August 29, 2008
Mengerem konsumerisme pada Bulan Puasa
Mahasiswa program doktoral Ekonomi, Oklahoma State University, AS dan Dosen FE Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
Bulan puasa tinggal hitungan hari lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, maka mendekati bulan puasa ini harga-harga kebutuhan pokok perlahan tetapi pasti terus mengalami kenaikan di berbagai wilayah Indonesia. Kenaikan harga juga sudah mulai terasa dari berbagai komoditas mulai dari bahan pangan, sandang maupun kebutuhan tersier lainnya di berbagai wilayah Indonesia.
Bulan puasa memang mempunyai karakteristik sendiri bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Puasa adalah kewajiban yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai derajat takwa yang lebih tinggi.? Dalam konteks ekonomi rumah tangga, bulan puasa merupakan bulan di mana pengeluaran rumah tangga masyarakat Indonesia mengalami kenaikan cukup drastis. Dalam konteks ekonomi makro Indonesia, setiap bulan puasa akan ditandai dengan dorongan terhadap inflasi karena adanya tekanan dari sisi permintaan (demand pull inflation).
Walaupun secara ekonomi pola makan masyarakat berkurang dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari yaitu saat berbuka puasa dan saat sahur, pengeluaran rumah tangga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang lain.
Dengan berpuasa maka kita perlu energi yang kuat agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk sehingga, sebagian besar masyarakat akan mengonsumsi barang-barang dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan bulan yang lain.
Hal itu belum diimbangi dengan pernak-pernik makanan ringan lainnya. Misalnya, sebagian orang akan membeli kurma pada saat berbuka puasa. Kurma merupakan makanan pembuka yang biasa dimakan oleh Nabi Muhammad SAW ketika menjalankan puasa. Padahal, pembelian kurma atau makanan khas lainnya pada bulan puasa jarang dilakukan pada bulan-bulan lainnya.
Kenaikan permintaan barang mencapai puncaknya menjelang Hari Raya Idulfitri. Pertama, dari perspektif ekonomi, Hari Raya Idulfitri sebagai hari kemenangan bagi umat muslim dimaknai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dengan merayakan hari tersebut dengan menyediakan berbagai jenis makanan dan minuman.
Kedua dari perspektif budaya Indonesia, Idulfitri juga dimaknai sebagai hari untuk menunjukkan status sosial sebuah keluarga. Apalagi sebagian besar masyarakat punya pandangan bahwa Hari Raya Idulfitri semuanya harus baru. Mulai dari baju baru, handphone baru, motor baru, mobil baru atau rumah baru. Kita bisa lihat, menjelang seminggu lebaran berbagai jenis toko akan penuh dijejali orang.
Ketiga, Hari Raya Lebaran juga dimaknai dengan berkumpulnya seluruh keluarga. Akibatnya harga tiket transportasi darat, udara maupun laut melambung tinggi mulai dari harga tiket bus, kereta api, pesawat dan kapal laut. Kemacetan lalu lintas akhirnya tidak bisa dihindari.
Oleh sebab itu, permintaan masyarakat, terutama barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan cukup signifikan pada bulan puasa. Di sisi lain, bulan puasa merupakan kesempatan emas bagi penjual (produsen) untuk meraup keuntungan dengan cara menaikkan harga barangnya. Akibatnya, kenaikan harga barang-barang pada bulan puasa tidak bisa dielakkan.
Kenaikan harga pada bulan puasa ini memang tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah agar kenaikan harga barang kebutuhan pokok tidak memberatkan masyarakat. Harus ada batas toleransi kenaikan harga. Dengan demikian, pemerintah harus mengamankan barang-barang kebutuhan pokok utama masyarakat seperti beras, gula, minyak tanah dan minyak goreng.
Tentu akan lebih baik jika pemerintah melakukan koordinasi dengan para produsen maupun pihak-pihak yang terkait untuk bisa mengamankan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Kalau persediaan domestik terbatas, segera dilakukan kebijakan impor yang mudah.
Operasi pasar
Selain itu, pemerintah tetap harus melakukan operasi pasar walaupun stok keempat komoditas tersebut cukup tersedia selama bulan puasa agar tidak terjadi gejolak di pasar. Pasalnya, bulan puasa adalah momentum bagi penjual menaikkan harga barang. Walaupun stok barang ada harga akan tetap naik, apalagi jika stok barang terbatas. Harga pasti akan melambung tinggi.
Bulan puasa ini juga akan menjadikan test case bagi kemampuan pemerintah di dalam menstabilkan harga barang-barang kebutuhan pokok. Hal ini diperlukan karena dalam tahun 2008 tepatnya bulan juni lalu pemerintah telah menaikkan harga BBM. Kenaikan harga BBM telah mendongkrak harga-harga kebutuhan pokok masyarakat. Akibatnya tingkat inflasi telah mengalami kenaikan cukup signifikan sebesar 2.46% pada Juni lalu dari bulan sebelumnya sebesar 1.41%.
Oleh sebab itu, pemerintah harus membuat batas maksimal kenaikan harga pada bulan puasa tahun ini. Hal ini bertujuan mengamankan tingkat inflasi tahunan di mana inflasi tahun 2008 supaya tidak lebih dari 10%. Karena sampai bulan Juli lalu tingkat inflasi sudah mencapai 8,85%.
Selain itu, dari sisi masyarakat terutama masyarakat muslim yang menjadi mayoritas penduduk di Indonesia juga turut membantu pemerintah dalam mengendalikan tingkat inflasi. Tidak benar masalah pengendalian inflasi diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Karena inflasi selama bulan puasa berakar dari tradisi kita yang boleh dikatakan jor-joran dalam hal pengeluaran, bahkan dalam? kasus-kasus tertentu uang tersebut berasal dari utang atau pinjam dari pihak lain.
Caranya cukup sederhana. Sebagai seorang muslim maka sebaiknya kita bisa mengerem pengeluaran kita selama bulan puasa dan saat lebaran sebagaimana diperintahkan dalam surat Al Furqon Ayat 67 (S 25:67). "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan [harta], mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak [pula] kikir, dan adalah [pembelanjaan itu] di tengah-tengah antara yang demikian".
Berbuka puasa ataupun makan sahur tidak harus ditandai dengan makan makanan yang enak. Akan tetapi, tunjukkan perasaan keprihatinan karena puasa itu sendiri adalah menahan nafsu makan. Selain itu, kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh tidak harus dimaknai dengan perayaan yang berlebih-lebihan.
Alhasil, paling tidak selama bulan puasa ini pemerintah bisa menjaga tingkat inflasi seperti bulan puasa tahun lalu (September) sebesar 0,8%, bahkan kalau bisa lebih rendah. [Bisnis Indonesia]
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!









