July 11, 2008
Wajah Petaka Pemiskinan
Saya teringat buku Jean Ziegler, Les Nouveaux Maitres du Monde (2002), yang bercerita tentang dampak pemiskinan. Konon, setiap 5 detik, ada satu balita yang mati kelaparan. Pemiskinan terkait dengan masalah struktural dan perilaku.
Ziegler bercerita tentang para pejabat tinggi di beberapa negara Skandinavia yang berjalan kaki, naik sepeda, atau menggunakan kendaraan umum ke kantor. Rumah para pemimpin terkenal Eropa, seperti Olof Palmes (Swedia) dan Bruno Kresky (Austria), pun terbilang sederhana dan ditempati sepanjang paro terakhir hidup mereka.
Jelas, jauh berbeda dengan "istana" kebanyakan pemimpin negara berkembang, termasuk Indonesia. Parkiran gedung parlemen negeri ini pun, misalnya, sering disindir bagai showroom mobil mewah. Ziegler menarik kesimpulan, semakin miskin sebuah bangsa, sering semakin mewah kehidupan dan "perilaku aneh" segelintir elite penguasanya.
Pemerataan
Tampaknya, ketika "kebebasan" politik merebak secara global, padanannya "kesetaraan" dan "persaudaraan" nyaris dilupakan. Welfare state yang mewajibkan negara memberikan perlindungan bagi warganya yang miskin dianggap "jalan sesat" sosial demokrasi. Bagi pendukung (ekonomi-politik) neoliberal, pemerataan bukan alat ampuh melawan kemiskinan. Bahkan, sebaliknya, dianggap memperparah keadaan.
Semua itu dilandasi argumentasi yang sekilas terkesan plausible. Pertama, pemerataan akan mengurangi kuota investasi. Setiap rupiah yang konon diinvestasikan kaum kaya secara produktif sebaliknya hanya akan "dikonsumsi" kaum papa.
Kedua, sebagian besar bantuan tidak akan sampai sasaran karena dikorup birokrasi. Ketiga, yang menjadi asumsi Bank Dunia, pemerataan akan membahayakan stabilitas politik dan bisa bermuara pada konflik kekerasan karena membuat marah "elite" (World Bank Report, Attacking Poverty, 2000:56f).
Namun, bagi Erhard Berner (2005), semua itu secara teoretis rapuh, secara empiris salah, dan bila dipraktikkan menjadi sesuatu yang sinis. Sebab, apa salahnya orang miskin menggunakan dana bantuan untuk membeli makan, membayar uang sekolah, dan menebus obat?
Asumsi kelompok elite akan marah dan mendestabilisasi pemerintahan di negara berkembang yang menjalankan strategi pembangunan pro-poor mungkin saja realistis. Namun, apakah layak ikut membatasi kebijakan itu?
Sementara itu, asumsi orang miskin sama sekali tidak berinvestasi adalah sebuah ignoransi. Para pekerja kaki lima (PKL), yang rata-rata miskin, di kebanyakan negara berkembang adalah "pahlawan" yang menyediakan lapangan kerja terbesar. Juga, tanpa kampung-kampung seperti di Jakarta, kota besar tidak akan mampu menyediakan kebutuhan papan warganya. Kontribusi fantastis sektor informal bagi perkembangan ekonomi, umumnya, luput dari statistik resmi, sementara mereka digusur-gusur para birokrat korup.
Kesehatan dan Pendidikan
Bagi pembangunan, yang lebih penting daripada "investasi produktif" adalah investasi bagi human capital masyarakat miskin, terutama kesehatan dan pendidikan anak-anak. Dulu, banyak negara melakukan itu dan kini menuai hasil. Malaysia dan Korea Selatan, misalnya. Tanpa itu, berlaku "lingkaran setan". Peningkatan tenaga kerja murah akan menurunkan pendapatan yang tidak memungkinkan (anak-anak) mereka sehat dan pintar.
Dengan pertumbuhan ekonomi (termasuk pro-poor growth), kondisi itu tidak bisa diatasi. Bagi peneliti kemiskinan Michael Lipton, "kesenjangan ekstrem adalah penyebab utama terganjalnya pertumbuhan". Kemiskinan masal, menurut dia, bukan hanya akibat stagnasi ekonomi, tetapi penyebab terpenting stagnasi ekonomi itu sendiri (Pro-poor Growth and Pro-growth Poverty Reduction: Meaning, Evidence, and Policy Implications, 2000).
Bersama Eastwood, Lipton menganjurkan strategi cerdas Pro-Growth Poverty Reduction. Dalam kerangka ini, pengeluaran sosial untuk pendidikan dan kesehatan bukan biaya sia-sia, tetapi investasi produktif dan pilar kebijakan ekonomi. Cerita sukses di Brazilia, Vietnam, dan beberapa negara industri baru membenarkan analisis Lipton.
Pada tataran makroekonomi, Howard White (National and International Redistribution as Tools for Poverty Reduction, 2001) secara empiris menunjukkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lewat pemerataan. Anehnya, meski penelitiannya dibiayai Bank Dunia, namun dalam seluruh laporan Bank Dunia, temuan itu tidak dimunculkan.
Yang juga jelas, agar mampu memenuhi kewajibannya, negara miskin membutuhkan bantuan negara kaya, termasuk pemotongan utang. Tentu saja lewat persyaratan (conditionalities) demi pengurangan kemiskinan, termasuk upaya memerangi korupsi.
Yang pasti, saat kesetaraan dan persaudaraan yang berarti pemerataan belum menjadi paradigma, petaka pemiskinan masih terus berlanjut. Dari para calon gubernur Sultra, kita harapkan adanya "terobosan" penting dalam upaya melawan kemiskinan dan pemiskinan. Semoga!
IVAN A. HADAR , koordinator Nasional Target MDGs (BAPPENAS/UNDP). Tulisan ini pendapat pribadi. [Jawa Pos Online]
Spread the word
del.icio.us Digg Furl Ma.gnolia StumbleUpon Technorati Yahoo!








