October 26, 2007

HSPA Frekuensi 2,6GHz

Ericsson mengumumkan peluncuran prasarana dan platform perangkat untuk WCDMA/HSPA (High Speed Packet Access) pada frekuensi pita 2,6GHz. Perpindahan ini untuk memenuhi kebutuhan pasar yang sangat kuat dan dukungan pertumbuhan layanan pita lebar bergerak (mobile broadband) di seluruh dunia.

Peluncuran produk HSPA untuk pita frekuensi 2,6GHz menyediakan pilihan yang cepat dan aman bagi perencanaan para operator untuk menawarkan layanan pita lebar bergerak (mobile broadband) pada pita ini.

Inisiatif ini juga mengikuti oleh peningkatan minat dari para pembuat perangkat bergerak dalam meluncurkan perangkat HSPA untuk pita 2,6 GHz. Pada gilirannya, Ericsson menambahkan 2,6 GHz untuk mendukung kesuksesan keluarga platform perangkat WCDMA/HSPA dan modul pita lebar bergerak untuk penggunaan komputer notebook.

Sekarang ini lisensi baru untuk pita frekuensi 2,6 GHZ telah tersedia secara global dan solusi HSPA Ericsson untuk pita frekuensi 2,6GHz mendukung berbagai kesempatan untuk para operator untuk menciptakan pasar baru. Penyebaran HSPA pada pita frekuensi 2,6GHz juga merangsang para operator HSPA sekarang ini untuk tumbuh lebih jauh bisnis pita lebar bergerak mereka yang sudah ada ke dalam pita frekuensi yang baru, yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan prasanana yang sudah ada, menyediakan jangkauan yang lebih luas pada perangkat pengguna.

"Peluncuran produk HSPA untuk pita frekuensi 2,6 GHz mendukung ambisi Ericsson untuk mengantarkan pita lebar bergerak kemana pun, pada waktu kapan pun, dari perangkat apa pun kepada sebanyak-banyaknya orang," Vice President and Head of Product Area Radio Ericsson, Ulf Ewaldsson.

HSPA merupakan teknologi yang telah terbukti dan standar industri terdepan. HSPA telah tersebar pada beberapa pita frekuensi - termasuk 850, 1700, 1800, 1900 dan 2100MHz - dan penyebaran pada pita frekuensi 900MHz akan segera dimulai. Dukungan pada pita frekuensi 2,6 GHz membawa penghematan secara bisnis bagi HSPA, juga bagi para operator dengan lisensi 2,6 GHz dan para konsumennya.
(mth )

Sumber : Republika

Permalink • Print • Comment

October 23, 2007

4G/Next Generation Network, Operator & Tarif Seluler Murah

Jika dilihat sepintas, sepertinya operator seluler jor-joran menggelontor tarif murah untuk menelepon. Sepertinya mereka merupakan jutawan yang murah hati, mengobral tarif sampai hitungan satu perak, malah ada yang nol alias gratis.

Konsumen di Tanah Air terbuai, mereka anggap biaya menelepon-ria mereka saat ini sudah murah; atau, paling tidak, bisa tinggal pilih operator yang mau memberi harga termurah. Konsumen sepertinya tak sadar bahwa mungkin mereka berhak atas tarif yang lebih murah lagi. Konsumen mungkin juga banyak yang tidak mengerti bagaimana struktur tarif itu diciptakan, apalagi untuk bisa mengintip marjin keuntungan yang diraup dari setiap layanan mereka. Konsumen sudah happy!

Padahal masih ada celah bagi mereka untuk menikmati komunikasi dengan lebih nyaman lagi ketika tarifnya dipermurah oleh sang pemangku layanan. Murah dalam arti yang permanen, dan bukan sekadar tawaran promosi sesaat yang banyak klausul syarat dan ketentuannya. Tak heran jika ada beberapa pengamat, pakar, lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang sudah menggemakan seruan untuk menyelenggarakan telekomunikasi murah dan terjangkau untuk masyarakat. Ada yang bergerak pada tataran implementasi teknologi, ada yang menyoroti praktik kompetisi para operator.

4G Alih-alih 3G

Dalam soal adopsi teknologi yang paling efisien dan murah, dunia telekomunikasi Tanah Air menyimpan sebuah ironi. Ironi tersebut adalah adanya potensi tarif telekomunikasi murah justru datang dari generasi paling canggih dalam industri seluler, yaitu generasi keempat atau sering disebut 4G, namun implementasinya masih tertunda karena menunggu regulasi pemerintah. Sementara lisensi 3G sudah dibagikan kepada operator. Operator yang mendapatkannya pun kemudian segera menjualnya dengan harga layanan yang… mahal! Yang murah dihambat, yang mahal dibiarkan merajalela.

Potensi rendahnya biaya yang harus ditanggung oleh pengguna telepon jika mengaryakan tekonologi mutakhir ini diungkap oleh para pejuang telekomunikasi, terutama oleh Onno W Purbo. Onno aktif mengampanyekan penggunaan Next Generation Network (NGN) yang tergolong dalam teknologi 4G –yang notabene juga sudah mulai dikembangkan oleh operator seluler, yaitu XL– agar layanan seluler bisa berjalan di atas NGN tersebut.

NGN ini berbasis Internet dengan teknologi IPv6 (Internet Protocol versi 6), menyimpan fitur telepon via internet yang lebih canggih dibanding yang dulu dikenal dengan VoIP (Voice over Internet Protocol). Dulu VoIP hanya mampu melantarkan percakapan antara telepon rumahan (Public-Switched Telephon Network, PSTN) dengan telepon rumahan lainnya, atau bisa juga menggunakan terminal VoIP di komputer yang terjaring dalam Internet. Sekarang, dengan NGN, percakapan dari telepon seluler (ponsel) pun mampu dilewatkan NGN. Karena berbasis Internet, maka percakapan yang dilewatkan NGN ini jatuhnya lebih murah. Kelebihan IPv6 lainnya adalah bisa menyediakan nomor jauh lebih banyak. Sistem keamanan yang lebih baik dari versi sebelumnya, IPv4.

Untuk menghubungkan ponsel dengan jaringan NGN ini, ada dua pilihan utama, yaitu melalui WiFi (standar IEEE 802.11) dan WiMAX (standar IEEE 802.16). Dengan WiFi yang sudah banyak terdapat di berbagai spot di sekitar kita, kecepatan rata-rata bisa mencapai 11Mbps dan maksimum sekitar 54Mbps. Jauh lebih cepat dari teknologi 3G yang ada sekarang ini, yang kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 500Kbps.

Ada pula WiMAX (Worldwide Interoperability Mobile Access) yang jika diimplementasikan akan jauh lebih cepat dan lebih murah dibanding teknologi-teknologi komunikasi sebelumnya. Menurut Onno, kecepatan WiMAX maksimum sekitar 54Mbps, dan mampu untuk meng-cover sebuah kota atau Metropolitan Area Network (MAN). Yang terpenting dari teknologi WiMAX yang berstandar IEEE 802.16e ini adalah bahwa perangkatnya dapat dibawa bergerak (mobile) hingga kecepatan 200 km/jam. Dua kelebihan yang sangat membedakan IEEE 802.16 (WiMAX) dengan IEEE 802.11 (WiFi) adalah kemampuan WiMAX untuk membangun jaringan di sebuah kota dan kemampuan WiMAX untuk mobile pada kecepatan tinggi, jauh lebih tinggi daripada 3G. Sebagai catatan tambahan, saat ini dalam keluarga IEEE 802.16m terus dilakukan usaha untuk membuat kecepatan 100Mbps mobile (bergerak) dan 1 Gbps fixed wireless (posisi diam).

Bagaimana dengan investasi  untuk teknologi WiMAX ini? Pada tahun 2003-2004, base station WiMAX masih sekitar US$15.000. Namun, sekarang ini base station WiMAX sudah turun hingga harganya mencapai sekitar US$6000-an untuk fixed wireless. Memang untuk mobile wireless mungkin masih agak mahal sedikit.

Sebuah base station WiMAX dapat dengan mudah memberikan layanan pada 256 pelanggan. Jika dibandingkan dengan 3G, maka base station WiMAX ini jauh lebih murah. Jadi intinya, dari sisi investasi teknologi, WiMax jauh lebih murah dari 3G, dan dari sisi  performance jauh lebih baik daripada 3G.

Spektrum WiMAX juga lebih ekonomis dibanding 3G. Ongkos per Hertz-nya lebih murah 1000 kali lipat dibanding spektrum 3G. Ini menurut perusahaan riset Maradevis yang melaporkannya dalam “Spectrum Analysis - The Critical Factor in WiMAX versus 3G”.

Itulah mengapa permintaan untuk WiMAX lebih banyak. Lisensi yang diberikan untuk WiMAX berjumlah 1028, sementara untuk 3G hanya 276. Tahun 2006 lalu, Wimax Forum mencatat ada 720 lisensi WiMAX yang diberikan.

Amerika Utara saat ini merupakan wilayah yang paling banyak mengoleksi lisensi WiMAX dengan total 404. Sedangkan Eropa hanya mencatat 256 lisensi, Amerika Latin punya 162, Asia Pasific membukukan 135, dan Timur Tengah dan Afrika masih baru memiliki 71 lisensi.

Bukan hanya dari sisi investasi, namun dari sisi konsumen pun harga telekomunikasi akan menjadi melegakan. Menurut perhitungan Onno, dengan VoIP via WiMAX, maka biaya komunikasi bisa dipangkas banyak-banyak. Jika misalnya sebuah keluarga membayar biaya telepon 300 ribu rupiah sebulan, maka nanti akan bisa menjadi hanya 150 ribu per bulan dengan pemakaian sepuasnya. Bahkan sudah termasuk penggunaan untuk Internet!

Sumber : Pcplus

Permalink • Print • Comment

September 28, 2007

Nokia Hentikan Produksi Ponsel CDMA

Nokia menyatakan akan menghentikan produksi telepon selular (ponsel) CDMA. Produsen ponsel terbesar dunia tersebut juga tidak jadi meneruskan kerja samanya dengan perusahaan Jepang Sanyo Electric Co. yang dilakukan sejak Februari.

Perusahaan yang berpusat di Finlandia ini memandang pasar ponsel CDMA tidak terlalu besar. CDMA tidak sepopuler GSM dan hanya digunakan 25 hingga 30 persen pengguna telepon selular bergerak.

Meskipun menguasai pasar ponsel, terutama GSM, Nokia hanya bisa membuntuti produsen lain di pasar CDMA. Samsung Electronics Co. Ltd. merupakan pemegang pasar CDMA dari sisi penjualan jumlah ponsel.

Selain itu, melalui kerja sama dengan Sanyo, Nokia berusaha menghindari penggunaan chip CDMA buatan Qualcomm Inc. Namun, langkah tersebut tetap saja tidak dapat menghindarkan keduanya untuk membayar lisensi paten yang sebagain besar dikuasai perusahaan AS tersebut.

"Aturan yang dipaksakan dalam proposal perusahaan baru Nokia-Sanyo ini akan membatasi ruang gerak kami," kata Kai Oistamo, kepala unit bisnis Mobile Phone Nokia. Pangsa pasar CDMA juga makin berat mengingat ponsel GSM semakin murah.

Nokia akan menghentikan kegiatan riset dan produksi posel CDMA serta menentukan pengelolaan aset dan infrastruktur pabriknya mulai April 2007. Meskipun demikian, merek Nokia akan tetap dipakai di jajaran ponsel CDMA yang dikeluarkan ke pasar. Produksinya akan dilakukan oleh perusahaan yang dikontrak di Amerika Utara, di mana standar CDMA cukup populer.

Sumber:     reuters
Penulis:     Wah

Permalink • Print • Comment

October 3, 2007

Bakrie Telecom Calon Raksasa Baru?

Belum lama ini, PT Bakrie Telecom Tbk, perusahaan penyelenggara telekomunikasi nirkabel tetap, meluncurkan telepon seluler paling murah dengan harga kurang dari Rp 200.000. Awal pekan ini juga, perusahaan ini memenangi tender sambungan langsung internasional, sebuah agenda besar baru yang tentu tidak sekadar mencari peluang di harga layanan paling murah.

Sebuah agenda besar bagi operator yang mungkin selama ini "paling tidak dilihat" karena wilayah operasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTel) yang sempit, hanya kawasan Jawa Barat lama yang sekarang dibagi menjadi Banten, DKI, dan Jabar. Namun, sekarang tiba-tiba diandalkan banyak pihak untuk bisa menyaingi dua penyelenggara sambungan langsung internasional (SLI), yang notabene juga raksasa telekomunikasi Indonesia, yaitu PT Telkom dan Indosat.

Tantangan besar yang ada di pundak operator milik keluarga Bakrie ini sangat besar, termasuk menjadi tumpuan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan internet murah. Ini juga merupakan gagasan pemerintah, yang direalisasikan melalui sebuah konsorsium swasta dengan membangun jaringan backbone Palapa Ring timur dan barat.

Operator yang dikenal dengan produk layanan Esia ini memang sedang menggeliat dengan membuka layanan keluar kawasan Jabar itu, ke timur sampai Surabaya dan ke barat sampai Medan. BTel harus membangun infrastruktur telekomunikasi modern dan tidak boleh menggunakan infrastruktur yang sudah dibangun Telkom dan Indosat.

Dalam komitmen awal ketika melamar sebagai peserta tender SLI, BTel telah merencanakan pembangunan dalam lima tahun pertama. Pihak BTel bahkan menyanggupi akan mewujudkan pembangunan jaringan internasional selama tiga tahun sejak izin prinsip diterbitkan oleh pemerintah.

"Kami tentu menyambut gembira diberikannya kepercayaan tersebut. Namun, kami pun sadar bahwa kepercayaan ini merupakan amanah yang harus segera diwujudkan. Bagi BTel, lisensi ini bukan sekadar mendapatkan akses internasional, tetapi juga merupakan bentuk perwujudan terhadap komitmen kami untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Dalam hal ini tentu saja berupa layanan telekomunikasi yang terjangkau dan berkualitas," papar Anindya N Bakrie, Direktur Utama PT Bakrie Telecom di Jakarta seusai pengumuman tender SLI.

BTel ditetapkan sebagai pemenang seleksi penyelenggaraan jaringan tetap SLI pada 14 September dan secara resmi diumumkan pada Senin (17/9) dengan mengalahkan PT Excelcomindo Pratama Tbk dan PT Natrindo Telepon Seluler. Sekalipun tim seleksi masih membuka kesempatan kepada para peserta seleksi yang tidak merasa puas dengan hasil untuk menggunakan masa sanggah sampai dengan Jumat, 21 September.

Semula peserta seleksi yang mengikuti pendaftaran dan pengambilan dokumen seleksi pada 29 Juni lalu adalah PT Bakrie Telecom, PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Mobile-8 Telecom, dan PT Natrindo Telepon Seluler. Namun, pada tahap berikutnya, peserta yang menyampaikan jawaban dokumen seleksi pada 23 Agustus tinggal tiga peserta, di mana Mobile-8 tidak menyampaikan jawaban, tetapi surat pengunduran diri dari keikutsertaan seleksi.

Tender ini dibuat untuk menciptakan persaingan yang sesungguhnya. Untuk itu, ada syarat khusus bagi peserta, yaitu perusahaan yang tidak memiliki hubungan dengan penyelenggara SLI sebelumnya. PT Indosat dan Telkom dinilai tidak melakukan kompetisi yang sesungguhnya karena adanya kepemilikan saham silang pada keduanya.

Kerja sama

Sementara, mengenai pengembangan jaringan internasionalnya, Anindya sedang mempelajari lebih dalam apakah akan membangun sendiri atau menggandeng mitra lain dalam bentuk konsorsium. "Belum, kami masih melihat mana yang terbaik. Kami sih terbuka saja kalau ada yang mau gabung sepanjang ada komitmen yang jelas terhadap percepatan pembangunan dan mampu memberikan tarif yang terjangkau bagi pelanggan," ujar Anindya.

Menyinggung ketersambungan jaringan dengan negara tujuan internasional (Tier-1), Anindya menjelaskan bahwa pihaknya akan mengusahakan tingkat yang paling singkat. Ketersambungan ini penting karena akan berdampak pada efisiensi dan efektivitas penyaluran lalu lintas percakapan telepon internasional.

Bakrie semula berkomitmen membangun jaringan tetap sambungan internasional yang telah disampaikan dokumennya kepada tim seleksi tender SLI. Pembangunan itu terbagi dalam dua rencana, pembangunan lima tahun pertama dan rencana lima tahun kedua. Nilai investasi untuk pembangunan infrastruktur yang disediakan operator layanan telepon tetap nirkabel berteknologi CDMA ini dalam lima tahun pertama adalah sebesar Rp 222,899 miliar.

Dalam lima tahun pertama akan dibangun lima sentral gerbang internasional (SGI), yaitu di Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar, dan Medan, sebuah landing point di Batam. Saluran internasional yang dibangun akan melayani kawasan Indonesia bagian barat, yaitu wilayah Jawa, Sumatera, dan Kepulauan Riau melalui SGI Jakarta. Sedangkan SGI Surabaya akan melayani daerah di luar ketiga wilayah tersebut.

Saluran internasional yang dipilih melalui Singapura, koneksi jaringan ke backbone internet Batam-Singapura ini kemudian dihubungkan ke Hongkong, Singapura ke Amerika Serikat, dan Hongkong ke Amerika Serikat. Koneksi ke jaringan backbone internet Tier-1 di Amerika baik tingkat keterhubungan level 2 dan level 3 akan bekerja sama dengan Verizon, sebuah perusahaan pemilik cable landing station (CLS) di Singapura.

Saat ini sebuah konsorsium serat optik laut internasional Asia-America Gateway (AAG) sedang membangun jaringan dari Singapura, Malaysia, Hongkong, langsung ke Amerika Serikat melalui Guam. Masih belum jelas apakah Bakrie akan memanfaatkan jaringan yang diperkirakan sudah mulai beroperasi mulai tahun 2008.

Pada tahap kedua pembangunan lima tahunnya adalah landing point di kota Kupang dengan rute jaringan internasional menuju kota Darwin, Australia. Rencana kedua ini dilakukan dengan asumsi jaringan backbone Palapa Ring tahap I, yaitu Palapa Ring timur yang dibangun oleh sebuah konsorsium dalam negeri telah beroperasi. Untuk jaringan ini, Bakrie bekerja sama dengan Telstra Corp, perusahaan pemilik CLS di Australia.

Harapan Bakrie

Sejauh ini Bakrie Telecom memang telah menempatkan diri sebagai budget operator yang memelopori penurunan tarif percakapan telepon untuk membuka akses lebih besar terhadap layanan telekomunikasi. Anindya berharap lisensi ini akan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk memberikan keuntungan lebih pada pelanggan maupun perusahaan.

"Nantinya kami dapat mandiri dalam menggunakan jaringan pihak lain untuk menyalurkan percakapan telepon internasional. Hal ini tentunya akan berdampak pada efisiensi dan peningkatan pendapatan bagi perusahaan. Performance perusahaan akan lebih baik ke depannya," ujar Anindya

Dengan lisensi internasional ini diharapkan bisa semakin memperkuat posisinya sebagai operator telekomunikasi nasional. "Kami baru saja membuka layanan di enam kota baru di Jawa dan Sumatera. Sebentar lagi kami pun akan hadir di bagian timur Indonesia, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Lisensi ini tentunya akan memberikan pilihan dan keseriusan kami mengembangkan layanan telekomunikasi di Indonesia," tuturnya.

Perusahaan milik kelompok Bakrie ini berkembang dengan visi untuk memberikan layanan telekomunikasi dengan tarif terjangkau. "Saat ini kami mendapatkan kemampuan untuk menawarkan tarif percakapan internasional yang terjangkau sehingga masyarakat Indonesia dapat berhubungan dengan anggota keluarganya atau mendorong kemampuan perusahaan kecil dan menengah bersaing di pasar internasional. Kami yakin komitmen kami untuk membuka akses telekomunikasi yang lebih besar bagi masyarakat akan sejalan dengan langkah pemerintah untuk mempercepat peningkatan teledensitas telepon di Indonesia. Ini karena percepatan teledensitas ini merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi bangsa," paparnya.

AW Subarkah

Permalink • Print • Comment

November 9, 2007

Syarat Teknis Perangkat BWA Digodok

Oleh Arif Pitoyo

Pemerintah akan mengatur persyaratan teknis alat dan perangkat telekomunikasi pada pita frekuensi 2,3 GHz seiring rencana pemerintah memberikan insenstif lisensi BWA (broadband wireless access) di pita tersebut kepada pelaksana universal service obligation (USO).

Kabag Umum dan Humas Ditjen Postel Gatot S. Dewa Broto mengungkapkan sesuai dengan Kepmenhub No. 3/ 2001 tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi, maka setiap alat dan perangkat telekomunikasi wajib memenuhi persyaratan teknis.

"Ditjen Postel saat ini baru saja menyelesaikan tiga rancangan Peraturan Dirjen Postel yang terkait persyaratan teknis tersebut," demikian diungkapkannya melalui siaran pers.

Ketiga rancangan tersebut meliputi rancangan peraturan Dirjen Postel tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi Antena BWA Nomadic Pada Pita Frekuensi 2,3 GHz.

Selanjutnya, rancangan peraturan Dirjen Postel tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi Subscriber Station BWA Nomadic Pada Pita Frekuensi 2,3 GHz, dan rancangan peraturan Dirjen Postel tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi Base Station BWA Pada Pita Frekuensi 2,3 GHz.

Gatot mengungkapkan selain berdasarkan Kepmenhub No. 3/2001, disusunnya rancangan peraturan tersebut adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 3 Peraturan Menhub No. 10/2005 tentang Sertifikasi Alat dan Perangkat Telekomunikasi.

"Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa setiap pengujian alat dan perangkat telekomunikasi harus berda- sarkan persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Dirjen Postel," tuturnya.

Intensif

Ketiga rancangan regulasi itu sudah melampaui pembahasan yang cukup intensif dan diharapkan dalam waktu dekat akan segera ditandatangani oleh Dirjen Postel.

Secara garis besar, isi rancangan tersebut adalah alat dan perangkat telekomunikasi antena BWA nomadic pada pita frekuensi 2,3 GHz wajib memenuhi persyaratan teknis.

Selanjutnya, pelaksanaan sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi antena BWA nomadic pada pita frekuensi 2,3 GHz wajib memenuhi persyaratan teknis sebagaimana yang tercantum dalam peraturan.

Pasal-pasal yang tersebut pada rancangan peraturan Dirjen Postel tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi Subscriber Station BWA Nomadic Pada Pita Frekuensi 2.3 GHZ a.l. alat dan perangkat subscriber station broadband wireless access (BWA) nomadic pada pita frekuensi 2,3 GHz wajib memenuhi syarat teknis.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag:
Permalink • Print • Comment

September 21, 2007

Nokia 6301 - Komunikasi Ponsel Lewat VoIP

HELSINKI - Nokia berhasil meluncurkan ponsel yang dilengkapi dengan teknologi unlicensed mobile access (UMA). Seri Nokia baru ini bertajuk Nokia 6301.

Dilansir Reuters, Kamis (20/9/2007), vendor ponsel terbesar di dunia asal Finlandia ini menyatakan bahwa Nokia 6301 ini baru akan mulai dikapalkan di Eropa pada kuartal keempat tahun 2007, atau tepatnya akhir tahun ini, dengan perkiraan harga sekira USD322, sebelum pajak.

Handset UMA ini memungkinkan pengguna melakukan panggilan melalui jaringan internet (VoIP). Namun komunikasi VoIP ini dapat dilakukan jika pengguna masih berada pada cakupan jaringan wireless tanpa lisensi, seperti bluetooh dan wi-fi. Ketika mereka keluar dari cakupan tersebut maka koneksi jaringan di ponsel tersebut juga akan berpindah secara otomatis ke jaringan GSM, GPRS, atau UMTS (3G).

Nokia sudah memulai uji coba teknologi UMA ini pertama kali ini sejak bulan Juli tahun lalu. Bahkan mereka pun telah meluncurkan ponsel UMA pertama dengan seri 6086. (sar)

Ovi, Layanan Internet Ala Nokia

SINGAPURA – Hari ini Nokia memperkenalkan Ovi, nama baru bagi layanan Internet Nokia. Dengan perkenalan ini, Nokia memperluas pelayanannya dari perangkat bergerak menjadi menawarkan rangkaian layanan Internet.

Ovi, yang berarti ‘pintu’ dalam bahasa Finlandia, mempermudah konsumen mengakses jaringan sosial, komunitas dan konten dengan lebih mudah, sekaligus merupakan gerbang menuju berbagai layanan Nokia lainnya.

Sebagai bagian dari Ovi, Nokia mengumumkan Nokia Music Store dan N-Gage, dua jenis layanan yang mempermudah konsumen untuk mencari, mencoba dan membeli musik dan permainan dari sejumlah artis dan penerbit ternama, termasuk konten eksklusif yang hanya tersedia melalui pelayanan Nokia. Pelayanan lain yang ditawarkan Ovi adalah Nokia Maps, sebuah layanan navigasi yang menyediakan peta, petunjuk jalan kota yang dapat diperoleh langsung dari perangkat yang kompetibel. Nokia bertujuan untuk membawa layanan berbasis Internet kepada Ovi dalam beberapa bulan ke depan.

Berbicara pada acara Nokia Go Play di Singapura, hari ini (7/9/2007), Urpo Karjalainen, Senior Vice President, Customer & Market Operations, Asia Pasifik mempersembahkan Ovi dan layanan baru Nokia bagi konsumen, dan berbicara mengenai rencana perusahaan di masa depan sebagai perusahaan Internet: “Industri ini mengkonvergesikan pengalaman dalam menggunakan Internet dan Ovi mewakili visi Nokia dalam menggabungkan Internet dan mobilitas. Nokia merupakan perusahaan perangkat bergerak nomor satu di dunia. Melihat masa depan, kami akan memberikan berbagai perangkat yang lebih canggih, dikombinasikan dengan pengalaman menarik dan layanan, untuk mempermudah konsumen mendalami potensi Internet.

“Kami memulai perjalanan ini dengan layanan navigasi kami pada awal tahun dan kami menggabungkan seluruh layanan ke dalam satu brand – Ovi oleh Nokia. Dalam 12 bulan ke depan, anda akan melihat kami melakukan integrasi dalam new user interface elements, service suites dan komunitas web ke dalam Ovi,” ujar Karjalainen. (sar)

Oleh : Sarie Novian

Sumber : Okezone

Tag:
Permalink • Print • Comment

December 7, 2007

Makin Singset Berkat Chipset

Bukan hanya perempuan yang kepingin langsing. Telepon-telepon seluler zaman sekarang pun berlomba-lomba menjadi yang paling singset. Tentu bukan dengan sedot lemak, sabuk pelangsing, atau terapi akupunktur. Ponsel-ponsel itu bisa semakin tipis karena andil teknologi komponen-komponen pendukungnya.

"Ukuran komponen yang semakin kecil memungkinkan telepon seluler menjadi lebih tipis," ujar Djunadi Satrio, Senior Manager Product Group Marketing Sony Ericsson Indonesia. Ia mencontohkan, layar LCD yang digunakan ponsel cerdas Sony Ericsson P990i kini tergantikan oleh layar LCD pada ponsel Walkman W910i yang tebalnya hanya separuhnya.

Tentu saja, mengecilnya layar wajib diikuti oleh menciutnya ukuran kamera, baterai, papan induk (motherboard), dan komponen lainnya. Yang tak kalah penting, chipset atau otak ponsel juga harus turut mengecil. Nah, untuk urusan ini, Qualcomm adalah salah satu pengembang otak ponsel terkemuka.

Perusahaan pemilik lisensi teknologi CDMA itu memang bukan pemain baru di bidang ini. Sebut saja beberapa telepon seluler dan PDA terkenal, seperti Samsung "Dual On" SCH-W579, LG "3G for All" KU250, 02 XDA Atom Life, Dopod 838Pro, dan HTC TyTN II, semuanya menggunakan chipset Qualcomm.

Produk terbaru Qualcomm yang diluncurkan tahun ini adalah chipset tunggal untuk ponsel CDMA 2.000 1x. Chipset yang mampu melipat ukurannya hingga 50 persen dari ukuran sebelumnya itu, antara lain, QSC 6010 dan QSC 6020.

Sejatinya, sebuah handset memerlukan empat chipset yang masing-masing berfungsi sebagai modem baseband, penerima frekuensi radio, pengelola tenaga, dan sistem memori. Namun, sebuah chipset yang baru ini mampu mengintegrasikan empat blok tersebut ke dalam sekeping chipset saja.

Beberapa telepon seluler yang telah menggunakan chipset tunggal ini, antara lain, MotoFone F3C (tebalnya 9 milimeter), Samsung SCH-S259 (9,9 mm), Nexian NX-970 (10,4 mm), ZTE C300 (13 mm), Huawei C2601 (15 mm), Nokia 1325 (15,2 mm), Nokia 2505 (16,6 mm), dan LG ID-3000 (19,3 mm).

"Karena hanya memakai satu chipset, usia baterai ponsel bisa bertahan lebih lama," ujar Harry K. Nugraha, Senior Director and Country Manager Qualcomm Indonesia. Demikian pula lama waktu bicara yang juga akan ikut terkatrol.

Menurut Harry, QSC 6010 digunakan pada sebuah telepon seluler dasar (basic phone) yang fungsinya hanya untuk berbicara dan berkirim pesan pendek. Sementara itu, telepon seluler ber-chipset QSC 6020, selain memiliki fungsi dasar tersebut, dapat melakukan komunikasi data dengan kecepatan transfer hingga 153 kilobit per detik (Kbps).

Selain itu, chipset QSC 6020 menyediakan dukungan audio digital (MP3), dekoder foto JPEG, dukungan Universal Serial Bus (USB), screensaver, dan nada dering pilihan dengan kemampuan 64 nada dering polifonik.

Intinya, chipset tunggal bukan berarti meminimalkan fitur. Tak hanya membuat ponsel menjadi ramping dan seksi, chipset jenis ini juga mampu merangkum berbagai fungsi dalam satu keping chip saja.

Nantinya, tidak hanya telepon seluler CDMA saja yang bakal menggunakan chipset tunggal. Ponsel GSM pun tak mau ketinggalan menerapkannya. Bahkan nantinya, kata Harry, fungsi GPS bakal menjadi fitur standar di handset ber-chipset tunggal.

INDRA DARMAWAN | QUALCOMM

Sumber : TEMPO Interaktif

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

December 25, 2007

Uang Digital, dari Ponsel dan Kartu RFID

Oleh AW Subarkah

Pada dasarnya uang digital bukanlah pulsa meski transaksi bisa menggunakan telepon seluler, dan juga bukan kartu kredit meski bisa membayar pas. Secara maya, uang itu bisa digunakan untuk membeli barang, termasuk membeli pulsa dan membeli uang kontan.

Meski bukan yang pertama, uang digital masih fenomenal bagi negeri ini. Sementara itu, di Jepang atau di negara maju lain, atau bahkan negara seperti Filipina dan Afrika Selatan, penggunaan uang digital sudah menjadi hal yang biasa.

Dengan uang digital, orang bisa membayar tarif tol secara otomatis. Orang juga bisa berbelanja tanpa mengeluarkan uang atau kartu kredit. Semua dibayar pas dan tidak perlu takut mendapatkan pengembalian berupa uang receh atau bahkan permen.

Meski demikian, tidak mudah bagi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) untuk merintis penggunaan uang maya ini. Sebab, selain harus melakukan sosialisasi dan membangun sarana pendukungnya, perangkat hukum mengenai hal itu juga tidak kunjung disetujui wakil rakyat.

"Di Jepang berkembang karena di sana semuanya memang sudah serba elektronik, sedangkan di negara seperti Afrika Selatan lebih karena alasan keamanan, tidak perlu membawa uang ke mana-mana," kata Kiskenda Suriahardja, Direktur Utama Telkomsel, dalam percakapan dengan wartawan beberapa waktu lalu.

Pihak operator seluler ini sudah melakukan kick-off layanan baru yang mereka sebut T-Cash atau Telkomsel Cash bulan lalu. Dalam rintisan ini Telkomsel bertindak sebagai integrator, sekaligus penyedia layanan yang didukung Bank Indonesia (regulator), bank-bank sebagai penyimpan dana, dan penjual barang maupun jasa yang saat ini sudah bisa melayani adalah Indomaret dan Modern Foto.

Layanan T-Cash ini selanjutnya akan diperluas ke bidang usaha seperti supermarket, pusat perbelanjaan, angkutan umum, vending machine (mesin penjaja), rumah sakit, toko buku, restoran, dan pompa bensin.

Dompet digital

"Pada prinsipnya ada dua cara yang kami kembangkan, yaitu dengan menggunakan kartu dan aplikasi melalui telepon seluler, meskipun fokus pengembangan kami sekarang ini adalah aplikasi dengan ponsel," kata Bambang Supriogo, VP Mobile Commerce PT Telkomsel, dalam percakapan dengan Kompas, Rabu (19/12) di Jakarta.

Bambang menilai penggunaan telepon seluler saat ini lebih siap. Dengan aplikasi ini, ponsel bisa berfungsi sebagai penyimpan uang digital (mobile wallet), yaitu dengan mengombinasikan aplikasi layanan pesan singkat (SMS) dan unstructured supplementary service data (USSD), seperti halnya ketika mengecek saldo.

Sistem online ini merupakan evolusi dari layanan mobile banking. Pada layanan m-banking ini, ponsel bisa digunakan untuk melakukan berbagai transaksi perbankan sejak tahun 2000, mulai dari hanya satu bank dan sekarang sudah berkembang menjadi 35 bank.

Adapun sistem offline menggunakan cip radio frequency identification device atau RFID, baik dalam bentuk kartu maupun hanya berbentuk stiker. "Stiker bisa ditempelkan pada bagian dalam penutup baterai sehingga ponsel bisa digunakan secara online maupun offline," kata Suryo Hadiyanto, Manager Corporate Communications PT Telkomsel.

"Untuk penggunaan kartu, saat ini belum ada terminal pembaca yang memiliki spesifikasi teknis yang mampu memberikan kenyamanan bagi pelanggan," ujar Bambang. Artinya, jika banyak perusahaan mengeluarkan kartu, pengguna dikhawatirkan akan membawa banyak kartu sehingga dompet menjadi lebih tebal.

Selain itu, sekarang ini setiap kartu yang dikeluarkan sebuah perusahaan masing-masing memerlukan perangkat pembaca sendiri-sendiri, sekalipun saat ini pihak BI sedang mengusahakan agar satu perangkat pembaca bisa membaca berbagai kartu.

Kelebihan RFID terutama adalah untuk aplikasi pada jenis transaksi cepat, seperti pembayaran untuk jalan tol yang otomatis, pembayaran parkir, dan layanan cepat saji yang ramai.

Di kawasan Asia saja, seperti Hongkong, sudah digunakan Octopus Card sejak 1997 yang menggunakan teknologi RFID. Semula, layanan ini hanya digunakan untuk membayar pada angkutan massal, kemudian berkembang menjadi alat untuk membeli barang pada mesin penjaja, restoran cepat saji, dan pasar swalayan.

Di Singapura digunakan RFID pasif yang dikenal dengan nama kartu EZ-link. Layanan ini digunakan untuk membayar tarif transportasi bus dan kereta api, sedangkan untuk tol digunakan CashCard (RFID aktif). Malaysia juga melakukan hal yang sama untuk kereta api dan bahkan negeri jiran ini mengaplikasikan RFID untuk paspor warga negaranya.

Demikian pula kota seperti Seoul, Korea Selatan, sudah menggunakan kartu T-money untuk pembayaran transportasi umum sejak 1996. Jepang menggunakan super urban intelligent card (SUICa) untuk pembayaran transportasi kereta api.

RFID meluas

Secara umum, kartu RFID ada tiga jenis, berupa RFID pasif, semipasif, dan aktif. Disebut pasif karena tidak membutuhkan sumber tenaga secara khusus, menjadi aktif ketika pembaca RFID berada dekat dan memberikan tenaga listrik, sedangkan semipasif dan aktif memiliki sumber daya khusus, biasanya berupa baterai kecil.

Untuk penggunaan yang lama, seperti kartu pengenal, kartu absensi, dan pengaman barang lebih disukai jenis pasif. Sekalipun tidak memiliki baterai di dalam, arus listrik akan timbul manakala kartu didekatkan dengan pembaca RFID.

Pembaca RFID mengeluarkan sinyal gelombang radio yang menginduksi antena pada kartu RFID. Arus akibat induksi ini cukup untuk menghidupkan rangkaian terintegrasi (IC) jenis CMOS sehingga memberikan respons berupa pancaran gelombang radio.

Ini berarti antena dirancang baik untuk bisa mengumpulkan energi listrik maupun untuk mentransmisikan gelombang radio. Respons berupa nomor identifikasi yang tersimpan dalam cip umumnya cip yang bisa ditulisi EEPROM untuk menyimpan data.

Kesederhanaan jenis RFID pasif adalah rancangannya sehingga proses pembuatannya bisa melalui proses printing, termasuk bagian antena. Karena tidak ada baterai di dalamnya, bentuknya juga bisa dibuat menjadi sangat kecil sehingga bisa ditanam dalam kertas, stiker, atau bahkan di bawah kulit makhluk hidup (termasuk manusia).

Hitachi, sebuah perusahaan Jepang, pada Februari 2007 memperkenalkan RFID terkecil yang berukuran hanya 0,05 mm x 0,05 mm (tanpa antena). Hitachi u-chip ini mampu mentransmisikan nomor ID unik 128 bit. Prestasi ini merupakan perbaikan RFID pasif sebesar 0,15 mm x 0,15 mm setebal 7,5 mikrometer setahun sebelumnya.

Kelemahan dari semua jenis RFID terutama adalah pada antena yang bentuknya sekitar 80 kali lebih besar dari cipnya sendiri. Padahal, antena (dan pilihan frekuensi) menentukan seberapa jauh RFID bisa memancarkan frekuensi radio, biasanya paling jauh hanya 10 cm, selain ada juga yang bisa sampai beberapa meter.

Sedangkan untuk RFID aktif bisa sampai 500 meter sehingga banyak digunakan untuk pembayaran tol secara otomatis tanpa harus membuka kaca jendela.

Terkait dengan penggunaan frekuensi radio, penerapan RFID juga tidak lepas dari aturan itu. Hanya pada frekuensi rendah (LF) 123-134,2 kHz dan 140-148,5 kHz, maupun frekuensi tinggi (13,56 MHz), RFID bisa digunakan secara bebas tanpa perlu lisensi atau izin. Adapun pada frekuensi ultratinggi (UHF), dari 868 MHz sampai 928 MHz, tidak bisa digunakan secara global karena tidak ada standar tunggal global pada rentang frekuensi itu.

Sumber : KCM

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

January 4, 2008

Perang Tarif Terus Berlanjut

Esia Operator Pemicu

Pulsa mahal adalah masa lalu. Program customer loyalty dengan iming-iming hadiah dan poin reward juga sudah usang. Begitu pula gembar-gembor iklan layanan 3G yang canggih, sudah menghilang dari layar kaca. Sebagai gantinya, para operator itu kini bergiat mengiklankan betapa murahnya produk yang mereka jual. Di tengah semakin ketatnya persaingan di industri seluler, tarif murah dinilai sangat efektif untuk menjaring pelanggan.

Tengok saja tayangan iklan Three (3) di berbagai media massa baru-baru ini. Merek dagang yang diusung operator PT Hutchison CP Telecommunications Indonesia itu menawarkan tarif Rp 1 per menit! Artinya, tarif yang ditawarkan operator asal Hong Kong ini hanya sebesar 1,66 sen per detik. Pelanggan Three juga tak harus berhalo-halo di malam hari. Sebab, program promo ini berlangsung dari pukul 01.00 hingga 13.00 WIB. Sayangnya, program ini masih terbatas pada sesama pelanggan Three.

Perang tarif pulsa murah, sebenarnya, berawal dari PT Bakrie Telecom (BTel). Bahkan, berbeda dengan operator lain yang baru mengenakan tarif murah setelah beberapa tahun beroperasi, Esia langsung menggeber di awal operasionalnya. Lantas, seiring langkah ekspansi yang dilakukannya–setelah mendapat izin menjadi operator berskala nasional pada awal tahun ini, Esia menggenjot jumlah pelanggannya dengan promo berupa hadiah pulsa Rp 50 per menit. Hadiah itu diberikan jika pelanggan Esia ditelepon pengguna seluler GSM.

Selain itu, ada lagi program bundling (memasarkan dua produk yang masih terkait secara bersamaan) yang memasarkan kartu perdana Esia dan ponsel Huawei. Produk ini hanya dijual seharga Rp 199 ribu per unit. Menurut Deputi Presiden Direktur Bakrie Telecom Erik Meijer, saat dipasarkan pertama kali pada September silam, hanya dalam tempo sebulan sekitar 500 ribu unit HP ludes diserap konsumen.

Makanya, dalam waktu singkat, pengguna Esia pun langsung terdongkrak. Target pelanggan tahun ini sebesar 3,6 juta nomor langsung direvisi menjadi 3,7 juta kartu. Jika benar-benar terwujud, maka pangsa pasarnya akan menjadi 4,6% dari total pelanggan seluler 2007 yang ditaksir mencapai 80 juta nomor.

Lantas, bagaimana dengan tahun depan? Erik menegaskan, program bundling dan tarif murah akan tetap dilakukan. Soalnya, sampai tahun depan, Esia sudah mematok target hadir di 34 kota. Ia tak khawatir agresivitas perusahaannya–yang dengan memasang tarif murah–akan dimusuhi oleh operator dominan. "Kami hadir bukan untuk membuat operator lain senang. Tujuan kami adalah membuat konsumen senang,? tegasnya.

Strategi tarif murah juga akan dipakai oleh PT Sinar Mas Telecom (Smart). Sutikno Widjaya, Presiden Direktur PT Smart Telecom, menegaskan, hingga 31 Maret 2008, perusahaannya masih menggratiskan tarif percakapan serta hanya mengenakan tarif SMS antarpelanggan SMART sebesar Rp 25. Selain itu, operator seluler berbasis teknologi CDMA ini masih mengenakan tarif Rp 550 dan Rp 660 per 30 detik untuk percakapan lokal dan non lokal antaroperator. Manajemen SMART tampaknya tak terlalu risau kendati harus menanggung biaya supergede atas promosinya tersebut.

Padahal, operator ini sudah menghabiskan duit sebanyak Rp 3 triliun untuk membangun 600 BTS di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Tahun depan, SMART juga akan membelanjakan duit sebanyak Rp 2 triliun untuk membangun 700 BTS baru. "Sekitar 500 BTS akan difokuskan di Jawa, sisanya akan dipasang di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,? papar Sutikno. Jika semua rencana itu kelar, ia hakulyakin, pengguna Smart akan mencapai lebih dari satu juta pelanggan. (Trust//srn)

TelkomFlexi Tidak Ikutan

Kiat menghadirkan tarif murah, kelihatannya, akan diterapkan pendatang baru lainnya. PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) misalnya. Soalnya, menurut Suwito, Senior Manager Inter Carrier & Regulatory STI, hingga tahun depan, perusahaannya masih mengincar pelanggan di pedesaan, utamanya di Pulau Sumatra. Merek dagang Ceria memang baru berada di wilayah pelosok Lampung, Sumsel, Jambi, Riau, Sumut, Aceh, Bali, Lombok, Jatim, Jateng, dan Jabar.

Untuk pelanggan "ndesonya? itu, operator telepon tetap nirkabel (FWA) berteknologi CDMA ini hanya mengenakan tarif Rp 100 per menit antarsesama pengguna Ceria di satu provinsi. Sementara, tarif lintas operator yang dibanderol perusahaan milik konglomerat Putra Sampoerna itu masih sebesar Rp 350 per menit. "Tarif murah itu kami pasang karena konsumennya masyarakat pedesaan,? ujar Suwito. Ia mengakui, tarif tersebut masih disubsidi oleh STI. "Biarlah, yang penting daerah pelosok bisa lekas maju,? tuturnya.

Saat ini, total pelanggan Ceria memang masih kecil, hanya sekitar 300 ribu nomor. Sekitar 10% terkonsentrasi di sekitar tambak udang Dipasena. Tahun depan, jumlah itu ditargetkan akan bertambah mencapai 750 ribu pelanggan. Sebuah target yang terlalu muluk, jika melihat berbagai kendala teknis di lapangan yang dialami Ceria. Betapa tidak? Untuk membangun BTS misalnya, operator ini "dipalak? sejumlah pemda dengan dalih pungutan APBD. Selain itu, frekuensi 450 MHZ yang digunakan masih belum bersih lantaran bersinggungan dengan frekuensi TNI dan Polri.

Bagaimana sikap operator besar? Untuk mengimbangi agresivitas para pendatang baru itu, tahun depan, PT Telkom akan lebih fokus dalam mengembangkan TelkomFlexi. Pangsa pasar telepon FWA ini, akan digenjot dari 54% pada tahun ini menjadi 60%. Sebagai market leader, Telkom tampaknya tak terlalu risau dengan perang tarif. "Kendati tahun depan persaingan akan semakin ketat, kami tak ingin ikut-ikutan perang tarif. Kami lebih memilih untuk meningkatkan kualitas layanan,? kata Eddy Kurnia, VP Public & Marketing PT Telkom.

Terlepas dari persaingan tarif, tahun depan, industri seluler diprediksi akan tumbuh hingga 20%. Kamilov Sagala, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) melihat, dari target pelanggan sebanyak 90 juta nomor tahun depan, potensi pertumbuhan pelanggan FWA maupun seluler berteknologi CDMA akan jauh lebih pesat ketimbang GSM. "Lisensinya mudah, teknologinya tak kalah dengan GSM dan mereka bisa menawarkan tarif lebih murah,? ujarnya beralasan.

Uniknya, Kamilov menampik anggapan sejumlah operator seluler–terutama operator dominan–yang menyatakan persaingan antaroperator sudah semakin sehat. Alasannya, tarif seluler saat ini sudah kompetitif. "Apanya yang kompetitif. Itu hanya akal-akalan. Masih ada kartel yang mengenakan tarif seragam antaroperator. Saya harap, tahun depan, kami bisa menindaklanjuti masalah ini,? ucapnya ketus. (Trust//srn)

Sumber : Okezone

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment