Amazon.com Widgets

November 28, 2007

AMD Mencari Celah di Prosesor Berinti Tiga

Meski prosesor dengan empat inti (quad core) telah dirilis, AMD akan mengais untung pada prosesor berinti tiga. Paling lambat mulai April 2008, AMD akan menyediakan prosesor berinti tiga dari platform yang sama dengan prosesor desktop berinti empat yang disebut Phenom.

"Ia akan pas di antara dual core dan quad core, namun bukan berarti di tengah-tengah," ujar Giuseppe Amato, direktur teknik untuk penjualan dan pemasaran AMD Eropa. Pihak AMD menyatakan, masih ada ceruk pasar untuk itu karena ketersediaan prosesor empat inti darinya baru mewakili 2 persen pasar prosesor komputer desktop dalam kuartal pertama 2007.

Bob Brewer, wakil presiden korporasi dan manajer umum divisi desktop AMD, mengatakan pihaknya yakin prosesor berinti tiga merupakan produk yang tepat di waktu yang tepat untuk melayani pasar saat ini. Meski demikian AMD belum bersedia membuka harga jualnya dibandingkan prosesor empat inti dan dua intinya.

Karena dengan platform yang sama, spesifikasi teknis tak beda dengan prosesor empat inti Phenom. Prosesor yang belum diberi nama memiliki 512 KB level 2 cache untuk setiap intinya dan 3 MB shared level 3 cache. Ia ditujukan untuk komputer desktop dan dapat bekerja dengan motherboard yang mendukung prosesor empat core AMD tanpa modifikasi.

Sumber : Tabloid PCPlus

Taiwan Kembangkan UMPC Wimax

Taiwan telah berhasil membuat sebuah PC mini yang sesuai dalam genggaman, biasa disebut sebagai ultramobile PC (UMPC), yang dilengkapi dengan mikroprosesor 1Ghz.

Produksi perangkat ini bertujuan untuk mengakomodir kebutuhan akses internet secara mobile yang didukung oleh implementasi jaringan Wimax. Wimax sendiri akan mulai beroperasi di Taiwan dalam waktu dekat seiring dengan implementasi di seluruh dunia. Perangkat ini memungkinkan pengguna mengakses internet, ataupun mendownload konten melalui jaringan Wimax. Bahkan beberapa negara berlomba untuk membuat perangkat yang mudah digenggam.

UMPC buatan Taiwan, yang disebut sebagai MTube, dipersenjatai dengan mikroprosesor 1Ghz yang dibuat oleh Via Technologies Inc., berbasis prosesor x86 yang biasa digunakan oleh PC. Bedanya MTube hanya memiliki berat 150 gram dengan layar seukuran 2.8 inci. Cukup kecil untuk dimasukkan ke dalam kantong. Perangkat ini dapat menyimpan lagu, foto dan data lainnya hingga kapasitas 8Gb. Sistem operasi MTube menggunakan Linux.

Dilansir melalui PC World, Sabtu (24/11/2007), menurut Shen Shu-heng dari Institut Industri Informasi Taiwan, instansi yang bertanggung jawab dalam produksinya, MTube dilengkapi dengan koneksi wireless Fidelity (wi-fi) namun tidak mampu berjalan di jaringan seluler 3G.(srn)

Sumber : Okezone

Permalink • Print • Comment
Google

APC Back-UPS RS 500 - UPS Line Interactive 500VA

Salah satu penyebab kehilangan data adalah putusnya aliran listrik ke PC secara tiba-tiba. Untuk mencegah hal seperti ini, salah satu cara yang bisa digunakan adalah menggunakan UPS (Uninterruptible Power Supply). UPS masa kini banyak jenisnya, salah satunya adalah Line Interactive. APC Back-UPS RS 500 salah satu UPS seperti ini. (cgs)

 
 
Kompak

APC Back-UPS RS 500 memiliki ukuran yang kompak, 165mm x 91mm x 284mm, dengan massa sebesar 5,89kg. Cukup mudah untuk menempatkannya tidak jauh dari PC.

Line Interactive
UPS ada beberapa jenis, APC Back-UPS RS 500 termasuk UPS tipe Line Interactive. Line Interactive memberikan keluaran berupa hasil inverter–pengubah arus bolak balik (AC) menjadi arus searah (DC)–setiap saat. Rancangan seperti ini bisa mengurangi penggunaan baterai dan biasanya menawarkan keluaran yang lebih stabil, khususnya dibandingkan dengan UPS jenis Standby. UPS Standby hanya akan menggunakan inverter bila memanfaatkan baterai.

500VA
Sesuai namanya, APC Back-UPS RS 500 memiliki keluaran sebesar 500VA dengan tegangan 230V. 500VA ini merupakan daya keseluruhan, sedangkan daya efektifnya sebesar 300W. UPS ini memang ditujukan untuk sebuah PC. Keluarannya bukanlah gelombang sinus murni. Tidak masalah untuk peruntukkannya, PC. Tidak ketinggalan, ia juga dilengkapi dengan surge protector.

PowerChute Personal Edition

APC Back-UPS RS 500 dilengkapi pula dengan sebuah port data yang bisa dihubungkan ke PC. Bila dihubungkan ke PC, ia bisa diatur menggunakan software yang diberikan, APC PowerChute Personal Edition, melalui PC. Beberapa hal yang dapat diatur seperti runtime yang dikehendaki sebelum UPS APC ini menghibernasi sistem.

Spesifikasi
Keluaran
Kapasitas Daya Keluaran: 300W/500VA
Daya Maksimal yang Bisa Dikonfigurasi: 300W/500VA
Tegangan Keluaran Nominal: 230V
Waveform Type: Stepped approximation to a sinewave
Koneksi Keluaran: 1 IEC 320 C13 (surge protection), 3 IEC 320 C13 (battery backup)

Masukan
Tegangan Masukan Nominal: 230V
Frekuensi Masukan: 50/60Hz ± 3Hz (auto sensing)
Koneksi Masukan: 1 IEC-320 C14
Range Tegangan Masukan untuk Main Operation: 168 - 280V
 
Baterai dan Runtime
Tipe Baterai: Maintenance-free sealed Lead-Acid battery with suspended electrolyte leakproof
Waktu Recharge Tipikal: 8jam
Replacement Battery Cartridge: RBC2
Jumlah Baterai: 1
Backup Time Tipikal pada Setengah Beban: 12,4menit (150W)
Backup Time Tipikal pada Beban Penuh: 5,8menit (300W)
 
Komunikasi dan Manajemen
Control Panel: LED status display with On Line, On Battery, Replace Battery and Overload indicators
Audible Alarm: Alarm when on battery : distinctive low battery alarm, overload continuous tone alarm 

Surge Protection dan Filtering
Surge Energy Rating: 300Joule
Proteksi Dataline: Proteksi RJ45 modem/fax (dua kabel satu jalur)

Fisik
Tinggi Maksimal: 165mm
Lebar Maksimal: 91mm
Kedalaman Maksimal: 284mm
Massa Bersih: 5,89kg
Warna: Beige

Environmental
Operating Environment: 0 - 40°C
Tingkat Kebisingan (1 meter dari permukaan): 45dBA

Sumber : Tabloid PCPlus

Permalink • Print • Comment
Google

November 3, 2007

Mengoptimalkan Fungsi iPod

Oleh Tim PCplus (redaksi[at]tabloidpcplus.com)

Pemutar musik idaman, iPod, sudah Anda miliki. Tapi bagaimana cara untuk mengoptimalkan fungsinya? Tahukah Anda kalau iPod tak hanya berfungsi sebagai alat pemutar musik? Gadget yang satu ini tergolong cerdas, makanya harganya tak murah.

iPod sebagai Harddisk Eksternal

Bukan hanya pemutar MP3 biasa yang bisa dijadikan harddisk portabel, iPod pun bisa jadi media penyimpan data. Untuk mengaktifkan fungsinya sebagai harddisk, terlebih dulu Anda harus menghubungkan iPod ke komputer—bisa yang berbasis Windows maupun Mac OS. Sebagai catatan, Anda juga harus sudah menginstal program iTunes dalam komputer.

Untuk menyulap iPod sebagai harddisk, Anda bisa menjalankan langkah-langkah berikut:

1. Colokkan iPod ke komputer, lalu bukalah iTunes.

2. Pada layar aplikasi iTunes, pilihlah ikon iPod yang ada di panel bagian kiri layar. Setelah itu, masuklah ke dalam tab [Summary].

3. Pada bagian [Options], pilihlah [Enable disk use].

4. Setelah itu, klik [Apply].
 
Sebagai informasi, ketika Anda menggunakan iPod sebagai harddisk, ikon iPod bakal tampil pada layar desktop. Itu terjadi jika Anda menggunakan komputer berbasis Mac. Pada komputer berbasis Windows, iPod akan dikenali sebagai drive baru. Untuk mengeceknya, Anda bisa membuka Windows Explorer.

Keterangan: Pada sistem berbasis Mac, ikon iPod yang aktif sebagai harddisk ditampilkan pada layar desktop begitu iPod dicolok ke komputer.

Jika Anda sudah mengaktifkan iPod sebagai harddisk, Anda bisa menggunakannya untuk menyimpan dan membaca file teks berformat .txt. Tentunya Anda harus terlebih dulu menyimpan file teks dalam folder Notes di iPod.

Mengamankan iPod

Jika Anda menggunakan iPod untuk menyimpan data, layaknya sebuah USB flash disk, tentu Anda ingin menjaganya dari tangan orang jahil. Tahukah Anda bahwa iPod bisa dikunci? Anda bisa melakukan penyetingan password berupa kombinasi empat angka. Tujuannya supaya tak ada sembarang orang membuka dan mengutak-atik iPod.

Fungsi Lock ini berbeda dengan fungsi Hold yang bisa diaktifkan dengan menggeser tombol Hold di bagian atas kepala iPod, yang digunakan untuk menghindari tombol-tombol iPod tertekan tanpa sengaja.

Untuk menyeting kombinasi angka kunci, Anda bisa mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1. Nyalakan iPod, lalu pilihlah opsi [Extras] > [Screen Lock] > [Set Combination].

2. Di layar akan muncul pesan yang meminta Anda untuk memasukkan empat kombinasi angka. Gunakan click wheel - istilah yang digunakan Apple untuk sistem navigasi iPod - untuk memilih angka yang pertama. Tombol bundar di tengah click wheel - namanya tombol Center - bisa Anda tekan untuk mengonfirmasi pilihan dan pindah ke posisi berikutnya.

3. Gunakan cara yang sama untuk mengisi angka kedua hingga keempat untuk melengkapi kombinasinya. Jika ingin, Anda juga bisa menggunakan tombol [Next/Fast Forward] untuk bergerak ke posisi angka berikutnya, dan menekan tombol [Previous/Rewind] untuk pindah ke posisi sebelumnya. Tekan tombol [Center] untuk mengonfirmasi keseluruhan kombinasi dan kembali ke layar semula.

4. Setelah kelar dengan penyetingan kombinasi kunci, Anda bisa mencoba mengunci iPod. Caranya dengan masuk ke dalam menu [Extras] > [Screen Lock] > [Turn Screen Lock On] > [Lock]. Sebagai informasi, jika Anda sudah melakukan seting kombinasi kunci untuk iPod, fitur Lock akan secara otomatis terpilih pada layar. Anda bisa menekan tombol [Center] untuk mengunci iPod.
 
Lalu, bagaimana cara meng-unlock iPod? Ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, masukkan kombinasi angka ke dalam iPod menggunakan click wheel untuk memilih angka-angkanya. Tekan tombol [Center] untuk melakukan konfirmasi. Jika Anda salah memasukkan kombinasinya, Anda bisa melihat nyala merah di layar iPod.

Cara kedua bisa dilakukan dengan menghubungkan iPod ke komputer. Saat Anda lupa kombinasi angka yang sudah dibuat, cara ini paling efektif untuk meng-unlock iPod.

Untuk mengubah kombinasi angka kunci iPod, Anda bisa menjalankan langkah-langkah berikut:

1. Pilih [Extras] > [Screen Lock] > [Change Combination].

2. Masukkan angka kombinasi lama yang ingin diganti di layar Enter Old Code.
Jika Anda memasukkan kombinasinya secara tepat, sebuah layar baru - layar Enter New Code - akan muncul. Di situ, masukkan kombinasi baru yang ingin digunakan.

Sumber : Kompas Tekno

Permalink • Print • Comment

October 23, 2007

Blu-Ray VS HD DVD - Pilih yang Mana?

Saat ini, ada dua format disk optikal baru yang saling adu popularitas. Sama-sama berniat menggeser posisi DVD, mereka adalah Blu-ray Disc dan HD DVD (High-Definition Digital Versatile Disc).

Blu-ray Disc (BD) dikembangkan oleh Blu-ray Disc Association yang beranggotakan nama-nama besar seperti Apple, Dell, Hitachi, HP, JVC, LG, Mitsubishi, Panasonic, Pioneer, Samsung, Philips, Sharp, Sony, TDK, dan Thomson. Sedangkan HD DVD “hanya” dibeking oleh Toshiba, NEC, Microsoft, dan Intel.

Berdasarkan hasil penjualan, Blu-ray dikabarkan lebih laris dibandingkan HD DVD. Tentunya ini ada hubungannya dengan banyaknya vendor yang mendukung format tersebut. Sony sendirian saja telah sukses menjual PS3—yang sekaligus bisa berfungsi sebagai pemutar BD—sebanyak 5,5 juta unit pada bulan Maret 2007 lalu.

Tapi kubu HD DVD tentunya tidak tinggal diam. Tahun depan, Toshiba memastikan bakal melengkapi semua laptop-nya dengan drive HD-DVD sebagai standar. Menurut IDC, tahun lalu vendor tersebut telah menjual sekitar 9,2 juta laptop dan diprediksi mampu menjual hingga 10 juta unit pada akhir 2008 atau awal 2009. Toshiba tidak bermain solo, karena Acer juga siap menawarkan beberapa laptop lengkap dengan HD DVD.

Tak hanya vendor, studio Hollywood juga ikut-ikutan mendukung kubu tertentu. Saat ini, Blu-ray secara eksklusif dibeking oleh Columbia Pictures dan MGM (keduanya milik Sony), Walt Disney, 20th Century Fox, dan Lionsgate. Sedang HD DVD mendapat dukungan penuh dari Universal Studios dan The Weinstein Company. Tapi ada juga studio yang netral, contohnya Paramount Pictures, DreamWorks, Warner Bros, dan New Line Cinema.

Jadi, siapa yang akan memenangkan pertempuran? Ah, perang baru dimulai. Lebih baik Anda simak dulu ulasan mengenai fitur dan keunggulan dari kedua format tersebut.

Blu-Ray: Mahal Tapi Muat Lebih Banyak

Blu-ray Disc dirancang untuk menyimpan data dalam jumlah besar. Urusan merekam, atau melakukan rewrite dan playback video HD (high definiton), tak jadi masalah buatnya.

Kapasitas penyimpanannya bisa 5 hingga 6 kali lebih besar ketimbang kapasitas keping DVD tradisional. Jika satu keping DVD single layer mampu memuat data sebanyak 4,7GB, maka BD bisa menampung data hingga 25GB. Jika satu keping DVD dual layer sanggup menyimpan data sebesar 8,5GB, maka BD bisa menyimpan data hingga 50GB. Malahan, keping Blu-ray juga mendukung multi-layer disc dengan total kapasitas 100GB-200GB. Sebagai gambaran, dengan kapasitas 50GB, BD bisa memuat lebih dari 9 jam video HD, atau setara dengan 23 jam video standard definition.

Daya simpan keping Blu-ray bisa sedemikian besar karena ia mengusung teknologi yang beda dengan DVD. Sesuai namanya, BD memanfaatkan laser biru-violet untuk membaca dan menulis data, sedang DVD—idem untuk DVD±R, DVD±RW, dan DVD-RAM—memanfaatkan laser merah.

Sebagai informasi, laser biru-violet memiliki panjang gelombang yang lebih pendek (405nm) dibandingkan laser merah (650nm). Dengan begitu, ia bisa menyorot objek dengan presisi lebih tinggi. Hasilnya, data bisa diikat dengan lebih ketat dan disimpan di ruang yang lebih kecil. Inilah yang membuat BD mampu menyimpan lebih banyak data meskipun ukuran disknya sama dengan CD atau DVD.

Jika Anda mau tahu, BD juga memiliki lapisan permukaan yang lebih tipis—hanya 0,1mm—dibandingkan HD-DVD yang tebalnya 0,6mm. Dengan begitu, laser bisa menembakkan data dengan lebih fokus. Meski begitu, faktor ketipisan ini mahal harganya, dan proses hard coating khusus juga dibutuhkan supaya permukaan keping menjadi tahan banting. Tujuannya untuk melindungi data dari kerusakan akibat goresan atau sidik jari.

Untuk read atau write, kecepatan minimal Blu-ray adalah 1x atau sekitar 36Mbps—jauh dari DVD yang kecepatannya hanya 10Mbps. Rencananya, kecepatan tersebut masih akan digeber hingga 8x atau 288Mbps.

Yang menyenangkan dari Blu-ray adalah kompatibilitasnya dengan format pendahulunya. Produk drive BD besutan Samsung yang pertama misalnya, bisa membaca format CD, DVD, sekaligus Blu-ray. Tapi ingat, adalah Sony yang kali pertama memroduksi drive BD pertama di dunia, tahun 2002.

Ditilik dari harganya, BD memang lebih mahal ketimbang HD DVD. Player Blu-ray yang dirilis Samsung bulan Januari lalu misalnya, serinya BD-P1200, dibandrol harga 799USD. Produk sejenis dari Sony, BDP-S300, yang digelontor pada bulan Februari dihargai sedikit lebih murah, 499USD.

HD DVD: Kapasitas Lebih Kecil Tapi Murah

HD DVD biasa disebut juga AOD (Advanced Optical Disc). Sebenarnya format ini sudah ada sebelum DVD yang dikenal sekarang ini hadir, tapi pengembangannya baru benar-benar dimulai pada tahun 2003.

Kelebihan dari keping HD DVD adalah format dasarnya yang idem dengan DVD tradisional. Ini membuatnya lebih murah ketimbang BD. Bedanya, kapasitas HD DVD jauh lebih besar, kira-kira 3 kali DVD biasa atau 15GB per layer. Jadi HD DVD single-layer bisa memuat 15GB data, sedang yang dual-layer bisa memuat hingga 30GB.

Kapasitas simpan HD DVD memang tidak sebesar Blu-ray, dan kapabilitasnya dikabarkan tidak seinteraktif Blu-ray. Tapi kekurangannya itu juga jadi kelebihannya, karena membuat harga bandrolnya lebih terjangkau.

Pada Maret 2006, pemutar HD DVD pertama dirilis di Jepang oleh Toshiba. Harganya dipatok 934USD. Sama dengan Blu-ray, ia juga bisa dipakai untuk memutar format DVD atau CD. Jika dibandingkan dengan format standard definition, tampilan high definiton 5 kali lebih detil, tampak luar biasa tajam dengan warna-warna terang menyala.

Apakah dua format canggih ini akan terus bersaing? Tentu tidak, karena beberapa vendor telah menggelontor player yang bisa memutar baik format BD maupun HD DVD. Contohnya adalah perangkat dari LG, seri BH100, yang dirilis bulan Januari lalu, dan universal combo player BD-UP5000 besutan Samsung yang dirilis pada April 2007. Dua produk itu menawarkan solusi yang cukup efektif bagi pengguna yang enggan memilih atau ingin menikmati kecanggihan dua teknologi yang berbeda dalam satu perangkat saja.

Sumber : PCplus

Permalink • Print • Comment

November 1, 2007

Fuel Cell - Siap Geser Baterai Lithium di Notebook?

Sejak beberapa tahun lalu, para vendor sudah menemukan pengganti baterai Lithium-ion (Li-ion) dan Lithium-polimer (Li-po) yang hingga saat ini masih menjadi tenaga penggerak andalan di notebook serta sebagian besar gadget elektronik lainnya. Namanya fuel cell.

Dibandingkan perangkat lain yang disematkan di komputer, baterai termasuk salah satu yang perkembangannya sangat lamban. Saking leletnya, inovasi produk yang satu ini bisa dibilang jalan di tempat, beda sekali dengan harddisk atau flash drive yang generasi terbarunya kerap muncul.

Apakah teknologi baterai terlalu sulit sehingga inovasinya terhambat? Tidak juga. Perlu Anda ketahui, para vendor sudah lumayan lama menemukan fuel cell yang dikenal sebagai teknologi pengganti baterai.

10 Kali Lebih Awet dari Baterai Litium

Ayo kita mundur ke tahun 2002. Saat itu, vendor-vendor seperti Casio Computer, Toshiba, Hitachi, Motorola, dan MTI telah memperkenalkan fuel cell berbahan utama metanol sebagai kandidat kuat pengganti Litium. Selain ideal digunakan di produk mobile seperti laptop dan ponsel, fuel cell juga dianggap irit konsumsi daya—mampu menambah waktu pakai gadget hingga 10 kali lebih lama.

Pada bulan September 2005, LG sangat optimis dengan fuel cell portabel bikinannya sampai mengeluarkan pernyataan bahwa merekalah yang bakal menjadi perusahaan pertama yang mengomersilkan baterai tersebut untuk notebook. Prototipe fuel cell yang dibuat LG memiliki bobot di bawah 1Kg dan disinyalir mampu menghasilkan daya hingga 25Watt, atau lebih dari 10 jam waktu pakai. Saat itu, LG memrediksi pasar global untuk fuel cell bisa mencapai 600 milyar USD pada tahun 2006, dan akan terus naik menjadi 1,9 milyar USD pada tahun 2010. Namun, hingga tahun 2006, fuel cell belum juga komersil.

Sekitar bulan Maret 2006, vendor asal Taiwan bernama Antig menyatakan baterai notebook berbasis fuel cell besutan mereka akan hadir di toko-toko komputer pada awal tahun 2007. Tadinya, Antig memilih awal Januari 2007 sebagai waktu yang tepat untuk memulai penjualan produknya lantaran lembaga regulasi International Civil Aviation Organization (ICAO), yang sebelumnya secara khusus melarang penumpang membawa cairan seperti metanol dalam pesawat, berencana akan menghapus aturan tersebut pada bulan Januari 2007. Kenyataannya, aturan tersebut tak juga dicabut, justru malah diperketat.

Diprediksi Komersil 2-3 Tahun Lagi

Memasuki pertengahan tahun 2007, fuel cell belum juga siap dilempar ke pasaran. Berita terbaru mengenai perkembangannya datang pada tanggal 13 Agustus 2007 lalu. Samsung telah menyempurnakan teknologi Direct Methanol Fuel Cell (DMFC) miliknya yang sempat dipamerkan ke publik pada akhir Desember 2006. Ukurannya diperkecil hingga berdimensi 150mm x 50mm x 50mm. Total kapasitas energinya sekitar 1200W dengan output energi 20W.

Kelebihan utama dari DMFC adalah kemampuannya mengoperasikan notebook ultra portabel seri Q30, Q35, dan Q40 besutan Samsung hingga delapan jam sehari selama satu bulan. Kabarnya, vendor asal Korea Selatan tersebut bakal merilis temuannya ini paling lambat tahun 2008 nanti. Meski begitu, para analis meramalkan paling cepat 2-3 tahun lagi fuel cell baru benar-benar bisa komersil.

Anda boleh gemas dengan leletnya proses adaptasi industri TI dari baterai Litium ke fuel cell. Tapi seperti inilah kira-kira kondisi ketika Litium mulai menggeser posisi baterai Nikel (NiMH dan Ni-Cd2). Meskipun sudah jelas terbukti bahwa performa Litium jauh lebih baik dibandingkan Nikel, tetap saja butuh waktu cukup lama bagi para vendor untuk mengaplikasikannya ke dalam produk-produk mereka.

Proses adaptasi, khususnya untuk mengganti sesuatu yang secara massal telah digunakan di sebagian besar produk elektronik dalam jangka waktu yang lama (contohnya baterai Lithium yang sudah dipakai selama hampir 16 tahun), memang tak mudah. Selain diganjal harga bahan baku yang masih mahal, butuh edukasi yang intensif kepada para konsumen yang masih awam dengan teknologi fuel cell karena mereka mesti membiasakan diri tak lagi mencolok gadget ke listrik, tapi mengisi ulang baterai dengan metanol cadangan.

Sedikit tentang Fuel Cell

Fuel cell diciptakan pertama kali oleh Sir William Grove pada tahun 1839. Grove menemukan bahwa ternyata air bisa terurai menjadi hidrogen dan oksigen ketika diberi arus listrik. Proses ini kemudian dinamakan elektrolisis. Ia lalu berhipotesis bahwa jika proses tersebut dibalik untuk menghasilkan listrik dan air. Lima puluh tahun kemudian, Ludwig Mond dan Charles Langer memopulerkan istilah “fuel cell” ketika sedang membuat model praktis untuk menghasilkan listrik.

Fuel cell pada dasarnya adalah alat konversi energi elektrokimia. Ia mampu mengubah senyawa hidrogen dan oksigen menjadi air, dan dalam prosesnya menghasilkan listrik. Beda dengan baterai yang mengubah semua senyawa kimia di dalam tubuhnya menjadi listrik dan kemudian habis sehingga harus dibuang atau mesti diisi ulang memakai catuan daya, senyawa kimia di fuel cell terus mengalir di dalam selnya secara konstan sehingga tidak pernah mati.

Ada banyak jenis baterai fuel cell, namun yang paling banyak dipilih vendor sebagai kandidat kuat pengganti baterai Lithium adalah DMFC (Direct-methanol FC). DMFC sebenarnya telah dikembangkan sejak awal tahun 90-an. Prinsipnya kira-kira begini: larutan metanol ditambahkan ke sisi anoda baterai (fuel side) dan akan terurai menjadi proton dan elektron serta karbondioksida. Elektron akan dibawa keluar fuel cell dalam bentuk arus listrik yang kemudian dipakai untuk menjalankan notebook selama kira-kira 8 jam. Arus tersebut lalu mengalir kembali ke katoda fuel cell (air side). Nah, proton dan elektron di katoda kemudian bereaksi dengan udara untuk membentuk air, yang selanjutnya dibuang dari sistem.

Sumber : PCPlus

Permalink • Print • Comment

December 6, 2007

Gingbar GP300 Hadirkan Multimedia di Kacamata

Pernah membayangkan beraksi bak mata-mata kelas dunia dengan memakai kacamata yang sekaligus berfungsi sebagai layar monitor? Tak perlu berkhayal lagi, miliki saja produk besutan YelloMosquito berikut ini.

Disebut-sebut sebagai kacamata video nirkabel pertama di dunia dengan media player terintegrasi dan dukungan DivX, Qingbar GP300 memungkinkan Anda melakukan berbagai aktivitas yang tidak lazim dilakukan di kacamata seperti menonton film, melihat-lihat foto, membaca e-book, hingga memutar musik dan game.(Downrigging for Stripers)

Kok bisa? Karena ia dilengkapi dengan display mikro LCOS WQVGA (432 x 240 piksel) yang mampu mensimulasikan pengalaman melihat layar berukuran 50 inci dari jarak 2 meter. Caranya, simpan konten-konten yang Anda ingin nikmati di kartu miniSD, lalu colokkan kartu memori tersebut di slot yang telah disediakan. Mengadopsi baterai Litium 750 mAh yang bisa diisi ulang, Anda tak perlu kuatir kehabisan daya saat sedang asyik menonton. Mau pakai remote control via inframerah atau berkoneksi lewat USB, juga bisa. Untungnya, meski canggih begini, bobotnya ringan saja yakni 100 gram.

Tertarik? Kacamata canggih ini dibandrol 399USD, tapi harga pre-ordernya pada saat ia dirilis pada awal Desember lebih murah yakni 299USD "saja".

Sumber : TabloidPcplus

Permalink • Print • Comment