October 12, 2008
Alarm Bencana Keuangan
Pengajar pada Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang, alumnus Universite Pierre Mendes France, Grenoble, Prancis
Derap gejolak pasar keuangan global, rupanya, telah benar-benar menyapa kita, kondisi bursa yang lesu darah beberapa waktu terakhir. Semakin sempurna demam yang melanda bursa dengan penghentian perdagangan pada sesi awal pada Rabu (8/10/2008).
Krisis keuangan dunia, rupanya, telah memakan korban. Dan, berbagai jurus yang telah disiapkan pemerintah dalam menghadapi petaka ekonomi tersebut terasa bisu menghadapi ujian awal rontoknya indeks harga saham.
Karena itu, otoritas bursa mengeluarkan jurus langka yang belum pernah diterbitkan. Yakni, menghentikan kegiatan pasar modal hingga waktu yang tidak ditentukan.
Tentu saja tindakan itu dapat diilustrasikan sebagai alarm bencana melanda gelanggang saham kita. Bila hal tersebut dimaksudkan sebagai ramuan memulihkan kepanikan pasar, tentu tujuan itu akan tergelincir. Penghentian perdagaangan justru akan semakin mengobarkan kepanikan.
Bila kita lacak pada awal tahun tikus ini, IHSG masih mengalun cukup merdu pada level 2.700-an. Tapi, pada penutupan mendadak sesi pertama perdagangan Rabu lalu, indeks roboh hingga melorot ke titik 1.451,669, tersungkur 168,052 poin atau 10,38 persen. Level indeks itu merupakan yang terendah sejak September 2006. Secara akumulasi, dalam tiga hari pada pekan ini, indeks turun di atas 20 persen.
Pasar modal adalah salah satu potret kondisi perekonomian. Dari sketsa kondisi pasar modal saat ini mengisyaratkan bahwa iklim perekonomian mulai tertekan. Bila pada semester I kemarin masih sanggup tumbuh 6,2 persen, memasuki kuartal III ini pencapain itu akan terasa semakin terjal.
Memang, banyak kalangan yang mengilustrasikan kondisi pasar modal dan kondisi sektor riil seperti bumi dengan langit. Tidak ada pararel antara kondisi lantai bursa dan fundamental ekonomi, ketika lantai bursa pesta pora tidak menular kepada kondisi ekonomi mikro.
Bayangkan begitu gemerlapnya perdagangan di lantai bursa yang nilai transaksi per hari mencapai Rp 5,7 triliun. Angka tersebut terus membiak dari tahun ke tahun. Hal itu terlihat pada akhir 2007 yang meningkat 138,88 persen dibandingkan dengan pada 2006, dari Rp 1,8 triliun menjadi Rp 4,3 triliun.
Terlepas dari itu semua, sektor finansial itu adalah salah satu warna pada kanvas perekonomian kita. Jadi, gejolak yang terjadi di sana dapat menjadi indikator kondisi makro.
Selain itu, penurunan kinerja sektor finansial tersebut secara mencolok jelas memengaruhi ekspektasi investor tentang apa yang terjadi ke depan. Arus investasi asing, baik yang langsung maupun portofolio, masih cukup kuat mengandalkan diagnosis pada pasar saham.
Bugar atau lesunya bursa menjadi jimat bagi investor untuk membenamkan modal mereka.
Partisipasi asing pun dalam pasar modal meningkat, selama periode 2005-2007 proporsi asing terus mengelembung. Begitu juga kepemilikan asing pada SBI dan SUN meningkat pada periode yang sama.
Misalnya, pada 2005, SBI yang dimiliki asing masih 11 persen, meningkat pada 2006 menjadi 18,07 persen. Bahkan, pada 2007, melonjak menjadi 45 persen. Kemudian, pada lapak perdagangan SUN, investor asing dari tahun ke tahun juga semakin kesengsem. Bila pada 2005 kepemilikannya hanya 31,06 persen dari total SUN yang diterbitkan negara, pada tahun berikutnya jumlahnya meningkat menjadi 54,92 persen dan malah melejit pada 2007 menjadi 77,00 persen.
Kondisi itu tentu dapat menjadi magnet bagi para investor asing yang akan membuka usaha di Indonesia. Di tengah terpuruknya peringkat Indonesia sebagai tujuan investasi. Thailand, Filiphina, dan Vietnam adalah bayang-bayang pudarnya daya tarik kita terhadap para penanam modal asing.
Lihatlah data yang dihidangkan Jetro (Japan External Trade Organization), hingga 1997 daya tarik investasi di Indonesia masih cukup memikat. Terbukti pada tahun itu Indonesia menduduki ranking ketiga di bawah Tiongkok dan USA sebagai negara tujuan investasi.
Pada 2000, 2001, dan 2002 posisi Indonesia turun dan bertahan di ranking keempat. Kemudian, terus turun ke rangking ketujuh, delapan, dan sembilan. Pada 2004, 2005, dan 2006, posisi kita telah digeser negara India,Vietnam, dan Thailand.
Jadi, meskipun tidak ada kausa prima antara sektor finasial di pasar bursa dan sektor riil, tampaknya keduanya mempunyai hubungan yang berbading lurus, moncernya makro akan turut menghiasi gemerlapnya lantai bursa.
Tentu menjadi tantangan bagi pemerintah dengan berbagai aturan serta kebijakan untuk mengolah berbagai investasi jangka pendek itu untuk terus mengalir masuk dan dengan berbagai daya tarik serta insentif agar menjadi investasi jangka panjang.
Buyback Upaya Mujarab
Karena itu, langkah pemerintah untuk menyelamatkan bursa dengan meminta BUMN yang telah go public melakukan buyback adalah upaya mujarap untuk menjaga harga saham.
Apapun keputusan yang diambil, kita berharap agar suspensi itu bisa menghentikan koreksi yang makin tajam. Apalagi, langkah serupa juga dilakukan sejumlah bursa di negara lain, seperti Rusia, Rumania, dan Ukraina
Jadi, yang pasti, dengan menyelamatkan kondisi bursa kita, beberapa manfat dapat kita reguk, kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian kita tecermin di sini. Selain itu, harapan besar ke depan kita kibarkan bahwa perkembangan bursa sebagai salah satu sumber pembiayaan perekonomian. [Jawa Pos]
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!









