerika melarang orang yang ditato untuk menyumbangkan darah, paling tidak untuk 12 bulan. Selain MRSA, penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui tato adalah virus herpes simplex, virus hepatitis C, HIV, juga infeksi jamur dan tetanus.

Efek samping tato yang lain adalah alergi. Alergi lebih sering terjadi terhadap zat warna merah dan hijau. Selain itu, ada juga yang alergi terhadap lateks, termasuk sarung tangan yang dipakai oleh orang (tukang, artis) yang mengerjakan proses tato. Walaupun kecil, namun ada risiko shock anafilaktik sewaktu tato dibuat. Sekarang ini, juga tersedia gambar tempel yang bisa membuat lukisan di kulit untuk sementara, 1-2 minggu, mirip tato, tetapi tanpa memakai jarum.

Jadi, Bu Yayuk, jelaskan kepada anak Ibu tentang risiko tertular penyakit yang bermacam-macam tersebut, dan minta anak Ibu membaca tulisan ini. Saya harap anak Ibu bisa mengerti dan memahami mengapa sebaiknya tidak membuat tato di tubuhnya, selain memang tidak dibenarkan oleh agama Islam yang Ibu sekeluarga anut.

Dr.Zubairy Dzoerban

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

February 22, 2008

Mencegah Komplikasi Penyakit Kencing Manis

Tanya:

Sudah dua tahun ini saya menderita sakit kencing manis. Saya berumur 52 tahun, berat badan 61 kg dan tinggi badan 164 cm. Saya pernah minum obat Glucopac tetapi tidak teratur karena saya merasa tidak ada keluhan. Saya juga merasa bosan karena harus sering kontrol pemeriksaan gula darah.

Pertanyaan saya:
1. Apakah penyakit kencing manis bisa disembuhkan?
2. Apa saja yang harus saya lakukan supaya gula darah normal?
3. Saya pernah mendengar penyakit ini bisa menimbulkan penyakit lain, bagaimana caranya mencegah hal ini? Apa saja penyakit lain yang dapat timbul itu?

Tukiman, Gresik

Jawab:

Pertama-tama perlu dipahami bahwa penyakit kencing manis atau diabetes mellitus adalah penyakit menahun (kronik). Pada penyakit diabetes, tidak digunakan istilah sembuh, tetapi dikatakan gula darah terkontrol, yaitu dapat dikendalikan dalam batas-batas normal. Untuk itu, bukan hanya dokter yang berperan, tapi juga pasien, ahli gizi dan keluarga pasien.

Penyakit Diabetes Tergantung Insulin (IDDM) disebabkan kerusakan sel beta pulau Langerhans pada kelenjar pankreas akibat proses auto imun, akibatnya produksi insulin sangat menurun. Beda dengan penyakit Diabetes Tidak Tergantung Insulin (NIDDM) yang disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Pada resistensi insulin terjadi penurunan kemampuan insulin untuk berfungsi normal, sehingga pemakaian glukosa oleh sel berkurang. Hal ini dibarengi dengan ketidakmampuan sel beta menambah produksi insulin, sehingga terjadi kekurangan insulin secara relatif.

Penyakit diabetes yang ketiga disebabkan defek genetik, pankreatitis, tumor pankreas, karena obat, dan sebagainya. Sedangkan penyakit diabetes yang keempat adalah Diabetes Mellitus Gestasional.

Gejala yang muncul menyertai penyakit ini adalah polifagia (makan banyak), poliuria (kencing banyak) dan polidipsia (minum banyak). Gejala ini dapat disertai berat badan menurun dan gejala lain seperti gatal, kesemutan, mata kabur, mudah lelah, luka yang tidak sembuh, dan sering timbul infeksi kulit atau bisul.

Bagaimana menjaga gula darah normal terus-menerus? Ini adalah pertanyaan yang baik, karena pada dasarnya sasaran pengobatan penyakit diabetes yang utama adalah senantiasa menjaga gula darah normal. Dengan gula darah normal terus, kemungkinan timbulnya penyakit lain atau lebih tepat disebut komplikasi menjadi berkurang. Hal lain yang perlu dijaga normal adalah lemak darah serta tekanan darah.
Untuk menjaga gula darah normal, upaya yang bisa dilakukan adalah:
1. Perencanaan makan. Kalori yang terukur, dihitung dari berat badan ideal (tinggi badan – 100) – 10 %. Untuk Anda, perhitungan ini menjadi : (164 – 100) – 10 % = 64 - 6,4 = 57 kg. Jadi, kalori yang dibutuhkan adalah 57 X 30 – 35 kkal = 1700 – 2000 kkal. Komposisi makanan perlu seimbang, yakni karbohidrat (60 % - 75 %), protein (10% – 15 %), dan lemak (20 - 25 %). Untuk perencanaan makan lebih baik dikonsultasikan kepada ahli gizi.
2. angkah kedua adalah olahraga, misalnya jalan kaki, jogging, bersepeda, senam, atau bisa juga renang maupun lain-lain. Olahraga perlu dilakukan bertahap, teratur, dengan intensitas yang cukup, dan bila perlu dikombinasikan. Frekuensi sebaiknya dilakukan antara 4 – 6 kali seminggu.

3. Bila dengan dua langkah tersebut, gula darah belum juga mencapai sasaran, maka ditambahkan obat diabetes atau sering disebut Obat Hipoglikemik Oral (OHO). Obat-obat ini dapat dipilih oleh dokter tempat Anda berobat.

Berapa target gula darah yang baik? Sebaiknya gula darah puasa antara 80 – 109 mg / dl dan gula darah sesudah makan (PP) adalah antara 110 – 159 mg / dl (darah vena). Di samping itu, pemeriksaan HbA1C dijaga agar berada dibawah 6,5 %. Tentu saja gula darah normal atau tidak, hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan darah di laboratorium atau bisa diperiksa sendiri bila kita mempunyai alatnya. Selain itu, pemeriksaan harus dilakukan secara periodik dan teratur.

Sementara komplikasi yang timbul terbagi antara komplikasi akut dan kronik. Komplikasi akut antara lain kesadaran menurun (koma) karena gula darah sangat rendah atau karena gula darah sangat tinggi, dan keasaman darah meningkat karena zat keton.
Sedangkan komplikasi kronik dapat berupa kerusakan pembuluh darah besar, pembuluh darah di otak yang bisa menimbulkan stroke, pembuluh darah jantung dan pembuluh darah tepi. Juga kerusakan pembuluh darah kecil seperti pada mata yang bisa menimbulkan kebutaan, dan ginjal yang bisa menyebabkan penurunan fungsi ginjal atau disebut gagal ginjal kronik.

Komplikasi kronik juga bisa berupa gangguan saraf, mudah terkena infeksi dan kerusakan kaki yang bisa menyebabkan kaki diamputasi.
Untuk membuat penyakit diabetes tidak menjadi parah, pasien perlu melakukan perubahan gaya hidup berupa diet, olahraga, dan minum obat seumur hidup. Perubahan gaya hidup memang bukan proses mudah karena itu untuk menjalankan perlu niat dan tekad kuat untuk mewujudkankannya, selain juga dukungan dari keluarga. Dengan cara ini, sebenarnya kita telah mengambil keputusan yang sangat berharga, yaitu menghindari komplikasi penyakit diabetes yang cukup berbahaya itu.

Dr. Erawati
Resident Medical Officer, RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

February 4, 2008

Nyeri Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik

Tanya:

Ayah saya berumur 54 tahun, sejak th 90-an menderita penyakit ginjal namun beliau berobat tidak teratur. Kemudian akhirnya pada th 1998 fungsi ginjal sudah sangat rendah, disebut oleh Dokter: Gagal Ginjal Terminal, sehingga terpaksa menjalani pengobatan hemodialisis. Saat ini ayah menjalani hemodialisis dua kali seminggu dengan jadwal Rabu dan Sabtu, tapi kadang-kadang beliau mengundurkan jadwal menjadi lima hari sekali atau bahkan seminggu sekali. Obat-obat yang diminumnya a.l. Folic Acid, Calcium Carbonat, dan beberapa vitamin, selain itu juga suntikan Eprex 2 kali seminggu, kadang-kadang diperpanjang seminggu sekali atau sebulan dua kali bila kadar darahnya (Hb) sudah cukup baik.

Akhir-akhir ini kurang lebih sejak tiga bulan lalu, ayah merasa nyeri di pangkal paha kanan. Beliau telah berobat ke dokter, dari berbagai pemeriksaan laboratorium, rontgen, maka dokter menyimpulkan ayah terkena kelainan tulang karena penyakit ginjal kronik.
Pertanyaan saya, apakah penyakit ini cukup serius, apa sebenarnya penyebab penyakit ini dan bagaimana pengobatannya?

Joko A,

Cawang, Jakarta Timur

 

Jawab:

Dari keterangan Anda, maka diperkirakan penyakit tulang yang diderita ayah Anda disebut Renal Osteodystrophy. Penyakit ini terjadi pada pasien-pasien Gagal Ginjal Terminal yang dapat terus berkiprah karena menjalani pengobatan pengganti ginjal misalnya hemodialisis atau CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), sehingga proses-proses patologis yang mengganggu tulang dapat berlangsung. Jenis penyakit tulang tersebut antara lain Osteomalacia, Osteitis Fibrosa Cystica. Penyakit tulang ini terjadi pada sebagian pasien yang menjalani dialisis kira-kira sebesar 10 %. Selain terjadi gangguan tulang, dapat juga terjadi gangguan di luar tulang (extra-skeletal). Penyakit tulang ini memang dapat memberikan rasa nyeri, dapat juga menyebabkan patah tulang (fraktur).

Bagaimana dapat timbul penyakit tulang ini pada pasien penyakit ginjal? Sebenarnya mekanismenya cukup rumit dan panjang, terdapat berbagai rangkaian proses rumit yang menyebabkan penyakit ini. Saya mencoba menyederhanakan penjelasannya agar mudah dimengerti. Pada pasien Gagal Ginjal Terminal, fungsi ginjal sangat rendah sehingga tidak mampu membuang ”sampah” dari tubuh, termasuk suatu bahan yang disebut Fosfor. Akibatnya kadar fosfor meningkat dalam darah, disebut hiperfosfatemia. Akibat hiperfosfatemia maka bahan lain yaitu Kalsium kadarnya harus diturunkan, yaitu dengan membuang keluar dari darah ke dalam jaringan bukan tulang (metastatic / ectopic calcification), misalnya ke jaringan lunak sekitar sendi, ke dinding pembuluh darah, ke organ jantung, paru, ginjal, juga ke kulit dan jaringan di bawah kulit, bisa juga ke mata.

Karena kalsium darah rendah, maka ada proses ikutan lain yang terjadi, yaitu peningkatan kerja Kelenjar Paratiroid sehingga produksi hormon paratiroid meningkat, hormon ini berperan pada perkembangan tulang. Peningkatan hormon paratiroid ini sebenarnya dimaksudkan untuk meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Setelah kadar kalsium dalam darah meningkat, terjadi lagi hal yang tadi dijelaskan, yaitu kalsium dibuang keluar dari darah. Hal ini berlangsung terus-menerus sehingga lama-kelamaan massa tulang berubah sehingga timbullah penyakit pada tulang. Kelainan ikutan yang lain adalah terganggunya produksi metabolit vit. D.

Jadi gangguan pada pasien bisa berupa gangguan pada tulang: Renal Osteodystrophy, tetapi juga bisa di luar tulang: pengapuran pada paru, pengapuran pada dinding pembuluh darah sehingga organ dapat terganggu misalnya jantung = gagal jantung, infark, pada otak = stroke dsb. Dapat juga terjadi pengapuran pada mata. Keadaan lain yang cukup mengganggu adalah timbulnya gatal (pruritus).

Pengobatan yang diberikan pada dasarnya adalah sebagai berikut:

  • Hemodialisis harus dilakukan teratur dan adekuat, jangan mengulur jadwal
  • Monitor kadar kalsium, fosfor dan hormon paratiroid. Kadar kalsium bisa rendah, bisa tinggi, tetapi yang lebih berbahaya adalah kadar fosfor yan tinggi. Perkalian nilai kadar kalsium dan nilai fosfor, disebut sebagai Calcium Phosphor product (CPP) agar dijaga normal yaitu di bawah 50, makin tinggi CPP ini akan semakin tinggi potensi kelainan-kelainan terutama ekstra skeletal.
  • Perhatikan diet rendah fosfor: 800 – 1000 mg per hari, bahan yang tinggi fosfor a.l. Produk susu, kacang-kacangan, coklat, hati, ikan berlemak, coke.
  • Diberikan obat-obat sesuai dengan kondisi faktual: obat pengikat fosfor a.l. kalsium karbonat, juga diberikan vit D sterol: kalsitriol
  • Kadang-kadang diperlukan operasi kelenjar paratiroid.
  • Penyakit dapat menjadi serius bila proses-proses tsb di atas berkembang/berjalan terus. Sebaiknya pengelolaannya ditangani Dokter Spesialis Ginjal / Nefrolog.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro - Konsultan Ginjal-Hipertensi

RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

February 3, 2008

Banyak Obat pada Penyakit Ginjal Kronik

Tanya:

Dari jawaban Dokter pada ruang konsultasi yang lalu, saya telah mendapat gambaran yang cukup jelas tentang banyaknya pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan pada pasien penyakit ginjal, sehingga saya tidak perlu lagi mengajukan pertanyaan tentang hal tersebut.

Saya mempunyai kakak laki-laki berumur 49 tahun yang menderita Penyakit Ginjal, kata Dokter karena penyakit diabetesnya. Bulan lalu pada waktu kontrol didapat kadar gula darahnya cukup baik, puasa 115, 2 jam sesudah makan 145. Data-data lain : Hb 9,3 , kadar kreatinin 2,6 , ureum 86, kolesterol 225. Tekanan darahnya sekitar 140-145/90-95, berat badannya adalah 65 kg sedangkan tinggi badan 162.

Kakak saya mendapat berbagai obat-obatan yang dianggapnya terlalu banyak. Obat-obat yang diminumnya a.l. Diamicron, Glucophage, Diovan, Triatec, Calcium Carbonate, Folic Acid, Ketosteril, Lipitor, Suntikan Eprex ditambah vitamin.
Pertanyaan saya: apakah memang perlu obat begitu banyak, mengapa tidak cukup hanya dua- empat macam? Mohon penjelasan Dokter atas pertanyaan saya.

Ny. Bambang, Kelapa Gading

Jawab:

Pertanyaan Ny Bambang baik sekali dan memang perlu ditanyakan.
Dari data-data tersebut, penyakit yang diderita kakak Sdr adalah: Penyakit Ginjal Kronik (PGK/ Chronic Kidney Disease) karena kemungkinan besar Nefropati Diabetik, suatu kelainan ginjal akibat penyakit Diabetes yang biasanya sudah berlangsung agak lama. Ditandai oleh kebocoran protein yang terdeteksi pada urinnya serta penurunan fungsi ginjal. Kebocoran protein perlu dihambat/ditekan seminimal mungkin untuk melindungi ginjal dari kerusakan-kerusakan yang lebih jauh. Selain itu juga terdapat hipertensi, peninggian kadar kolesterol/dislipidemia, dan anemia karena ginjal (Renal Anemia).

PGK ini akan dapat berlanjut/progresif sehingga fungsi ginjal makin menurun. Saat ini fungsi ginjal kakak Sdr berkisar 30 - 35 %. Penurunan yang sebenarnya sudah cukup jauh, sehingga penanganannya perlu intensif untuk mencoba menahan penurunan fungsi ginjal yang lebih jauh, bahkan dimungkinkan peningkatan kembali fungsi ginjal. Secara singkat pengobatan yang dilakukan: perlu dikendalikan diabetesnya dengan baik, hipertensi agar dapat ditekan menjadi sekitar 125-130/80, kadar kolesterolnya harus lebih rendah termasuk kolesterol LDL dan trigliseridanya, sedangkan kolesterol HDL harus tinggi.

Sebenarnya obat-obat yang diminumnya sudah cukup sesuai. Untuk memberikan penjelasan secara tepat, sebaiknya obat-obat tersebut dikelompokkan sebagai berikut:
Untuk penyakit diabetesnya: selain diet, olah raga, penurunan berat badan, diberikan Diamicron dan Glucophage. Sayangnya tidak ada data HbA1C, angka ini sebaiknya sama dengan atau kurang dari 6,5 %
Untuk tekanan darahnya, sekaligus memperbaiki ginjal: Diovan dan Triatec, melihat tekanan darah belum mencapai target, mungkin sebaiknya dosis dinaikkan, sayangnya Sdr tidak memberikan dosis yang sedang diminumnya, demikian juga data kebocoran proteinnya tidak ada. Biasanya diperlukan dosis yang cukup tinggi (extraordinary dose), agar kebocoran protein dapat ditekan lebih efektif, selain juga menurunkan tekanan darah. Bila dosisnya sudah cukup tinggi, alternatif lain adalah menambah obat lain misalnya golongan Calcium Antagonis

Untuk kolesterolnya diberikan Lipitor, bila kadar trigliserida-nya sangat tinggi diberikan obat yang lain atau kombinasi
Untuk anemianya diberikan suntikan Eprex, Folic Acid, mungkin juga vitamin yang diminumnya mengandung besi untuk membantu peningkatan kadar Hb-nya.

Calcium carbonate: diperlukan untuk menurunkan kadar fosfor darah yang mungkin sudah meninggi, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu tulang belulang (Renal Osteo dystrophy)
Akhirnya Ketosteril: adalah tablet yang mengandung asam amino yang merupakan elemen-elemen pembentukan protein sehingga tubuh mendapat unsur-unsur protein yang bermutu tinggi, selain itu juga dapat membantu menahan progresivitas penyakit ginjal.
Demikian penjelasan kami, semoga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Sdr. Kami anjurkan agar Kakak Sdr melakukan kontrol yang teratur pada Dokternya agar pengobatan terhadap kumpulan penyakitnya tersebut dapat mencapai keberhasilan yang memuaskan.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro-Konsultan Ginjal-Hipertensi

RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

February 1, 2008

Menghindari Komplikasi pada Penyakit Diabetes

Tanya:

Kakak ipar saya laki-laki umur 54 tahun, tahun lalu berobat dan didiagnosis menderita Diabetes. Setelah mengikuti ceramah Dokter yang bermanfaat ini, saya ingin meneruskan bahan ceramah ini kepada kakak saya. Namun ada pertanyaan saya sbb: apa saja upaya untuk menghindari atau mencegah timbulnya komplikasi pada penyakit Diabetes. Terima kasih atas jawaban Dokter.

Sunardi, Bogor

Jawab:

Untuk menjawab pertanyaan yang cukup penting tersebut berikut ini saya sampaikan penjelasan sbb:
Definisi. DM (Diabetes Mellitus) adalah keadaan gula darah tinggi (hiperglikemia) yang kronik disertai kelainan metabolik akibat kelainan sekresi insulin, kelainan kerja insulin atau keduanya.

Jumlah Penyandang DM (Diabetisi). Bangsa Kulit Putih: 3 – 6 %, tetapi ada yang 35 % Mikronesia, Polinesia. Bangsa India, Cina, Creole lebih tinggi. Indonesia : 1,5 – 2,3 %, di Manado lebih tinggi: 6 %, di Depok pada survei tahun 2001 didapat 12,8 %. Tetapi peningkatan yang mencemaskan di Indonesia adalah perkembangan masa yang akan datang: 1994 = 2,5 juta diabetisi ‡ 2003 = 5 juta ‡ pada 2025 menjadi 12 juta diabetisi!

Insulin. Gula (glukosa) merupakan bahan bakar utama bagi sel, gula darah dapat diolah berkat adanya Insulin. Gula dari darah masuk ke sel misalnya serabut otot oleh bantuan insulin, sehingga otot dapat bekerja baik, demikian juga untuk sel-sel lain. Insulin adalah zat atau hormon yang dibuat di Pankreas yaitu oleh sel Beta dari Pulau Langerhans. Ada sekitar 100.000 Pulau Langerhans di Pankreas dan tiap pulau berisi 100 sel Beta.

Jenis DM. DM dibagi dalam 2 tipe: DM Tipe 1: Pankreas tidak bisa produksi insulin karena sel Beta rusak (Insulitis), akibat reaksi Auto imun. Umumnya pada umur < 40 th (tetapi tidak selalu). DM Tipe 2: Insulin normal, tetapi jumlah reseptor kurang (misalnya Insulin adalah kunci pintu, maka lubang kunci pintu masuk sel adalah reseptornya), akibatnya gula hanya sebagian yang masuk sel, sehingga gula darah meningkat, keadaan ini disebut Resistansi Insulin. Keadaan berlanjut, Insulin diproduksi lebih banyak=Hiperinsulinisme. DM tipe 2 lebih sering timbul sesudah umur 40 th, 90 % penyandang DM adalah DM Tipe 2. Ada juga jenis ke 3 & 4: yaitu DM Tipe lain, dan DM Gestasional (Kehamilan)

Diagnosis DM. Keluhan khas DM: berkemih/BAK banyak, minum banyak, makan banyak, BB turun yang tidak diketahui sebabnya. Keluhan yang tidak khas: lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi, pruritus vulvae. Pemeriksaan gula darah (GD) adalah GD sewaktu: > 200 mg/dl, GD Puasa: > 126 mg/dl. Bila tidak ada keluhan DM, sebaiknya periksa ulang atau dengan TTGO = Tes Toleransi Glukosa Oral ‡ kadar > 200.

Komplikasi DM. DM menimbulkan kerusakan jangka panjang pada organ-organ sbb:

1. Ginjal: disebut Nefropati Diabetik yang dapat berakhir sebagai Gagal Ginjal.

2. Mata: Katarak, Retinopati, Glaukoma, berakhir dengan kebutaan.

3. Saraf ‡ Saraf tepi: kesemutan, rasa baal, dsb, Saraf dalam antara lain impoten.

4. Pembuluh darah: Sklerosis, bila pada otak dapat menjadi stroke, pada Jantung: Penyakit Jantung Koroner: serangan jantung, pada Kaki: Luka, Gangren / Jaringan mati / busuk.

5. Lain-lain: Dislipidemia: lemak darah: kolesterol/trigliserida tinggi. Mudah infeksi: TBC, Bisul, Infeksi Ginjal / Saluran kencing.

Kriteria Pengendalian DM. Pengobatan DM yang baik menghasilkan keadaan data-data pada tabel berikut, lihat pada kolom Baik. Perlu digarisbawahi bahwa data-data ini bukan hanya 1 – 2 kali pada awal pengobatan melainkan pada perjalanan selanjutnya, artinya perlu dipantau hal-hal tersebut secara periodik berkesinambungan.

Menghindari komplikasi DM. Bagaimana upaya menghindari komplikasi pada DM? Jalan yang terbaik adalah menjalani program pengobatan terpadu yang baik. Komplikasi atau Penyulit terjadi karena 2 faktor: 1. Faktor genetika /keturunan, umur & 2. Faktor metabolik – glukosa dan metabolit lain yang abnormal (kolesterol dsb). Faktor ad 1 tentu tidak dapat kita kendalikan. Faktor ad 2 yang harus dijaga dengan baik dalam jangka yang panjang melalui 4 Pilar pengobatan terpadu: perubahan gaya hidup antara lain: 1). Diet yang baik dan seimbang. 2). Kegiatan fisik yang cukup / Olahraga. Keduanya diharapkan menghasilkan berat badan Ideal. 3). Obat yang sesuai dan yang teratur. 4). Penyuluhan / Edukasi diabetes.

Hal-hal tsb agar didukung oleh pemantauan data (lih.Tabel 2) secara teratur dan terjaga pada kolom Baik.
Pemeriksaan pemantauan komplikasi. Pemeriksaan yang perlu untuk memantau timbulnya komplikasi antara lain: 1. Mata: periksa mata/fundus berkala setiap 6 – 12 bulan. 2. Paru: foto dada setiap 1 – 2 tahun atau kalau ada batuk kronis. 3. Jantung: periksa EKG berkala/ Treadmill exercise test setiap tahun, atau kalau ada nyeri dada. 4. Ginjal-Hipertensi: periksa protein urin, mikroalbuminuria (MAU). Bila ada hipertensi, dokter akan menggunakan terutama obat gol ACE Inhibitor atau ARB (Angiotensin Receptor Blocker). 5. Kaki: periksa kaki berkala untuk memantau komplikasi ke ginjal, pemeriksaan jantung, dsb.

Masalah Berat Badan. Khusus masalah Kegemukan / Obesitas, dapat digunakan alternatif 2 rumus sbb. :
1).BMI = Body Mass Index ( IMT = Indeks Massa tubuh ). Rumus = BB ( kg )/ TB (m2 ). Klasifikasi: BB Kurang = < 18,5, BB Normal = 18,5 – 22,9, BB lebih = > 23 ‡ Dengan risiko = 23 – 24,9, Obese I = 25 – 29,9, Obese II = > 30.
2).Rumus Broca: BB idaman / ideal = (TB – 100) – 10 %. Klasifikasi: BB Kurang = < 90 % BB idaman, BB Normal = 90 – 110 % BB idaman, BB Lebih = 110 – 120% BB idaman, Gemuk = > 120 % BB idaman.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro - Konsultan Ginjal-Hipertensi
RS Mediros

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Herpes Zoster, Penyakit Kulit yang Menyiksa

Tanya:

Dokter RS Mediros Yth, saya dua bulan lalu menderita penyakit kulit berupa kemerahan di punggung kiri, terdapat bintik-bintik kecil seperti cacar air terasa panas dan sangat sakit, badan juga demam. Saya berobat ke dokter umum dan dikatakan penyakit ini adalah Herpes Zoster. Saya diberi obat dan salep, sembuh sekitar 2-3 minggu. Dokter menanyakan apakah ada anggota keluarga atau teman yang menderita penyakit seperti ini, setelah saya ingat-ingat ada teman dekat saya di kantor yang menderita penyakit seperti ini di dada kanan, tetapi bentuknya ringan.

Dia menderita penyakit ini bulan sebelumnya. Sekarang saya masih merasakan agak nyeri di punggung kiri saya, padahal kemerahan sudah hilang. Pertanyaan saya, apa sebenarnya penyakit Herpes Zoster, apakah memang menular? Bila penyakitnya parah apa komplikasinya? Apakah nyeri di punggung kiri saya bisa sembuh? Apakah harus minum obat untuk nyeri ini? Terima kasih atas penjelasan dokter.

Ninuk, Ciracas

Jawab:

Kalau kita berbicara mengenai Herpes Zoster, kita tidak dapat juga menghindari sedikit pembicaraan tentang cacar air atau varisela. Kedua penyakit ini mempunyai nama berbeda, mempunyai kelainan kulit yang berbeda, namun mempunyai penyebab yang sama yaitu virus varisela-zoster.

Virus varisela-zoster (VVZ) masuk melalui mukosa saluran napas atas dan orofaring, berkembang biak serta disebarkan ke berbagai organ, terutama ke kulit dan lapisan mukosa. Bila virus tersebut masuk pertama kali ke tubuh, disebut infeksi primer dan manifestasi klinis pada kulit dan mukosa adalah cacar air (varisela).

Setelah infeksi primer tersebut selesai, virus tidak hilang tuntas dari tubuh melainkan masuk ke ujung saraf sensoris dan menuju ke ganglion saraf tepi ser