May 23, 2008
Hantu Inflasi setelah Harga BBM Naik
PEREKONOMIAN Indonesia kini diimpit dua masalah besar yang berpotensi menjadi "hantu" bagi masyarakat, yaitu: (1) dinaikkannya harga BBM karena tekanan berat fiskal di mana harga minyak dunia sudah menembus US$ 120 per barel, padahal asumsi APBN-P 2008 sudah direvisi pada angka US$ 95 per barel, dan (2) inflasi yang cukup tinggi, di mana year on year Maret 2008 telah mencapai 8,17 persen.
Mencermati kondisi yang superberat tersebut, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah pemerintah "berani" menaikkan harga BBM? Berapa besarannya yang bisa ditoleransi dan tidak menimbulkan keresahan politik di masyarakat?
Kenaikan BBM
Dengan harga minyak dunia yang terus melonjak di atas US$ 120 per barel, maka subsidi bagi BBM akan mencapai minimal Rp 200 triliun. Ini merupakan angka yang teramat fantastis ditinjau dari besarannya karena volume APBN-P 2008 saja sebesar Rp 978 triliun. Artinya, pos subsidi BBM akan menelan lebih dari 20 persen APBN. Ditinjau dari teori ekonomi mana pun, hal itu jelas tidak sehat.
Karena itu, muncul wacana untuk menaikkan harga BBM dalam negeri. Dari analisis ekonomi, kenaikan harga BBM adalah sesuatu yang masih masuk akal. Meski resistensinya datang dari banyak elemen lapisan masyarakat yang makin hari makin ramai dengan demo menolak kenaikan BBM.
Kalkulasinya, harga BBM domestik Rp 4.500 per liter sudah terlalu kecil jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang harga BBM-nya sudah rata-rata ekuivalen Rp 11.000 per liter atau bahkan lebih. Akibatnya, subsidi BBM dalam negeri membengkak terlalu tinggi.
Tampaknya, pemerintah memilih pilihan paling pahit, yaitu menaikkan harga BBM, meski logika politik masih berat menaikkan harga BBM setahun menjelang Pemilu 2009. Namun, palu pilihan harus tetap diketok setelah mencermati betapa liarnya harga minyak dunia yang selalu nangkring di atas US$ 120 per barel.
Sebagai langkah paling safety dari logika politik dan kalkulasi ekonomi, menurut saya, kenaikan BBM saat ini haruslah menimbang besaran yang widely accepted, misalnya, Rp 1.000 atau Rp 1.250 per liter.
Sekarang yang menjadi teka-teki adalah kapan kenaikan harga BBM paling ideal? Mencermati teori musim sebagai patokan konsumsi energi dunia, menurut saya, posisi awal Juni ini merupakan timing paling ideal. Karena pada saat itu, belahan bumi utara sedang memasuki musim panas. Sehingga konsumsi energi semakin berkurang. Konsumsi energi dunia bisa turun dari level 85 juta barel sehari (saat winter) menjadi 75 juta barel sehari (saat summer).
Jika saat summer harga minyak dunia belum turun juga, kita harus mulai realistis, bahwa faktor penentu harga minyak dunia memang bukan lagi faktor objektif supply dan demand. Faktor lain yang harus kita perhitungkan adalah perang dan spekulasi. Sejauh ini minyak menjadi ajang spekulasi yang menjanjikan banyak keuntungan, apalagi setelah subprime mortgage bermasalah. Spekulasi minyak lebih aman dan prospektif, tapi akibatnya menyengsarakan seluruh dunia.
Critical Point Inflasi
Kenapa faktor inflasi perlu diperhatikan? Sebab, lonjakan inflasi sangat berbahaya bagi perekonomian kita karena menurunkan nilai uang yang dipegang masyarakat. Dampaknya, kualitas hidup masyarakat akan merosot akibat turunnya daya beli.
Critical point terhadap angka inflasi perlu dilakukan agar kita bisa memetik pelajaran terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Laju inflasi selama Maret 2008 mencapai 0,95%, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Maret 2008) mencapai 3,41%, dan inflasi year on year sebesar 8,17%.
Tingginya inflasi Maret itu di luar dugaan banyak pihak karena sebelumnya BPS mencatat tingkat inflasi pada Februari 2008 sebesar 0,65%, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Februari 2008) sebesar 2,44%, dan tingkat inflasi tahunan (year on year) atau Februari 2008 terhadap Februari 2007 sebesar 7,40%.
Kenaikan inflasi pada Maret 2008 itu dipicu kenaikan harga komoditas pangan, yaitu: minyak goreng, cabe merah, ikan segar, dan daging ayam. Komoditas pangan tersebut merupakan jenis komoditas yang harganya uncontrolled (tidak dikontrol pemerintah).
Inflasi year on year juga memecahkan rekor sejak 2006, yakni nangkring di level 8,17 persen. Padahal, pada delapan bulan tersisa tahun 2008, masih akan ada ancaman seasonal inflation, seperti liburan sekolah dan awal tahun ajaran baru (Juli), bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri (September dan Oktober), serta Natal dan Tahun Baru (Desember). Karena itu, target inflasi pemerintah 6,5 persen pada akhir 2008, tampaknya, teramat sulit direalisasikan. Analisis paling adjsted bahkan memperkirakan angka yang lebih tinggi, misalnya 8 persen atau bahkan double digit.
Untung, di tengah ancaman inflasi dan kenaikan BBM yang sudah di depan mata, Bank Indonesia segera melakukan pengetatan likuiditas melalui kenaikan BI rate dari 8% menjadi 8,25%. Argumentasinya, kenaikan suku bunga akan efektif meredam inflasi. Karena jika BI sampai terlambat menaikkan suku bunga, investor asing akan melakukan pull out (memindahkan investasinya ke luar negeri).
Jika kenaikan harga BBM jadi diberlakukan dan inflasi tetap tinggi, hantu sesungguhnya akan dirasakan masyarakat dengan meroketnya harga-harga kebutuhan pokok. Tapi, satu yang cukup melegakan bahwa kenaikan BI rate 25 basis poin menjadi 8,25% merupakan obat mujarab untuk merangsang berputarnya sektor riil, meski itu butuh waktu.
Didik Siswantono, manajer Divisi Usaha Kecil PT BNI (Persero) Tbk (email: didik.siswantono@mail.bni.co.id)
(Jawa Pos dotcom)
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!









