January 4, 2008

Perang Tarif Terus Berlanjut

Esia Operator Pemicu

Pulsa mahal adalah masa lalu. Program customer loyalty dengan iming-iming hadiah dan poin reward juga sudah usang. Begitu pula gembar-gembor iklan layanan 3G yang canggih, sudah menghilang dari layar kaca. Sebagai gantinya, para operator itu kini bergiat mengiklankan betapa murahnya produk yang mereka jual. Di tengah semakin ketatnya persaingan di industri seluler, tarif murah dinilai sangat efektif untuk menjaring pelanggan.

Tengok saja tayangan iklan Three (3) di berbagai media massa baru-baru ini. Merek dagang yang diusung operator PT Hutchison CP Telecommunications Indonesia itu menawarkan tarif Rp 1 per menit! Artinya, tarif yang ditawarkan operator asal Hong Kong ini hanya sebesar 1,66 sen per detik. Pelanggan Three juga tak harus berhalo-halo di malam hari. Sebab, program promo ini berlangsung dari pukul 01.00 hingga 13.00 WIB. Sayangnya, program ini masih terbatas pada sesama pelanggan Three.

Perang tarif pulsa murah, sebenarnya, berawal dari PT Bakrie Telecom (BTel). Bahkan, berbeda dengan operator lain yang baru mengenakan tarif murah setelah beberapa tahun beroperasi, Esia langsung menggeber di awal operasionalnya. Lantas, seiring langkah ekspansi yang dilakukannya–setelah mendapat izin menjadi operator berskala nasional pada awal tahun ini, Esia menggenjot jumlah pelanggannya dengan promo berupa hadiah pulsa Rp 50 per menit. Hadiah itu diberikan jika pelanggan Esia ditelepon pengguna seluler GSM.

Selain itu, ada lagi program bundling (memasarkan dua produk yang masih terkait secara bersamaan) yang memasarkan kartu perdana Esia dan ponsel Huawei. Produk ini hanya dijual seharga Rp 199 ribu per unit. Menurut Deputi Presiden Direktur Bakrie Telecom Erik Meijer, saat dipasarkan pertama kali pada September silam, hanya dalam tempo sebulan sekitar 500 ribu unit HP ludes diserap konsumen.

Makanya, dalam waktu singkat, pengguna Esia pun langsung terdongkrak. Target pelanggan tahun ini sebesar 3,6 juta nomor langsung direvisi menjadi 3,7 juta kartu. Jika benar-benar terwujud, maka pangsa pasarnya akan menjadi 4,6% dari total pelanggan seluler 2007 yang ditaksir mencapai 80 juta nomor.

Lantas, bagaimana dengan tahun depan? Erik menegaskan, program bundling dan tarif murah akan tetap dilakukan. Soalnya, sampai tahun depan, Esia sudah mematok target hadir di 34 kota. Ia tak khawatir agresivitas perusahaannya–yang dengan memasang tarif murah–akan dimusuhi oleh operator dominan. "Kami hadir bukan untuk membuat operator lain senang. Tujuan kami adalah membuat konsumen senang,? tegasnya.

Strategi tarif murah juga akan dipakai oleh PT Sinar Mas Telecom (Smart). Sutikno Widjaya, Presiden Direktur PT Smart Telecom, menegaskan, hingga 31 Maret 2008, perusahaannya masih menggratiskan tarif percakapan serta hanya mengenakan tarif SMS antarpelanggan SMART sebesar Rp 25. Selain itu, operator seluler berbasis teknologi CDMA ini masih mengenakan tarif Rp 550 dan Rp 660 per 30 detik untuk percakapan lokal dan non lokal antaroperator. Manajemen SMART tampaknya tak terlalu risau kendati harus menanggung biaya supergede atas promosinya tersebut.

Padahal, operator ini sudah menghabiskan duit sebanyak Rp 3 triliun untuk membangun 600 BTS di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Tahun depan, SMART juga akan membelanjakan duit sebanyak Rp 2 triliun untuk membangun 700 BTS baru. "Sekitar 500 BTS akan difokuskan di Jawa, sisanya akan dipasang di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,? papar Sutikno. Jika semua rencana itu kelar, ia hakulyakin, pengguna Smart akan mencapai lebih dari satu juta pelanggan. (Trust//srn)

TelkomFlexi Tidak Ikutan

Kiat menghadirkan tarif murah, kelihatannya, akan diterapkan pendatang baru lainnya. PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) misalnya. Soalnya, menurut Suwito, Senior Manager Inter Carrier & Regulatory STI, hingga tahun depan, perusahaannya masih mengincar pelanggan di pedesaan, utamanya di Pulau Sumatra. Merek dagang Ceria memang baru berada di wilayah pelosok Lampung, Sumsel, Jambi, Riau, Sumut, Aceh, Bali, Lombok, Jatim, Jateng, dan Jabar.

Untuk pelanggan "ndesonya? itu, operator telepon tetap nirkabel (FWA) berteknologi CDMA ini hanya mengenakan tarif Rp 100 per menit antarsesama pengguna Ceria di satu provinsi. Sementara, tarif lintas operator yang dibanderol perusahaan milik konglomerat Putra Sampoerna itu masih sebesar Rp 350 per menit. "Tarif murah itu kami pasang karena konsumennya masyarakat pedesaan,? ujar Suwito. Ia mengakui, tarif tersebut masih disubsidi oleh STI. "Biarlah, yang penting daerah pelosok bisa lekas maju,? tuturnya.

Saat ini, total pelanggan Ceria memang masih kecil, hanya sekitar 300 ribu nomor. Sekitar 10% terkonsentrasi di sekitar tambak udang Dipasena. Tahun depan, jumlah itu ditargetkan akan bertambah mencapai 750 ribu pelanggan. Sebuah target yang terlalu muluk, jika melihat berbagai kendala teknis di lapangan yang dialami Ceria. Betapa tidak? Untuk membangun BTS misalnya, operator ini "dipalak? sejumlah pemda dengan dalih pungutan APBD. Selain itu, frekuensi 450 MHZ yang digunakan masih belum bersih lantaran bersinggungan dengan frekuensi TNI dan Polri.

Bagaimana sikap operator besar? Untuk mengimbangi agresivitas para pendatang baru itu, tahun depan, PT Telkom akan lebih fokus dalam mengembangkan TelkomFlexi. Pangsa pasar telepon FWA ini, akan digenjot dari 54% pada tahun ini menjadi 60%. Sebagai market leader, Telkom tampaknya tak terlalu risau dengan perang tarif. "Kendati tahun depan persaingan akan semakin ketat, kami tak ingin ikut-ikutan perang tarif. Kami lebih memilih untuk meningkatkan kualitas layanan,? kata Eddy Kurnia, VP Public & Marketing PT Telkom.

Terlepas dari persaingan tarif, tahun depan, industri seluler diprediksi akan tumbuh hingga 20%. Kamilov Sagala, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) melihat, dari target pelanggan sebanyak 90 juta nomor tahun depan, potensi pertumbuhan pelanggan FWA maupun seluler berteknologi CDMA akan jauh lebih pesat ketimbang GSM. "Lisensinya mudah, teknologinya tak kalah dengan GSM dan mereka bisa menawarkan tarif lebih murah,? ujarnya beralasan.

Uniknya, Kamilov menampik anggapan sejumlah operator seluler–terutama operator dominan–yang menyatakan persaingan antaroperator sudah semakin sehat. Alasannya, tarif seluler saat ini sudah kompetitif. "Apanya yang kompetitif. Itu hanya akal-akalan. Masih ada kartel yang mengenakan tarif seragam antaroperator. Saya harap, tahun depan, kami bisa menindaklanjuti masalah ini,? ucapnya ketus. (Trust//srn)

Sumber : Okezone

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

February 10, 2008

Tonjolkan Dual On atau TV Plus Plus


Ponsel Merk Lokal Berlomba Pikat Konsumen
Makin banyak ponsel bermerek lokal yang beredar di pasar. Ponsel yang sebenarnya diproduksi di Tiongkok itu berusaha memikat konsumen dengan beragam jurus. Salah satunya, menonjolkan fitur unik yang belum dimiliki merek populer seperti Nokia dan Sony Ericsson.
———-

StarTech ST67, misalnya. Memungkinkan dua nomor GSM siaga sekaligus merupakan fitur unggulan ponsel itu. Layar sentuh TFT 2,4 inci 65 ribu warna, bluetooth, GPRS, MMS, slot microSD, dan pemutar audio video adalah spesifikasi lain ST67.

Kamera 1,3 megapiksel ST67 tergolong kurang mengesankan. Posisi tombol End/No-nya yang tidak lazim, tepat di tengah tombol navigasi yang pada kebanyakan ponsel bermakna Ok/Select, membuat pengguna baru ST67 harus membiasakan diri. Kendati harga resminya dipatok Rp 1,499 juta, gerai-gerai ponsel menjual ST67 di rentang harga Rp 1,45-1,475 juta.

Sama dengan ST67, D-One DM289 menonjolkan kemampuan dual online. Sebagai ponsel dual mode dual online, dua nomor yang bisa aktif sekaligus di DM289 terdiri atas satu nomor GSM dan satu nomor CDMA. GSM-nya kompatibel dengan semua operator di tanah air, sedangkan CDMA-nya bisa dipadukan dengan TelkomFlexi, StarOne, Esia, dan Fren Mobile-8. Layanan operator CDMA Smart tak bisa dinikmati karena mode CDMA DM289 hanya bisa beroperasi di frekuensi 800 MHz. Padahal, Smart memanfaatkan rentang frekuensi 1.900 MHz.

Ponsel yang tampilan fisik dan fiturnya sama persis dengan Taxco DM70, kecuali lain merek ini, dibekali layar TFT 262 ribu warna. GPRS, MMS, perekam suara, buku telepon berkapasitas seribu nama, dan slot microSD merupakan beberapa fitur ponsel tersebut.

Untuk membantu pengguna menyaring panggilan masuk, tersedia fitur call guard yang dapat dioptimalkan. Folder SMS maupun nada dering antara nomor GSM dan CDMA bisa dibedakan. Namun, untuk alert SMS, pengguna tak bisa membedakannya. Satu alert berlaku untuk nomor GSM maupun CDMA.

Dengan memanfaatkan kabel data yang disertakan dalam paket penjualan, pengguna bisa mentransfer file MP3, lalu memanfaatkannya sebagai nada dering telepon. Sedangkan untuk alert SMS, puas atau tidak, pengguna wajib memilih satu di antara sepuluh pilihan. Tak ada peluang untuk memperbanyak pilihan alert SMS.

Ketiadaan bluetooth dan inframerah menjadi sisi kurang menarik DM289 yang dibanderol Rp 1,999 juta ini. Kinerja kamera 1,3 megapikselnya juga belum layak disebut memuaskan.

Bagaimana dengan Taxco TX80? Ponsel itu tidak dual online seperti ST67 dan DM289. Paduan antara layar lebar berpelindung, analog tv tuner, perekam siaran radio, dan puluhan game menjadi nilai lebih TX80.

Layar sentuhnya sanggup menghadirkan hingga 262 ribu warna. Tidak seperti mayoritas layar sentuh ponsel bermerek lokal, layar TX80 dilapisi pelindung. Bayangkan saja kerasnya layar ponsel biasa, namun yang ini touch screen, bukan ala layar sentuh personal digital assistant (PDA) dan sebagian ponsel yang terasa lunak kala disentuh. Di layar berukuran 2,8 inci itulah, pengguna bisa menyaksikan siaran televisi dengan gratis atau memainkan 36 game yang telah diinstalasikan.

Kemampuan mendengarkan siaran radio FM tanpa harus menancapkan handsfree plus merekam radio secara terjadwal menjadi sisi menarik lain TX80. Fitur lain ponsel berharga jual Rp 1,899 juta itu, antara lain, bluetooth, pemutar audio video, nada dering MP3, dan slot microSD.

Satu hal yang mutlak digarisbawahi, di iklan media cetak ponsel itu disebut berkamera 1,3 megapiksel. Kenyataannya, pilihan ukuran terbesar di menu TX80 hanya 640 x 480 piksel atau setara dengan 0,3 megapiksel. (Herry S.W.)

Sumber : Jawa Pos dotcom

Tag:
Permalink • Print • Comment